FWB: 83

106 18 0
                                        

Suara dering ponsel menggema di kamar Joy, hampir saja membuatnya terlonjak kaget. Ia yang sedang asik melamun dikagetkan suara lagu yang ia set untuk panggilan masuk. Ia segera meraih ponsel yang tak jauh dari jangkauannya, dan membaca nama yang tertera di panggilan itu. Ternyata itu Seri, sahabatnya. Joy bertanya-tanya apa yang ingin disampaikan oleh Seri. Tumben sekali dia menelepon Joy diwaktu yang masih cukup pagi begini.

"Halo Seri? Ada apa?" sahut Joy begitu ia menekan tanda hijau, yang artinya ia menerima panggilan itu.

"Kak Joy, maaf kalau Seri ganggu, kakak masih masa cuti kan? Bisa ke rumah aku? Ada hal yang mau aku bicarain sama kakak," ujar Seri. Entah dari nada suaranya terdengar ada hal penting yang ingin disampaikan oleh Seri.

Hal ini bisa Joy manfaatkan untuk mengisi waktu luangnya. Daripada di rumah, ia tertekan karena terus disuruh istirahat. Apalagi selentingan tentang keinginan orang tua untuk segera mendapatkan cucu selalu membuat Joy stres.

"Bisa Ser, aku siap-siap dulu ya. Habis itu aku langsung berangkat," jawab Joy menyanggupi.

"Iya kak, makasih. Seri tunggu."

"Oke."

Setelah sambungan telepon itu terputus, Joy langsung bangun dari tempat tidurnya. Ia sejak tadi belum mandi, jadi yang ia lakukan sekarang adalah membersihkan dirinya. Ia membuka lemari, dan menemukan bajunya serta baju milik Alvian yang beberapa di simpan di sana. 

Sekarang Joy sudah jadi istri, apakah ia harus izin ke Alvian dulu sebelum ke rumah Seri. Joy jadi kepikiran, tapi bukankah terlalu berlebihan jika apa-apa izin. Siapa tahu Alvian sibuk, lagipula ia punya kehidupan sendiri yang tidak perlu meminta keputusan orang untuk melakukannya. Baiklah, Joy memilih berangkat tanpa bilang ke Alvian dahulu. Mungkin ia akan cerita waktu Alvian sudah pulang kerja.

Mandi tidak membutuhkan waktu lama, Joy sudah kepalang penasaran dengan hal yang ingin Seri bicarakan dengannya. Ia make up seadanya yang penting tidak terlihat pucat. Laku untuk pakaiannya hari ini, sederhana saja. Kaos lengan panjang dan juga celana panjang training yang bisanya ia buat olah raga.

Joy membawa ponsel, dan dompet saja untuk ke rumah Seri. Rumah mereka tidak terlalu berjauhan, sehingga ia hanya membawa barang penting saja. Dirasa sudah siap, Joy keluar kamar. Meski tidak izin suami, pasti Joy tetap pamit dahulu dengan orang rumah supaya tidak dicari.

Joy mencari dari ruangan depan hingga depan ia tidak menemukan orang tuanya ataupun Mama Alvian. Kemana perginya orang rumah, batin Joy. Padahal ia baru bertemu mereka waktu sarapan beberapa saat yang lalu. Oh, ia baru ingat ada satu tempat yang belum ia datangi. Taman belakang, tempat kesukaan sang bunda dan ayah.

Ia melangkah cepat ke arah taman belakang yang tak jauh dari dapur. Dan benar saja, ada bunda dan ayah sedang duduk berdua. Menikmati pemandangan bunga yang telah mereka rawat sejak lama. Di sambil memakan camilan, juga minum teh. Keduanya sudah mirip pasangan baru menikah, dimana masih hangat-hangatnya. Mama tidak terlihat di mana pun, mungkin beliau sudah pulang ke rumah.

"Ayah, bunda," panggil Joy, membuat dua orang tuanya menoleh ke arahnya.

"Ada apa Joy?" tanya Ayah. Beliau telihat penasaran kenapa Joy memanggil mereka. Beliau pikir Joy akan membicarakan suatu hal penting kepada mereka.

"Joy izin ke rumah Seri ya. Ada hal yang mau Seri bicarakan sama Joy, penting," Joy meminya izin.

