🪐 C&B 7

721 28 0
                                        

Kantor JD Diamond

Sementara Djindra di kantornya tengah di sibukkan dengan banyak rapat dan berkas yang menumpuk. Begitu banyak proyek baru anak perusahaannya dan cabang-cabang perusahaan yang berada di luar negeri,, sehingga mau tidak mau dia harus membagi tugas antara dia dan James yang juga menjadi asistannya di kantor.

"Kak J.. " sapa James yang masuk ke ruangan Djindra sambil membawa beberapa berkas.

"Hmmm... ada apa" jawab Djindra yang masih fokus memeriksa beberapa berkas yang ada di hadapannya sebelum ia tanda tangani.

"Kak... aku tadi sudah cek berkas ini dan aku juga sudah konfirmasi ke kak Joenathan dan kak Nick,, sepertinya ada sedikit masalah kak.. coba kak J lihat dulu,, Brian dan Simon juga mengatakan hal yang sama seperti yang aku temukan ini kak.. " ucap James sambil menyerahkan berkas yang ia bawa, ia takut apa yang ia khawatirkan benar adanya.

"Apa-apaan ini James,, bukan kah ini cabang yang di bawah pengawasan langsung Joenathan dan Nickholas.. kenapa mereka bisa kecolongan seperti ini.." Djindra marah sambil terus membaca berkas yang di berikan James.

"Ehmm... kak menurutku mereka tidak tau soal ini,, karena yang menemukan ini adalah Brian dan Simon, lalu mereka melaporkannya dan mengirimnya kepada kita,, tapi ada yang membuatku sedikit heran kak.. "

"Apa itu... Apa kau menemukan hal yang aneh lagi James.." ucap Djindra sambil memicingkan mata melihat ke arah James.

"Ya kak.. aku merasa aneh saja kak.. padahal mereka berada di cabang dan negara yang berbeda, tapi kenapa temuan mereka sama,, bahkan pola yang di pakai pun mirip.. munginkah ini di lakukan oleh orang yang sama kak.." James mencoba mengutarakan pendapatnya bahwa ada yang mencoba untuk membuat rugi perusahaan bosnya.

Djindra yang mendengar penjelasan dari James mencoba membaca Kembali berkasnya dan sedikit meneliti lebih detail, dan akhirnya Djindra pun menemukan hal yang sama seperti yang dikatakan James,, bahkan ia pun bisa menarik kesimpulan ada yang mencoba korupsi dalam sekala yang cukup besar di kedua cabang perusahaannya itu. Djindra yang tampak kesal mencoba menghubungi kedua sahabatnya itu.

Tuutt... Tuutt..

Djindra

"Haloo.. kau dimana Joe.."

Joenathan

"Ya hallo kak J... aku masih di kantor... apa kau sudah mendapat laporan dari James.."

Djindra

"hmm... bagaimana kau bisa kecolongan Joe.. apa kau sudah menemukan siapa orang yang mencoba korupsi"

Joenathan

"ehmm.. sedang aku selidiki kak.. aku dan Nick mencurigai seseorang kak.. Brian dan Simon pun sudah aku tugaskan untuk mengawasi gerak-gerik orang itu"

Djindra

"aku mau dalam dua hari sudah ada hasilnya Joe.. dia sudah mencoba bermain-main denganku.. minggu depan pernikahan Yuda Joe.. aku tidak mau hanya karena masalah kecil seperti ini kalian tidak bisa hadir ke acaranya.. "

Joenathan

"ehmm.. ya kak J akan aku infokan hasilnya sesegera mungkin kepadamu kak,, kau tenang saja.. akan kupastikan segala sesuatunya beres kak.."

Djindra

"ehmm... baiklah aku percaya padamu Joe.. ya sudah aku tutup dulu"

"Apa aku ada jadwal setelah ini James.. " Djindra bertanya sambil memijit kedua pelipisnya. ia merasa lelah dan pusing kepalanya dengan masalah yang terjadi.

"Kalau untuk kantor,, ada satu rapat lagi nanti kak setelah makan siang,, ehmm.. kak apa kau sudah mendapatkan info dari Tian.. " James mencoba berkata sepelan mungkin, ia tau bos yang sudah dianggap kakaknya sendiri ini sudah cukup menghadapi banyak masalah hari ini.

"Tentang apa.. apa maksudmu tentang transaksi dengan tuan Alex.. kalau soal itu,, setelah pulang kantor kita langsung ke markas.. kita bahas disana nanti"

"Kalau begitu aku kembali keruangan ku dulu kak.. kalau ada apa-apa kau bisa memanggilku.." pamit James,, Djindra hanya membalas dengan menganggukkan kepalanya.

***

Perusahaan Wiratama

"Djoen... kau yakin adikmu mau di jodohkan.. sepertinya aku tidak yakin kalau melihat sifatnya.."

