🪐 C&B 94

212 29 5
                                        


Tepat berada di koridor lantai rumah sakit, sejumlah orang sedang berkumpul. Mereka sedang berharap-harap cemas menunggu kepastian kabar mengenai kondisi dari sepasang  suami istri. Tidak hanya keluarga yang menunggu kabar itu tapi juga kerabat dan sahabat dekat, sama-sama merasakan cemas.

"Djoen.. kenapa mereka belum datang juga? Apa terjadi sesuatu di dalam sana?"

"Sabar Sat.. mereka pasti sedang berusaha yang terbaik di dalam sana."

"Sebenarnya apa yang telah terjadi?" Shakti yang juga ada disana tidak kalah cemasnya memikirkan kondisi adik perempuannya. 

Flashback On

Seperginya Daniel dari kantornya dan setelah memberikan instruksi khusus kepada sekretarisnya. Djindra dan James langsung pergi ke Big House, James sudah memberikan kabar kepada kakak-kakak dari Aca maupun Djindra sesuai instruksi yang dia terima. Namun saat tiba disana hanya ada Djoena yang datang, sementara Satria dan Shakti memberikan kabar kalau mereka akan terlambat karena masih ada pekerjaan. 

"Djin.. apa kau yakin akan mengikuti perkataannya? Bagaimana kalau ternyata dia menjebakmu?" Djoena telah mendengar apa yang terjadi di kantor adiknya tadi, dan dia sedikit ragu mengenai sosok Daniel. 

"Resiko apapun harus aku ambil mas, untuk bisa menyelamatkan Aca. Dia sudah terlalu lama berada di tangan orang jahat itu." 

"Tunggu sebentar Djin.. bagaimana kau yakin kalau Edwin adalah pelakunya? Dia hanya mengalami kekalahan gugatan satu kali denganmu bukan? Bahkan bukan dia langsung yang harus membayar kerugian itu." Djoena masih meragukan pemikiran sang adik yang telah menuduh seseorang jadi dalang penculikan adik iparnya. 

"Dokumen yang di berikan papi kepada James sebelum berangkat ke Amerika. Disana cukup untuk menjelaskan kalau bukan hanya tentang kekalahannya dalam gugatan yang menjadi motivasinya melakukan ini." James memberikan dokumen yang di maksud Djindra kepada Djoena. "Ada motivasi terpendam terhadap keluarga kita dan keluarga Wijaya mas."

Djoena membaca dokumen itu dengan begitu teliti, tidak ada hal kecil pun yang terlewat dari matanya. Disana memang di jelaskan bahkan menunjukkan bukti-bukti tentang perbuatan Edwin di masa lalu. Terutama perbuatannya kepada Setyo Wijaya selaku ayah dari Aca. 

Bahkan disana juga di jelaskan awal mula terjadinya konflik di antara kedua orang itu. Semula kerja sama yang berawal baik di tengah jalan mulai goyah. Setyo Wijaya menaruh curiga, karena merasa ada yang janggal dengan apa yang terjadi. Dan benar saja setelah di selidiki ternyata ada kecurangan dalam proyek yang berjalan, dan pelakunya adalah Edwin sendiri. 

Oleh karena sudah mengetahui kecurangan yang sedang berjalan. Setyo sengaja memulai proyek baru tapi tidak mengikutsertakan Edwin sebagai patner. Dari situlah Edwin yang tidak terima, mulai melakukan segala cara untuk membalas rasa sakitnya. Hingga akhirnya terjadilah kecelakaan yang menyebabkan kematian Setyo Wijaya, dan ternyata itu sudah di rencanakan oleh Edwin. 

"Lalu bagaimana kau akan membebaskan Aca? Mas gak setuju kalau kau kesana sendiri Djin. Ingat orang itu juga menaruh dendam terhadap keluarga kita terutama papi. Papi tidak ada disini, jadi kemungkinan besar kau yang akan menjadi sasarannya."

"Aku tahu mas.. aku paham. Tapi kalau aku mengikutsertakan banyak orang, yang ada resiko juga semakin besar. Apalagi kalau mas Djoena juga ikut, siapa yang akan menjaga keluarga kita dan keluarga Aca. Bunda Nita juga akan makin curiga, karena sudah beberapa hari ini tidak mendapatkan kabar dari Aca." Djindra bahkan menggunakan ponsel istrinya untuk memberi kabar palsu kepada mertuanya, agar mertuanya itu tidak berpikir berlebihan. Tentu saja itu juga demi kesehatan sang mertua.

CINTA DAN BENCI || JINSOOCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang