🪐 C&B 76

478 29 5
                                        




"Jadi J.. tuntutan kita kepada Sofyan Company adalah senilai 239 milyar. Aku sudah mengkalkulasikan semuanya bersama James juga bagian keuangan. Bagaimana menurutmu."

"Benar kak.. itu sudah diperhitungkan semuanya oleh bagian keuangan. Bahkan kak Angga juga merinci nilai proyek yang sengaja di mark up oleh Edward Sofyan."

Djindra saat ini sedang berada di ruang kerjanya di apartemen yang ada di Italia. Ia sedang melakukan zoom meeting dengan Harvey dan juga James.

Hanya mereka bertiga tidak ada orang kantor atau bagian keuangan yang seharusnya ikut serta. Karena perusahaan Djindra saat ini tengah libur akhir tahun sejak tanggal 24 Desember dan baru akan buka kembali pada tanggal 4. Dan Djindra juga tidak ingin menganggu acara liburan para pegawainya.

Mereka sedang membahas kelanjutan tuntutan wanprestasi terhadap Sofyan Company. Meskipun kenyataannya Djindra lah yang memutuskan kerjasama secara sepihak. Akan tetapi melihat indikasi dan yang melatarbelakangi keputusan itu. Maka diputuskan JD DIAMOND melakukan penuntutan.

Bahkan nilai tuntutannya tidak main-main, setidaknya minimal lebih dari 200 milyar mereka ajukan. Harvey sebagai perwakilan hukum JD DIAMOND sangat percaya diri memenangkan ini, karena bukti-bukti yang berada ditangannya sangatlah kuat.

"Vey.. apa ada peluang untuk kita mengakuisisi mereka."

"Kenapa kau tiba-tiba ingin mengambil alih perusahaan itu J. Bukankah dari awal kita sudah sepakat hanya akan menuntut mereka. Tapi kenapa sekarang kau berubah pikiran?"

"Hanya tiba-tiba terlintas begitu saja."

Djindra memang belum meyakini ucapannya sendiri. Tentang akuisisi itu tiba-tiba terlintas begitu saja.

"Kak J.. maaf sebelumnya, tapi aku tidak setuju tentang pemikiran itu. Capital market mereka jelas rendah kak. Rasio hutang mereka bahkan sangat tinggi. Sebab yang aku tahu yang melakukan penuntutan terhadap mereka bukan hanya kita. Dan aku sangat yakin mereka tidak akan mampu membayar. Sedikit kemungkinan mereka bisa bertahan kak dan itu bisa jadi bumerang bagi kita nanti kalau tetap nekat."

James mencoba memperingati Djindra dengan fakta di lapangan yang ia ketahui. James yang berkuliah bisnis di dalam negeri jelas tidak sebanding dengan pendidikan dan pengalaman bisnis bosnya yang dari luar negeri. Tapi mereka sama-sama tahu kondisi perusahaan seperti apa yang bisa dilakukan akuisisi dan investasi.

"Hmm.. kalau begitu kirim ke emailku terkait laporan valuasi mereka. Akan aku periksa secara rinci ada kemungkinan atau tidak kita melakukan tindakan itu."

"J.. apa yang membuatmu ingin melakukan itu. Apa kau bermaksud ingin menghancurkan mereka hingga akarnya? Atau ini terkait hal lain?"

"Pasti ini terkait wanita itu.. ini terkait Irish bukan?"

"Seperti yang kita tahu bersama, tidak akan mudah kita menyentuh wanita itu setelah menjadi nyonya keluarga Wang. Bukan berarti tidak bisa tapi ada faktor lain. Walau bukan kelas konglomerat atas, tapi keluarga itu tetap mendapatkan sorotan dari publik karena perusahaan keluarga mereka. Jika aku terang-terangan menghancurkannya atau bahkan membunuhnya, maka mau tidak mau atensi publik akan semakin tajam. Dan kasus kematiannya akan menjadi prioritas kepolisian, dan itu bisa merepotkan. Aku ingin menghancurkan wanita itu secara perlahan-lahan dari hal yang paling berharga baginya, bahkan untuk sekedar berusaha bangkit saja itu akan sangat sulit."

Harvey dan James pun mulai mengerti tujuan Djindra yang sebenarnya. Mereka bertiga pun kembali melanjutkan diskusi.

Sementara itu tepat di kamar tidur, Aca sedang berdandan dan menyiapkan dirinya. Malam ini adalah malam tahun baru.

CINTA DAN BENCI || JINSOOCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang