🪐 C&B 95

388 38 10
                                        


Seminggu sudah Aca dan Djindra keluar dari rumah sakit. Dan selama itu mereka tinggal untuk sementara di mansion keluarga Wiratama, hal itu atas permintaan langsung dari Djoena dan Satria. Lantas kenapa keduanya tidak tinggal atau pulang ke apartemen ataupun ke mansion keluarga Wijaya? 

Ada beberapa pertimbangan terkait hal itu. Jika keduanya pulang ke apartemen itu akan cukup sulit di jalani, mengingat keduanya baru saja mengalami kejadian berbahaya yang membuat mereka berada di rumah sakit. Jelas kalau di apartemen sama artinya mereka hanya berdua saja, akan susah baik Djindra maupun Aca jika tanpa bantuan dari orang lain. Dan mengenai kediaman keluarga Wijaya adalah opsi yang sangat tidak di sarankan untuk keduanya, khususnya Aca. Salah satu pertimbangannya adalah bunda Anita yang sampai saat ini tidak mengetahui kondisi dari putrinya. 

Setelah cukup beristirahat dan memulihkan kondisi, hari ini Djindra memulai aktifitasnya dengan kembali bekerja. Sementara Aca belum ada niatan untuk kembali datang ke galeri karena di rasa tidak ada situasi yang mendesak, toh segala pekerjaan di galeri sudah di atasi oleh dua asistennya. 

Memikirkan ingin pergi kemana, tiba-tiba ingatan Aca membuat senyum cerah muncul di wajahnya. Ingatannya membawa kepada sosok adik sepupunya Sovia yang masih berada di Indonesia. 

Benar Sovia masih ada di negara ini, karena wanita itu ingin melahirkan disini. Mengingat Sovia sudah tidak ada ibu, dan pihak suaminya juga tidak ada keluarga jadi mereka memutuskan untuk melahirkan anak pertama mereka disini. Dan kelahiran itu baru saja terjadi dua hari yang lalu, Sovia dan Joenathan di karuniai anak laki-laki sebagai putra pertama. 

"Mbak.. aku berangkat dulu ya.. Dan kemungkinan aku mau nginap disana, kangen soalnya." pamit Aca kepada kakak iparnya Mytha yang duduk santai di ruang keluarga. 

"Eoh.. kamu sudah pamit sama Djindra kan? Mbak sih gak masalah kok." Mytha berdiri menghampiri Aca, dia sudah tahu tentang rencana adik iparnya yang akan pergi ke rumah orang tua. 

Mendengar itu Aca hanya bisa mengangguk saja. Bagaimana mau berpamitan kalau komunikasi antara Aca dan Djindra sedang tidak lancar. Meski sudah kembali bersama dan berada di kamar yang sama, tapi keduanya sama sekali tidak ada komunikasi. Baik Djindra maupun Aca sama-sama masih bingung harus bersikap  seperti apa. 

Tapi meski begitu Aca masih menjalankan kewajibannya sebagai istri dengan menyiapkan keperluan Djindra yang akan bekerja. Hanya saja hal itu dilakukan tanpa adanya interaksi sama sekali. Satu-satunya interaksi terjadi ketika keduanya berada bersama dengan kakak dan kakak ipar mereka, agar Djoena dan Mytha tidak mencurigai apapun. 

"Ya sudah kamu hati-hati ya.. Mbak titip salam untuk keluarga disana. Nanti kalau mas Djoena sudah gak repot, mbak akan jenguk baby nya Sovia. Sana berangkat, kamu udah di tunggu sama Tommy di depan tuh." Dengan senyum lembut Mytha melepas adik iparnya pergi. 

Aca yang mendengar Mytha menyebut Tommy seketika tersenyum kecut. Sosok yang memang pada akhirnya tidak akan bisa Aca hindari, karena kemanapun pergi Tommy akan selalu berada di sampingnya. 

Aca sudah duduk manis di bangku penumpang dengan Tommy yang memegang kendali mobil. Perlahan mobil pun mulai berjalan meninggalkan kediaman Wiratama menuju kediaman Wijaya. Namun Aca teringat kalau dia belum membelikan hadiah untuk kelahiran bayi Sovia. 

"Tom.. bisa antar ke mall terlebih dahulu, kebetulan saya belum beli hadiah." Tommy pun mengangguk mengiyakan. 

Sesampainya di mall yang di tuju, Aca segera ke butik perlengkapan bayi yang ada disana. Aca yang merasa gemas membeli begitu banyak barang keperluan untuk baby new born. Namun ketika berada di depan kasir untuk membayar belanjaannya, Aca merasa ada yang sedikit aneh dengan kartu miliknya. Warna kartunya memang sama, tapi entahlah Aca merasa ada yang berbeda. 

CINTA DAN BENCI || JINSOOCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang