"Yah, sayang sekali... Aku pikir Nona ini pacarmu, kau betah sekali menjomblo kak... Kapan kau menyusulku untuk menikah?"
"Jika aku sudah mood mungkin" balas Seokjin tanpa minat.
"Kapan kau akan mood untuk menikah dasar kakak bodoh? Ingat umurmu it...
Sebelum kita mulai ada baiknya penyegaran tl dulu ya🙃🙃
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Gini kali ya kalo ciwi ciwi hangout bareng😢😢 aku udah lupa gimana rasanya serius :") Dahlah males... semua karena korona -_-
. . . . . . . . ____________
Kini Seokjin tengah menikmati kesendiriannya di rumah pribadinya, masak sendiri dan makan malam sendiri tidak terasa aneh lagi baginya. Karena memang Seokjin tinggal sendirian dirumah mininalis itu.
Namja berwajah tampan itu menatap ponselnya penuh harap. Usai makan sekarang Seokjin tengah menghibur diri dengan minum beberapa botol soju.
Tiba-tiba hati Seokjin terhenyak, ada perasaan rindu akan kehadiran seseorang disana. Tanpa buang-buang waktu lagi. Seokjin yang ingin mendengar kabar Jisoo pun, mencoba lebih dulu mengirimkan pesan pada yeoja itu.
Jisoo
Kau dimana? (20.14)
Seokjin berharap Jisoo cepat membalas pesannya. Rasanya Seokjin sudah tidak sabar untuk bertemu lagi dengannya.
Kesendiriannya sudah tidak penting lagi. Cukup berkirim pesan pada Jisoo saja sudah membuat Seokjin merasa senang.
Jisoo
Aku sedang di rumah sakit pak Seokjin :") (20.25)
Nanti akan aku kabari lagi, saat ini aku sedang bicara dengan Jennie (20.25)
. . . Seokjin terlonjak!
Awalnya ia senang karena pesannya dibalas oleh Jisoo. Tapi beberapa detik kemudian, ia murung karena Jisoo tidak ada waktu mengobrol dengannya untuk malam ini.
. . .
Jisoo
Baiklah... Pastikan kau istirahat yang cukup (20.27)
Jika ada waktu, besok aku akan menjenguk Jennie (20.27)
. . .
Seokjin lantas bernapas gusar. Salah satu alasannya mengapa Seokjin mau repot-repot menjenguk Jennie lagi yaitu agar ia bisa bertemu dengan Jisoo.
Itu bukan masalah kan?
Usai mengetik, Seokjin lantas bergegas membereskan piring bekas makannya ke dapur, setelah itu ia memungut 1 botol soju yang masih tersisa isinya untuk dibawa ke kamar.
. . . . . . Di rumah sakit central
Jennie telah sadar, wanita itu saat ini tengah ditemani oleh sang kakak. Dikarenakan kedua orang tuanya sedang makan malam. Jadi ruang rawat inap kelas vvip itu hanya dihuni oleh mereka berdua.