"Oh, udah izin Suami kamu?" tanya bunda, kini ikut menyahuti.

Joy menggeleng, dia awalnya berniat tidak izin. Namun, pertanyaan sang Bunda sedikit mengusiknya. Apakah ia memang perlu minta izin?

"Kamu izin Alvian dulu Joy, kalau boleh kamu baru kami beri izin untuk keluar," ujar Ayah menambahi.

Mau tidak mau, Joy memang harus izin dahulu dengan Alvian. Tetapi, bagaimana kalau Alvian sedang sibuk? Lalu ia tidak segera mendapatkan izin, sehingga Seri harus menunggunya lebih lama. Pandangan orang tunya yang menuntut itu benar-benar sanggup meruntuhkan pendirian Joy. 

Terpaksa ia menbuka ponselnya, lalu mengetikkan pesan jika ia meminta izin ke rumah Seri kepada Alvian. Benar saja, masih centang dua belum terbaca. Ia melihat last seennya saja jam sembilan pagi tadi. Pasti Alvian sedang sibuk sekarang.

"Ayah, Alvian kayaknya sedang sibuk. Joy cukup kirim pesan aja ya. Pasti dia bolehin kok," bujuk Joy supaya ia segera dibiarkan berangkat.

Ayah menatap mata bunda, seperti saling berdiskusi sebelum menentukan jawaban. Mereka bicara lewat mata, dan sayangnya Joy tidak tahu apa artinya. Ia hanya menatap dua orang tuanya bingung.

"Ya sudah, jangan lama-lama. Yang penting kamu sudah minta izin ke Alvian."

"Makasih Ayah, bunda. Joy berangkat dahulu," gadis itu mencium tangan kedua orang tuanya, kemudian langsung keluar. Ia membawa mobilnya yang sedang menganggur, dan juga tidak sedang dipakai kerja.

Joy mengeluarkan mobilnya dengan mudah, mengemdarainya hingga keluar daerah rumahnya. Ia membawa mobil itu secara pelan, karena jalanan perumahan cukup ramai orang berjalan kaki. Sesampainya Joy di rumah Seri, ia langsung turun dari mobil dan mengetuk pintu rumah tak sabar.

Pintu perlahan terbuka dari dalam. Menampakkan Seri yang membukakkan pintu.

"Kak Joy?" ujar Seri, "Silahkan masuk Kak," lanjut Seri.

Joy mengangguk, lalu masuk ke dalam mengekor di belakang Seri. "Ada apa Seri? Kamu punya masalah?" tanya Joy begitu pantatnya menyentuh sofa ruang tamu Joy.

Seri terdiam, lalu menggeleng pelan. Jika bukan masalah, maka ada apa? Joy benar-benar dibuat bingung dengan sahabat yang lebih muda darinya itu.

"Terus ada apa?" Joy kembali melontarkan pertanyaan.

Seri tidak kunjung menjawab. Gadis yang lebih muda dari Joy itu malah lari ke arah kamar. Hal itu benar-benar membuat bingung sekaligus penasaran. Tapi, tak lama Seri kembali keluar dengan menggenggam sesuatu di tangannya.

"Ini kak garis dua," ujar Seri, ia bicara sambil menahan pekikan bahagianya. Ia tidak ingin membuat orang tidak nyaman. Lagipula Seri sudah banyak berteriak sejak tadi.

Sebuat test pack bergaris dua, di hadapakan kepada Joy. Setelah mengetahui situasinya, Joy memekik kaget. "YA Ampun, ini serius? Kamu hamil Seri?"

"Iya kak, aku hamil. Baru aku cek hari ini, twrnyata dua garis," jawan Seri tak kalah bahagia.

Joy mendekat ke arah Seri, ia ingin memberi pelukan kepada sahabatnya. Dan disambut hangat oleh Seri. Mereka berakhir berpelukan dengan Joy yang tak henti mengucapkan selamat.

"Makasih kak, sebenarnya Seri minta kak Joy kesini buat temenin ke dokter kandungan. Buat memastikan tentang kehamilan aku kak," ungkap Seri setelah pelukan terlepas.

"Oh, lalu Jeka udah kamu bilangin?"

"Belum kak, aku bakal bilang setelah selesai periksa kandungan dan mendapat penjelasan dari dokter," balas Seri.

TBC

Help! [Ongoing]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang