Malam ini Aca merasa ada yang tidak biasa dari tingkah laku Djindra. Awalnya tidak ada yang aneh, suaminya itu tetap menjemput dirinya dari galeri seperti biasanya. Namun ketika mereka sudah tiba di rumah, barulah tingkah aneh itu semakin terlihat oleh Aca.
Aca yang bersiap melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri, namun lengannya di cekal lebih dulu oleh sang suami. Lantas dengan entengnya Djindra menyerahkan sebuah paper bag hitam dan meminta Aca untuk segera bersiap.
Meski penasaran, Aca pun hanya bisa menurut dan mengikuti keinginan suaminya. Dan begitu tahu isi dari tas itu adalah sebuah gaun, rasa penasaran itupun tidak bisa di bendung lagi.
"Persis seperti yang aku bayangkan. Kamu terlihat cantik saat memakai itu sayang.." senyum sumringah Djindra mengembang dengan sempurna, ketika melihat penampilan istrinya.
Aca menuruni tangga dengan anggun. Gaun putih panjang yang menjuntai tetap terlihat menawan, meski harus menyapu lantai.
"Sebenarnya kita mau kemana mas.. kenapa harus berpakaian seperti ini?" berdiri tepat di hadapan suaminya yang tampan, sesaat membuat Aca terpesona.
Setelan jas berwarna hitam, dengan kemeja putih yang sedikit terbuka dan terlihat begitu kontras. Walau sudah sering kali melihat Djindra berpakaian formal. Entah kenapa Aca merasa malam ini, aura yang di pancarkan oleh suaminya itu begitu memikat.
"Nanti kamu juga akan tahu sayang.." sambil sedikit membungkuk sebuah kecupan Djindra berikan pada salah satu tangan istrinya.
"Jadi.. kita berangkat sekarang, nyonya Wiratama?"
Walau cukup terkejut dengan perlakuan yang di berikan oleh suaminya. Tapi tidak bisa dipungkiri Aca juga merasa senang karenanya.
'Sudahlah ikut saja dulu. Siapa tahu memang ada acara perjamuan makan malam dengan rekan bisnis. Tapi kenapa mas Djindra tidak membawa supir atau meminta Tommy untuk mengantar?'
Butuh waktu paling tidak satu jam lamanya Djindra berkendara hingga akhirnya sampai di tujuan. Dan benar apa yang dipikirkan oleh Aca tadi, kalau mereka akan pergi ke jamuan bisnis. Karena tempat yang ada di hadapan Aca adalah sebuah hotel mewah, sama seperti hotel Diamond milik suaminya.
Namun ketika Aca menginjakkan kakinya di lantai restoran yang berada satu gedung dengan hotel, suasananya kembali membuat wanita itu keheranan. Restoran ini seharusnya bukan restoran hotel yang biasa di datangi tamu untuk sarapan ataupun makan malam. Tapi kenapa sepi?
"Kenapa kosong? Lantas jamuannya ada di sebelah mana?" Aca bergumam seraya melangkahkan kakinya mengikuti bimbingan dari Djindra.
"Ayo sayang.. kita duduk." dengan gerakan lembut, Djindra menarikkan kursi untuk istrinya.
Dalam kebingungan, Aca hanya bisa menuruti kata-kata dari suaminya. Tapi beberapa pertanyaan terus berputar dalam benak Aca. Kenapa mereka berdua ada disini? Lalu kenapa restoran mewah, tapi kondisinya kosong tidak ada pengunjung? Dan kenapa dekorasinya seperti ada acara spesial disini?
Restoran yang berada di rooftop ini terlihat sepi sekaligus cantik di saat bersamaan. Hanya ada satu meja yang ada disana. Dan meja itu adalah yang saat ini di tempati oleh Aca bersama suaminya.
Suasana ini mengingatkan Aca pada momen pertama kali dia makan malam bersama dengan Djindra dulu.
Mata Aca terus berkeliling setiap sudut restoran, mencoba mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya. Tapi semakin mencoba, semakin tidak ketemu jawabannya. Dan itu membuat Aca kesal sendiri.
"Sayang.. ayo di makan. Apa kamu tidak suka sama makanannya? Kenapa cemberut seperti itu, humh?"
Djindra menatap heran ke arah istrinya. Aca menekuk kedua tangannya di depan dada, dan menatap datar ke arah Djindra. Jelas itu sebuah tanda bagi Djindra, bahwa wanita di hadapnnya ini sedang kesal. Tapi kenapa?
KAMU SEDANG MEMBACA
CINTA DAN BENCI || JINSOO
RomanceTerdapat konten dewasa (21+) dan mengandung unsur kekerasan,, harap bijak dalam membaca. Dua orang dengan karakter berbeda,, latar belakang dunia yang berbeda pula. namun mereka di pertemukan dalam sebuah perjodohan. akankah mereka pasrah menjalani...
