FWB: 05

415 70 3
                                        

Setelah masuk kamar, Joy memutuskan untuk tidur. Sejujurnya kepalanya sedikit pusing satelah donor tadi, tetapi agak mendingan saat Ia dan Alvian makan siang. Lelah sekali rasanya, setelah apa yang ayahnya minta. Mana mungkin mendapatkan calon suami dalam waktu satu minggu, bahkan bisa dibilang mustahil. Masa ia harus sewa pacar. Woah, seperti novel saja. Mana ada persewaan macam itu.

Sekita jam setengah empat Joy baru bangun dari tidur siangnya, setelah bangun dan sholat ashar ia memutuskan untuk main ke rumah sahabatnya yang lain namanya Seri. Tidak lupa Joy sudah terlebih dahulu mengabari sahabatnya itu kalau akan main ke rumahnya. Joy sangat butuh sekali teman curhat, siapa tau juga Seri bisa membantunya. Sekitar 30 menit siap-siap, Joy keluar dari kamarnya dan hendak berpamitan kepada orang tuanya.

"Bun," Joy memanggil bundanya yang sedang menonton televisi di ruang keluarga.

"Apa nak?" tanya sang bunda.

"Joy mau main ke rumah Seri sebentar ya, habis magrib pulangnya. Boleh kan?"

"Iya boleh, hati-hati. Oh iya, kamu mau pergi sendiri atau minta diantar?"

"Sendiri, aku udah pesen ojol kok bun. Si Chandra belum pulang ya bun?"

"Belum, masih les dia. Kamu pulangnya minta jemput Chandra aja ya, jangan pakai aplikasi bunda khawatir kalau udah malam."

"Oke deh bun, aku berangkat dulu. Ojolnya udah sampai, assalamualaikum."

"Waalaikumssalam."

Karena hari ini adalah hari malas nyetir, jadi Joy lebih memilih memesan ojol ketimbang repot nyetir mobil. Apalagi rumah Seri cuma beda dua komplek, lumayan dekat. Dan kenapa Joy tidak minta diantar sang ayah? Ya karena Setiap sore jam 3-5 ayahnya tidak di rumah, alias lagi main tenis sama bapak-bapak komplek lainnya.

Perjalanan naik ojol sekitar delapan menit, akhirnya Joy sampai ke rumah sahabatnya. Langsung saja ia ketuk pintu rumah Seri.

"Assalamualaikum, Seri," panggil Joy.

"Waalaikumssalam. Ayo masuk kak Joy," sahut Seri seraya membuka pintu masuk rumah.

Setelah dipersilahkan masuk, Joy langsung duduk di ruang keluarga rumah Seri. Perlu kalian tahu, Seri lebih muda satu tahun darinya. Lalu kenapa mereka bisa sahabatan itu karena, mereka dulu satu angkatan waktu kuliah.

"Aku ambilin minum sama camilan dulu ya kak. Tunggu sebentar," ujar Seri.
Senangnya Joy bisa main ke rumah Seri hari ini, ia harap setelah bercerita nanti ada jalan keluar dari masalahnya ini.

"Maaf ya kak Joy nunggu, ini dicicipi. Aku tadi bikin nastar, coba-coba resep."

"Wah, enak Ser kuenya, kamu ini emang istri idaman. Si Juki beruntung bisa punya istri kalem, baik, solehan, pintar masak kayak kamu," Joy memuji Seri.

"Jangan gitu kak, aku masih banyak kekurangannya kok," ujar Seri tersipu malu.

"Oh iya, kesini katanya mau cerita."

"Iya nih Ser. Ini soal ayahku."

"Kenapa ayah kakak?"

"Sekarang kakak kan sudah 29 tahun, ayah pingin kakak segera menikah."

"Oh begitu, kakak sudah ada calon suami?"

"Nah itu masalahnya Ser, aku tuh nggak punya calon. Tapi ayah tuh cuma kasih waktu seminggu buat kakak untuk bawa calon suami. Gimana ini Seri, bingung kakak tuh. Mungkin gak sih kakak bisa punya calon suami dalam waktu sesingkat itu?"

"Ayah kakak ekstrim ya, gimana ya kak kalau suami itu kan harus dinilai dari bibit bebet bobotnya. Istilahnya ya kita harus benar-benar kenal sama calon kita. Kalau sesingkat itu agak sulit deh kak, kecuali kakak punya kenalan laki-laki yang mungkin bisa kakak ajak serius."

Help! [Ongoing]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang