Terdapat konten dewasa (21+) dan mengandung unsur kekerasan,, harap bijak dalam membaca.
Dua orang dengan karakter berbeda,, latar belakang dunia yang berbeda pula. namun mereka di pertemukan dalam sebuah perjodohan. akankah mereka pasrah menjalani...
"Ca.. kita pesan makan dulu aja ya.. Tunangan mbak masih di jalan habis rapat." ucap Nayla sambil melihat menu makanan yang akan mererka pesan.
Sambil menunggu calon suami Nayla datang, mereka berdua banyak bertukar cerita. lebih tepatnya Nayla yang banyak cerita, dari mulai awal ketemu dengan pasangannya sampai akhirnya memutuskan untuk menikah, konsep pernikahan impian Nayla, desain perhiasan dan cincin pernikahan yang di inginkan seperti apa. karena terlalu asik bercerita, sampai-sampai mereka tidak menyadari kalau mejanya di datangi oleh seseorang.
"Sayang.. maaf ya lama,, soalnya tadi baru saja selesai rapat langsung kesini.."
"Oh mas dah sampai.. gak apa-apa kok mas kita gak berasa kok nunggunya soalnya sambil ngobrol.. oh ya mas kenalin ini Aca, dia anak dari pasien aku tapi sudah aku anggap kaya adik sendiri,, dia juga yang akan ngerancang cincin nikah kita.. Ca kenalin ini calon suami mbak,, Namanya mas Yuda.. " ucap Nayla dan mengenalkan mereka satu sama lainnya. ya yang akan menikah dengan Nayla adalah Yuda Mahendra, tidak lain adalah sepupu dari Djindra.
"Halo mas.. kenalkan saya Aca.." ucap Aca sambil berjabat tangan dan tersenyum manis.
"Hallo juga.. saya Yuda, kita ketemu lagi"
"loh ternyata mas Yuda udah kenal sama Aca.. " tanya Nayla sambil menatap keduanya bergantian.
"kenal sih belum tapi kita pernah ketemu.. mungkin Aca nya lupa." jawab Yuda, sedangkan Aca hanya menggelengkan kepalanya karena merasa belum pernah bertemu sebelumnya, atau memang benar kalau Aca lupa.
Setelah selesai makan siang.. mereka mulai membahas tentang kosep desain cincin pernikahan. Aca terus mencatat semua konsep yang diinginkan pasangan tersebut ke dalam tabnya dan sesekali sambil menunjukkan beberapa desain cincin yang dia punya,, agar pasangan yang berada di depannya ini mempunyai gambaran yang lebih luas. mereka banyak diskusi dan tukar pikiran disana. Semua dijelaskan oleh Aca secara perlahan dan terperinci, agar tidak ada revisi dalam mendesain nanti, mengingat waktu yang sudah semakin sedikit.
TING
{ Hey apa kau tidak bisa membalas pesanku . .}
"Ck,, siapa sih ganggu aja.." lirih Aca sambil membaca notif pesan masuk ke ponselnya yang berada di atas meja. Aca terlihat kesal, karena sedari tadi ia terus saja menerima pesan dari nomer yang tidak dikenal.
"Kenapa Ca.."
"Oh gak mbak.. bukan siapa-siapa kok,, orang iseng kali nomernya juga gak di kenal.. kita lanjut sampai mana tadi. Ehmm.. jadi gimana mas Yuda sama mbak Nayla udah fix belum sama kosep yang tadi." tanya Aca memastikan lagi konsep yang sudah sempat dipilih tadi.
"Gimana mas.. kamu ada yang mau di ubah lagi gak. " tanya Nayla pada calon suaminya.
"Aku gak ada yank.. aku udah fix yang itu aja.. kalau kamu terserah kamu seperti apa dan gimananya aku ikut aja. Sama itu yank.. kamu yakin pehiasannya cukup satu set aja gak mau nambah lagi,, kalau mau nambah gak apa-apa yank nanti semuanya biar aku yang bayar." ucap Yuda.
"Eh.. tunggu sebentar mas Yuda.. maaf ini ya,, bukan bermaksud mau ikut campur. Soal tambah-menambah ini,, terus terang aku angkat tangan kalau kalian mau nambah spesial desain lagi. Karena waktu yang kalian berikan ke aku itu cuma sepuluh hari. Paling tidak aku harus menyelesaikan ini semua H-2 sebelum hari H kan,, jadi efektifnya aku cuma punya waktu delapan hari saja.. jadi kalau mau nambah atau apapun itu nanti pas selesai nikah aja ya." keluh Aca sambil cemberut, bukan bermaksud menolak rejeki tapi dia benar-benar sudah kewalahan.
