Sudah dua hari Djindra pergi ke Surabaya, ia tidak pergi sendiri melainkan bersama dengan Tian. Suami dari Aca itu pergi kesana karena ada urusan pekerjaan yang tidak bisa diwakilkan oleh orang lain.
Sementara itu Aca sendiri yang di tinggalkan tidak mau ambil pusing, karena itu sudah resiko dari pekerjaan. Tapi yang ada Aca justru merasa senang, karena dengan kepergian suaminya ia bisa menjalankan rencananya dengan tenang.
Rencana yang dimaksud bukan bertujuan buruk melainkan niat baik yaitu mengadakan pemeriksaan kesehatan untuk panti asuhan. Kegiatan itu sendiri bukan hal baru, justru itu merupakan kegiatan rutin yang Aca selenggarakan setiap 3 bulan sekali. Biasanya ia akan di bantu dua orang sahabatnya yakni Nalya dan Hera, namun kali ini hanya Hera yang bisa karena kondisi Nayla tidak memungkinkan.
Entah seolah di beri jalan atau apa, niatnya untuk datang ke panti asuhan diam-diam dibelakang suaminya seolah diberi kelancaran. Sampai kemarin Aca masih bingung akan memberikan alasan apa kepada Tommy untuk mau ia ajak ke panti tanpa memberitahu pada suaminya. Tapi tiba-tiba hari ini Tommy ijin karena harus mengantarkan orang tuanya yang sedang sakit ke dokter.
"Ca.. kamu yakin tetap berangkat ke panti hari ini? Kalau kak Djindra tahu gimana?" Sambil mengendarai mobilnya, ia bertanya dan memastikan tentang keputusan Aca.
"Gak bakal tahu mbak, kalau gak ada yang memberitahu dia. Mbak Hera gak usah khawatir tenang aja, kalau memang ketahuan itu nanti jadi urusanku."
Aca berangkat ke panti dengan menggunakan mobil Hera, karena mobilnya ia minta untuk digunakan Tommy. Awalnya Tommy menolak, namun Aca memaksa dan memberikan alasan bahwa ia hari ini tidak akan pergi kemanapun serta keperluan Tommy jauh lebih mendesak.
Hera dan Aca saat ini sedang dalam perjalanan menuju suatu mall sebelum menuju ke panti. Seperti biasa jika Aca berkunjung ke panti ia tidak akan datang dengan tangan kosong, segala keperluan panti akan ia beli. Meski tidak diminta dan dapat dipastikan kedua abangnya juga masih rutin memberi kebutuhan panti, tapi Aca tetap melakukannya. Bahkan Aca juga membeli jajanan yang biasanya di sukai oleh adik-adik panti.
Sesampainya di mall Aca dan Hera langsung menuju ke supermarket yang ada disana. Tidak membutuhkan waktu lama bagi keduanya untuk berbelanja, masing-masing dari mereka mendorong dua troli yang terisi penuh ke arah kasir untuk membayar.
Baik Aca dan Hera memutuskan untuk tidak lansung pergi, mereka justru memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu di mall itu. Meski waktu masih menunjukkan pukul sebelas siang, tapi mereka berdua sudah memperhitungkan segalanya termasuk waktu yang harus di tempuh dalam perjalanan ke panti.
Saat sedang menikmati makan siangnya, Aca dikejutkan oleh sebuah suara yang tengah memanggil namanya. "Kak Daniel."
"Hay.. sudah lama kita tidak bertemu Ca. Boleh aku duduk?" Aca pun menganggukkan kepalanya, saat ini ia tengah sendiri karena Hera sedang pergi ke toilet.
"Kamu apa kabar Ca? Tapi kalau di lihat dari penampilan, kamu terlihat baik-baik saja." Daniel mulai berbasa-basi sesaat setelah ia duduk dihadapan Aca.
"Aku baik kak, kak Daniel sendiri gimana? Oh ya.. tumben ada di mall? bukannya ini masih jam kantor ya."
"Kebetulan aku ada pertemuan dengan seorang klien di salah satu resto disini. Aku juga gak sendiri, ada asistenku yang masih di toilet. Ehmm.. maaf ya Ca, waktu kamu menikah aku gak bisa datang. Kebetulan saat itu aku di haruskan terbang ke Cina. Tapi kamu gak perlu khawatir, aku sudah menyiapkan kado buat kamu nanti aku kirim ke galeri ya."
Walau wajah Aca tersenyum, tapi ia merasa tidak enak dengan ucapan Daniel. "Tidak perlu repot kak, kak Daniel mengucapkan selamat saja aku sudah berterima kasih."
KAMU SEDANG MEMBACA
CINTA DAN BENCI || JINSOO
RomanceTerdapat konten dewasa (21+) dan mengandung unsur kekerasan,, harap bijak dalam membaca. Dua orang dengan karakter berbeda,, latar belakang dunia yang berbeda pula. namun mereka di pertemukan dalam sebuah perjodohan. akankah mereka pasrah menjalani...
