Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Vanda kini berada di teras kamarnya bersama dengan Abul yang sedang membersihkan teras dan menggelar matras agar tak terlalu dingin saat diduduki.
Ia mengambil pop mie dan membasahinya dengan air panas. "Ini."
Vanda meraihnya, walau ia sudah membuat resolusi tahun ini untuk berhenti makan mie karena maag yang ia derita, tapi ia tak tega melihat Abul makan seorang diri.
"Maneh iri ya, aku punya batur (teman) baru," tanyanya sambil menekan pipi cowok itu.
"Bukan mukhrim," Abul meringis, spontan menarik kepalanya mundur.
"Sorry,"
Abul menarik napas panjang. Diam adalah pilihan yang baik dalam situasi seperti ini.
Bukan iri, Van .. gumamnya.
Sebenarnya gadis itu bukan berniat centil kepada semua lelaki yang ia temui, ia hanya terlalu childish, ia ingin berteman dengan siapa saja, tapi tak semua orang mengerti itu, ia hanya ingin punya banyak teman.
"Tadi itu siapa ?"
"O-oh, bukan-,"
"Dia ngomong apa?" potong Abul.
Vanda, gadis itu menundukkan kepalanya. "Dia bilang aku cocok jadi SPG rokok,"
Abul tertegun.
Setelah menyendokkan mie ke dalam mulutnya, Abul bangkit dari duduknya.
"Mau ke mana ?" tanya Vanda.
"Mau hantam rahang orang itu," balas Abul.
Vanda tersentak, tetapi sesaat sesudahnya, cowok itu mendesah panjang.
"Beliin maneh capcay, maneh ngga makan mie lagi, kan ? Urang apal (tahu), Van."
Lalu dilihatnya Abul berbalik, Vanda membiarkan. Sama sekali tak menahan cowok itu agar tetap di sini. Abul segera berjalan keluar gang menghampiri pedagang capcay yang berada di samping penjual sate, laki-laki gondrong itu sudah tak ada.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.