Benar dugaannya, Alvian hampir dua hari tidak bertegur sapa dengannya. Bahkan saat Joy main ke rumahnya, lelaki itu selalu kebetulan sedang ke luar. Tidak biasanya Alvian main keluar, sendiri lagi. Lelaki itu kan sebelas dua belas dengannya, mageran.
Sore ini Joy sedang berada di rumah Alvian. Iseng saja ingin menemani Mama, sekaligus menunggu sahabatnya pulang untuk meminta penjelasan. Tadi kata Mama, Alvian sedang pergi beli sesuatu.
Joy menghabiskan waktu di rumah Alvian dengan membantu Mama berkebun. Bunga yang mereka tanam sudah waktunya diberi pupuk. Itu bunga mawar, kami menanam cukup banyak di halaman belakang.
"Ma, si Vian masih lama ya?" tanya Joy kepada Mama.
"Katanya cepet kok, kamu lagi ada urusan ya sama dia?"
"Bukan urusan sih Ma, cuma dia kayak ngehindarin aku selama dua hari ini," Joy mengadu.
Biar saja nanti Alvian dimarahi, Joy sudah sebal lelaki itu malah menghindarinya. Joy kan jadi merasa tambah bersalah karena membuat kecewa Alvian. Ia sudah menyembunyikan rahasia besar dari sahabatnya, padahal Alvian sudah menyuruhnya untuk selalu cerita padanya dan jangan dipendam. Namun, entah kenapa waktu itu Joy mengikuti instingnya untuk tidak memberi tahu Alvian dahulu.
Kini ia merutuki keputusannya, persahabatannya dengan Alvian terancam retak ini. Amit-amit, jangan sampai hal itu terjadi.
"Loh kenapa? Itu Vian ada-ada aja tingkahnya. Palingan nanti kalau gantian kamu diemin, dia juga kangen. Tipikal Alvian banget."
"Hahaha, iya kah Ma? Joy emang sengangeni itu kan, apalagi kita udah temenan dari kecil."
"Nanti kalau dia pulang coba tanyain aja Joy, kenapa kok sok-sokan neghindarin kamu."
"Iya Ma, nanti Joy tanya."
Ternyata hingga hampir pukul enam sore Alvian juga belum sampai rumah. Sebenarnya ada masalah apa sih dengan lelaki itu, Joy jadi kehilangan minat untuk meminta penjelasan dan memperbaiki masalah ini. Ia jadi ingin mengabaikan Alvian juga, biar sahabatnya itu tau rasa gimana rasanya diabaikan seperti ini.
"Joy, ayo makan," panggil Mama Alvian dari dapur. Setelah selesai berkebun Joy langsung bertengger manis di depan televisi untuk menonton film.
"Iya Ma." Joy menjawab seraya mematikan televisinya.
Lalu ia bangkit dari kenyamanan sofa bed yang ada di ruangan itu, dan melangkah menuju dapur. Dapur di rumah Alvian terhubung langsung dengan ruang makan. Jadi saat Mama memasak aku bisa langsung melihatnya dari seberang meja makan.
"Ini dia, makanan kali ini mama baru coba resep baru. Ini makanan khas korea loh, teokpokki. Cobain dong," jelas Mama begitu menaruh makanan yang bernama teokpokki itu. Dari penampilannya benar-benar biking ngiler. Joy percaya seratus persen kalau itu enak. Mau resep baru atau lama, masakan Mamanya Alvian tidak pernah gagal.
Di dalam bumbu saus merah itu, Joy melihat ada wortel, bawang bombai, kubis, sosis, dan putih-putih pipih panjang yang kayaknya teok (kue beras khas korea). Joy pernah tau menu ini ketika melihat drama korea, dan ia pernah coba sekali makan jajanan korea ini di Mall.
Joy mulai menyendok sedikit, lalu saat akan masuk ke dalam mulutnya ia berkata. "Aku cobain ya ma."
"Iya sayang, nanti nilai ya rasanya gimana."
Joy mengangguk paham dengan permintaan Mama. Saat masakan itu menyentuh lidahnya. Langsung terasa sekali koreanya. Manis, gurih, pedas menyatu di lidahnya, dan dipadu dengan teok yang kenyal membuat Joy hampir jingkrak-jingkrak jika ia lupa bahwa sekarang di hadapanya ada Mama. Enak banget, ia seperti dibawa ke korea.
"Ma, beneran ini Joy gak bohong. Teokpokkinya enak banget, bisa-bisa mama buka restoran korea laku keras loh." Joy memuji sang Mama dengan sungguh-sungguh.
"Beneran? Wah makasih loh Joy. Kalau gitu ayo kita makan bareng-bareng. Ini anak laki-laki satu belum pulang juga, biarin nggak usah kita bagi."
"Siap Ma, kita habisin sendiri aja."