"hehehe... iya.. iya Ca kami paham kok,, sekali lagi maaf ya udah ngerepotin kamu.. kamu tenang aja kita akan bayar kamu secara professional kok. " ucap Nayla yang gemas melihat gadis di depannya ini.
"Ya harus professional lah mbak.. kan ini aku lagi usaha mbak,, bukan giveaway. kalau mbak Nayla minta kado,, itu nanti beda sendiri.. "
"ya udah Ca.. kamu kirim tagihannya ke sini saja ya. nanti aku yang akan bayar semuanya." kekeh Yuda sambil memberikan kartu Namanya.
Aca pun menerima kartu tersebut dan membacanya sepintas. karena hari sudah semakin siang dan beranjak sore,, akhirnya Aca pamit undur diri dari hadapan pasangan tersebut.
"kamu bener Ca gak mau kami antar saja,, gak apa-apa kok kamu mau kemana biar kami antar saja ya.." ucap Nayla menawarkan diri lagi.
"gak usah repot-repot mbak.. lagi pula aku juga mau ke suatu tempat kok mbak,, jadi aku naik taksi saja ya.." jawab Aca.
"Ya udah kalau itu mau kamu, kamu hati - hati ya di jalan. Jangan lupa kasih kabar mbak kalau sudah sampai ya. Mbak sama mas Yuda pergi dulu ya." Ucap Nayla sambil memeluk hangat Aca.
Kemudian kedua calon pengantin itu masuk ke dalam mobil Nayla dan pergi dari tempat itu. Rupanya Yuda datang ke restoran itu tidak membawa mobil, ia hanya diturunkan oleh asistennya. Karena sang asisten harus segera kembali ke kantor.
******
Aca sore ini berencana untuk tidak pulang ke rumahnya. Ia berencana ingin pergi ke tempat yang memberikan kenangan indah dalam hidupnya. Tempat yang selalu membuatnya tersenyum dan tertawa ketika berada disana. Tempat itu adalah panti asuhan, dimana waktu kecil alm ayahnya selalu mengajak Aca pergi ke sana.
Sudah cukup lama rasanya Aca tidak pergi mengunjungi panti asuhan itu. Panti yang khusus di ambil alih oleh sang ayah, agar bisa membuat dirinya terus tersenyum. Aca juga bingung awalnya kenapa Aca sangat suka sekali datang kesana. Mungkin waktu itu Aca masih kecil sangat senang bermain, dan ketika berada di panti Aca merasa mendapatkan banyak teman baru yang sebaya.
Untuk pergi kesana Aca harus menaiki sebuah bus antar kota, karena letak panti itu berada di luar kota. Tapi karena Aca tidak berani naik kendaraan umum sendiri, maka Aca memutuskan untuk naik taksi online. Selain lebih nyaman Aca juga merasa aman walau dia sendirian.
Saat di pertengahan jalan tiba - tiba Aca baru teringat kalau dia belum memberi kabar kepada kedua abangnya kalau dia tidak akan pulang malam ini. Dengan sedikit panik Aca langsung mencari ponselnya yang berada dalam tasnya. Beberapa kali Aca mencoba untuk menghubungi abangnya Satria namun tidak ada jawaban. Aca pun beralih mencoba menghubungi abang keduanya yaitu Shakti, namun hal yang sama ia dapati tidak ada respon sama sekali.
"Ini Abang dua kenapa juga ponselnya gak ada yang bisa di hubungi. Nanti kalau aku gak pamit pasti kena omel tujuh hari tujuh malam, tapi giliran di hubungi gak ada yang bisa." Gumam Aca dengan sedikit kesal.
Sementara itu Aca melihat baterai ponsel miliknya sudah semakin menipis. Dengan secepat kilat tanpa berpikir panjang lagi, Aca mengetikkan sebuah pesan kepada abangnya.
{Bang.. hari ini Aca mau ijin gak pulang ya. Aca mau ke panti dan menginap disana. Aca tadi sudah coba berulang kali untuk hubungin abang tapi gak bisa nyambung juga. Tolong bilang ke bang Satria, karena dia juga gak bisa di hubungi. Pamitkan Aca sama bunda juga ya bang. Mungkin besok sore Aca sudah pulang kerumah.}
Aca sedikit bernafas lega karena sudah berhasil mengirim pesan kepada abangnya. Karena tidak selang berapa lama ponsel Aca pun mati karena kehabisan baterai.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.