Langkah lesu dan wajah yang terlihat sedikit lelah, Djindra bawa masuk ke rumahnya yang baru. Bukan karena pekerjaan ataupun bisnis gelap yang membuatnya gontai, tapi karena istrinya. Kemarin Djindra tidak berhasil membawa pulang Aca, karena istrinya itu telah pergi dari kediaman Shakti kakak iparnya.
Walau sudah di jelaskan oleh kedua kakak iparnya kalau kepergian istrinya hanya untuk kunjungan ke panti dan tidak bermaksud menghindarinya, tapi Djindra tidak percaya. Pria itu meyakini kepergian Aca merupakan bagian dari ketidakpercayaan wanita itu kepadanya.
Namun begitu memasuki ruang keluarga, langkah Djindra terhenti. Penciumannya secara alami menangkap aroma masakan dari arah dapur. Awalnya Djindra meyakini itu adalah salah satu dari asisten rumah tangganya yang sedang menyiapkan makan malam untuknya. Tapi saat matanya menangkap sosok bergaun gading dengan rambut panjang yang terurai, untuk sesaat nafasnya terhenti seolah tidak percaya. Walau sosok itu berdiri membelakanginya, tapi Djindra meyakini figur yang dia lihat adalah istrinya.
Dengan langkah senyap tanpa suara, Djindra mendekat. Memberikan isyarat kepada dua asisten rumah tangga yang juga berada disana untuk menjauh dan meninggalkan mereka berdua.
"Kamu pulang sayang.." gerakan memasak Aca terhenti seketika begitu dia merasakan dua buah tangan kekar memeluk tubuhnya dari belakang.
Untuk sesaat Aca hanya terdiam, dia tahu yang memeluknya saat ini adalah suaminya. Tapi Aca juga bingung harus menjawab apa.
"Kalau aku tidak pulang kesini, lantas aku harus pulang kemana?" karena terlalu bingung sampai membuat Aca melontarkan pertanyaan konyol.
Djindra tersenyum dan memberikan sebuah kecupan di pipi kanan Aca. "Terima kasih. Terima kasih sudah pulang sayang.."
Aca mengatur nyala api kompornya menjadi mati, lalu memutar tubuhnya untuk bisa menghadap sepenuhnya kepada sang suami. Namun Aca yang mendapati wajah suaminya yang terlihat lusuh menjadi sedikit keheranan. Bukankah ini masih hari minggu? memangnya Djindra dari mana, kenapa begitu terlihat lelah?
"Mas.. kamu kenapa, sakit?" Aca menakup wajah tegas Djindra dengan kedua tangannya. Wanita itu juga sedikit mengendus ke arah suaminya. "Kamu minum?"
"Sedikit." Djindra memberikan ketenangan dengan menggenggam tangan istrinya yang berada di sekitar wajahnya.
Jawaban yang di berikan Djindra sudah pasti 100% bohong. Mana ada dia minum hanya sedikit. Sejak kemarin, begitu dia tidak berhasil membawa pulang istrinya, pria itu memutuskan untuk kembali ke Big House. Begitu sampai Djindra langsung mengurung dirinya di ruang kerja, di temani dengan belasan botol alkohol yang setiap jam nya bergantian menjadi kosong.
Dan Aca sendiri sudah pasti tidak percaya dengan jawaban suaminya. Sebagai istri, Aca terlalu hafal kebiasaan buruk suaminya yang satu itu. Mau berbohong atau di kelabuhi seperti apapun tidak akan mampu membuatnya percaya begitu saja.
Setelah makan malam bersama, sepasang suami istri itu kini bersiap untuk menghabiskan sisa waktu malam mereka dengan beristirahat. Aca melangkahkan kakinya menapaki tangga satu persatu menuju kamar utama. Di tangannya ada segelas minuman yang terbuat dari buah lemon dan sedikit cuka apel, Aca membuatnya secara khusus untuk meringankan mabuk suaminya. Bagaimanapun pria itu esok akan kembali bekerja dan memulai aktivitasnya lagi.
Namun saat Aca membuka pintu kamarnya, kamar itu terlihat kosong dan Aca tidak dapat menemukan keberadaan suaminya. Mencoba berpikir sejenak kira-kira dimana keberadaan Djindra saat ini. Dan yang terlintas dalam benak Aca hanya ruang kerja milik pria itu. Kalau memang iya suaminya berada disana, untuk apa? Bukankah pria itu tadi sudah mengeluh kepalanya pusing.
KAMU SEDANG MEMBACA
CINTA DAN BENCI || JINSOO
RomanceTerdapat konten dewasa (21+) dan mengandung unsur kekerasan,, harap bijak dalam membaca. Dua orang dengan karakter berbeda,, latar belakang dunia yang berbeda pula. namun mereka di pertemukan dalam sebuah perjodohan. akankah mereka pasrah menjalani...