"Aku tau Wir... aku juga mengenal adikku dengan baik.. tapi mau tidak mau dia harus terima.. aku sudah merasa cukup kewalahan dengan tingkahnya.. dan mami selalu saja membicarakan tentang pernikahan terus di rumah.." Djoena menghela nafasnya sebentar, dia sudah tau sebenarnya jawaban apa yang akan ia terima tentang ide perjodohan ini.

"Apa mami sudah kau beritahu tentang ide perjodohan ini.. dan apa kau yakin keluarga Satria akan menerima begitu saja, kita sama-sama kenal Satria Djoen, dia bisa dan punya kuasa untuk menyelidiki atau mencari tau tentang Djindra.. pasti dia tidak mau begitu saja menyerahkan adik perempuan satu-satunya. "

"Kalau soal mami, mami pasti setuju dan senang dengan ide ku ini.. tapi kalau soal Satria, aku sadar dan tahu betul soal kemampuan Satria,, dan yang kau ucapkan itu pasti akan terjadi,, tapi aku hanya berharap Satria punya pertimbangan lain tentang perjodohan ini.." ucap Djoena sedikit pesimis.

Sedangkan Wirya hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju tentang pendapat Djoena mengenai Satria, karena mereka sudah bersahabat sejak bangku sekolah. Dulu mereka berempat merupakan sahabat akrab yang kemana-mana selalu bersama dan saling menjaga satu sama lain. Wirya Djoena Satria dan Henry adalah sahabat yang sudah seperti keluarga sendiri, begitu dekatnya mereka hingga akhirnya Wirya dan Henry memutuskan untuk membantu kedua sahabatnya menjalankan perusahaan keluarga.

Wirya ikut dengan Djoena sedangkan Henry ikut dengan Satria. sampai detik ini bahkan sampai mereka mempunyai keluarga masing-masing pun persahabatan mereka masih tetap bertahan tanpa dilekang oleh waktu.

"Oh ya Djoen... aku mendapatkan info dari anak buah kita, sepertinya adikmu itu sedang menghadapi masalah di dua cabang perusahaan yang di pegang oleh ke dua sahabatnya, katanya ada yang mencoba untuk korupsi.."

"Apa cukup serius dan berat.. cabang yang mana yang kau bicarakan.. " tanya Djoena ia sedikit heran kenapa adiknya bisa kecolongan masalah seperti ini.

"Cabang yang di pegang Joenathan dan Nickholas.. aku rasa kita tidak perlu khawatir tentang kemampuan Djin.. buktinya yang aku dengar mereka sudah menemukan orang yang melakukan itu,, mungkin tinggal menunggu waktu eksekusi saja.." ucap Wirya cukup yakin dengan kemampuan adik dari sahabatnya itu.

"Hmm.. kau mau ikut dengan ku Wir.. kita makan siang dirumah,, aku akan bicarakan tentang perjodohan ini sesegera mungkin dengan mami dan papi.."

"Boleh.. lagi pula aku juga sudah lama tidak bertemu dengan mami dan papimu.. kita berangkat sekarang,, walau masih ada Waktu setengah jam lagi sebelum makan siang.." ajak Wirya.

"Ah.. nanti dulu Wirya, bukan kah kita masih ada rapat setelah makan siang, apa kau keberatan kalau kita majukan rapatnya sekarang. Ya sekali - sekali terlambat makan siang tidak masalah kan. supaya kita punya banyak waktu di rumah nanti." ucap Djoena mencoba menawarkan sarannya.

"Baiklah kalau itu mau mu, akan aku katakan pada sekretarismu untuk menyiapkan dan memajukan jadwal rapat kita. bukan kah kita juga hanya rapat di kantor, dengan para kepala divisi saja kan. Aku rasa mereka juga tidak keberatan untuk sedikit menunda makan siang mereka demi pekerjaan." ucap Wirya kemudian berdiri dan berjalan keluar ke meja sekretaris untuk mengatur sesuai kemauan Djoena.

Djoena yang melihat Wirya berjalan keluar dari ruangannya pun tampak merenungkan sesuatu. Ia harus segera membicarakan masalah perjodohan ini dengan kedua orang tuanya, tidak boleh di tunda lagi pikirnya. Agar nanti ketika mendapat jawaban dari keluarga Wijaya, ia sudah siap bersama keluarganya.

Entah mengapa Djoena sangat yakin kalau sahabatnya Satria itu akan mau menerima ide perjodohan ini. Kalau memang itu terjadi semoga semuanya akan berjalan dengan lancar, dan dia juga berharap adiknya itu akan menjadi lebih bertanggung jawab setelah memiliki keluarga nanti.

*******

CINTA DAN BENCI || JINSOOCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang