Hening kali ini adalah hening paling pekat yang pernah menenggelamkan keduanya, Dewi yang terkejut mendengar pertanyaan Dinar dan Dinar yang memandang mata Dewi untuk meminta jawaban.
"Aku nggak suka kamu Nar dari awal." jawab Dewi diiringi embusan napas Dinar yang gugup.
Mata Dinar menyipit, lalu laki-laki itu melepaskan tangannya dari pergelangan tangan Dewi. Dinar mengangguk.
"Oke."
Bersamaan dengan bel pulang berdering nyaring, menyadarkan dua orang itu untuk kembali ke alam nyata.
"Udah pulang, aku duluan." Dewi yang pertama kali berbalik, ditinggalkan Dinar di belakangnya yang masih terdiam sambil menatap punggungnya sampai tubuh Dewi menghilang dari pintu kelas.
Kata-kata Dewi menggema di pojok pikiran Dinar, mengecoh konsentrasinya.
"Nar, maneh nggak pa-pa, kan?" Di belakang Dinar, Enur berdiri dan menatapnya kasihan.
"Maneh kenapa ? Ditolak?" tanyanya lagi.
Dinar menggeleng pelan, "Kacau,"
"Udah urang bilang, Dewi anaknya pemilih, harusnya maneh berubah biar Dewi bogohkamaneh, kalemwelah, Nar." (... Suka lu, sante aelah, Nar)
Dinar melirik kebelakang punggungnya, dilihatnya Enur yang kini bergegas pergi dari kelas.
"Kayaknya ngga bakal ada yang nerima urang, mau besok, lusa, atau kapan, tapi nuhun ya, Nur, udah baik ke urang, padahal urang sama Abul suka jailin botol minum maneh,"
Enur terbelalak.
"Kok ngomong kitu? kan kita temen dari kelas sepuluh, nggak terasa yah, bentar lagi kita pisah, Nur" ucapnya santai.
"Ini kenapa berduaan di kelas, Aa-Eneng ?!" Abul entah sejak kapan berada di ambang pintu.
"Buru balik, Nar. Temenin urang daharheula, tapi." (Makan dulu)
Dinar akhirnya bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kawannya.
thanks for reading hhe
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.