Lalu tidak terasa sudah sampai jam tujuh malam saja. Sepertinya Joy harus pulang. Sejak tadi ia sangat asik mengobrol dengan mama, dengan bermacam-macam topik. Hingga tidak sadar sudah hampir satu jam mereka duduk di kursi meja makan.
"Ma udah jam tujuh nih. Aku mau pulang dulu," ujar Joy sedikit merasa tidak enak. Ia masih ingin menemani mama sebenarnya, tetapi ia ingat kalau ia belum meyetrika baju kerjanya besok.
"Yah cepet banget, nggak nunggu Vian pulang dulu?" tanya Mama.
"Udah sejak siang tadi ditunggu belum pulang juga Ma. Di rumah masih ada kerjaan ma, mau setrika baju."
"Oh, ya udah, hati-hati pulangnya. Besok main lagi ya."
"Iya, insyaallah. Joy pamit, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," jawab Mama.
Joy diantar Mama hingga depan rumah, dan ditunggui hingga Joy menyebrang jalan. Setelah itu, barulah beliau kembali masuk ke rumah. Sedangkan Joy sebelum masuk kamar, masih sempat mengintip jalan dan rumah Alvian lagi. Siapa tahu kalau sahabatnya itu tiba-tiba pulang. Ternyata juga masih nihil, lelaki itu apa mau pulang malam? Dasar, tida tidak berpikir kalau mama kesepian apa. Joy sebal sendiri jika memikirkan Alvian.
"Joy, kenapa sih jalannya hentak-hentak kayak gitu," tegur bunda begitu melihat anaknya berjalan dengan aneh. Tetapi, mau bagaimanapun juga yang namanya Joy tidak bisa lepas dengan kata 'aneh'.
"Hehe, nggak papa bun. Aku mau masuk kamar ya," jawab Joy menahan malu.
"Hm, tapi jalannya biasa aja. Jangan kayak gorila."
"Iya. Eh bun, Chandra udah pulang?" tanya Joy tentang adiknya. Biasanya anak itu pulang antara jam setengah tujuh atau lebih. Tetapi jika keadaan rumah hening seperti ini, anak itu antara di kamar atau bisa jadi belum pulang.
"Belum, katanya sebentar lagi."
"Oh, ya udah. Bye bun."
Belum juga menjauh, sang bunda menghentikan langkah Joy. "…tadi kamu udah makan di rumah Alvian kan?"
"Udah kok bun."
"Oke deh, soalnya lauknya tinggal sedikit buat adikmu."
"Iya tau buat anak kesayangan," sindir Joy, tapi hanya sebagai gurauan.
"Hush, kamu nih. Kasih sayang bunda tuh sama besar buat kalian berdua," balas Bunda dengan jawaban serius. Waduh, Joy ternyata salah membuat gurauan. Ia takut bundanya sakit hati kalau begini.
"Bun, bercanda doang aku tadi. Jangan diambil hati, Joy minta maaf."
"Ih, kamu mah bercandanya kelewatan. Bunda kira kamu iri beneran sama Chandra."
"Ya enggak lah, Joy udah pernah di posisi Chandra. Jadi ya nggak akan Joy iri."
"Bagus deh, udah cocok kalau gitu kamu jadi Ibu."
"Bunda, emangnya Joy cocok jadi ibunya siapa. Ngawur."
"Ya ibunya anak-anak kamu nanti. Ngomongin anak, bunda jadi pengen punya cucu. Kamu kalau serius sama Jefri, cepet atuh suruh halalin. Bunda lihat kamu juga cocok sama dia," ujar Bundanya panjang kali lebar, bahkan sampai out of topik. Joy sampai terperangah.
"Bun kok jadi jauh gini bahasannya. Nanti ya, Joy coba buka hati buat Jefri."
"Kalau nggak sreg, udah lah lepasin. Bunda sih lebih setuju kamu sama pilihan ayah. Bunda jamin kamu juga bakal suka."
"Emangnya calon yang bakal dijodohin sama Joy siapa? Kasih petunjuk dong bun, kalau emang Joy mau nanti bisa di bicarakan lah."
"Tanya aja sana langsung sama ayahmu."
"Ih pelit bunda. Kalau tanya ayah alamat gak dikasih tahu."
"Biar suprise Joy."
"Udah lah bun, Joy mau ke kamar. Mau setrika baju, besok mau di pakai."
"Astaga, baru jam segini setrika? dasar, ya udah sana cepet."
"Siap bun," Joy langsung kabur menuju kamarnya.
To Be Continue
KAMU SEDANG MEMBACA
Help! [Ongoing]
RomancePunya sahabat kalo nggak dimanfaatin ya buat apa? - Camila Joy Sahara Untung kenal dari orok, kalo nggak udah gua buang ke Afrika tuh sahabat sinting. - Alvian Jacka Swara
![Help! [Ongoing]](https://img.wattpad.com/cover/212909092-64-k543712.jpg)