FWB: 34

78 13 0
                                        

Joy sudah gatal ingin bilang jika mereka bukan pasangan suami istri. Namun pergerakan dari Risang, mengalihkan perhatian tiga orang dewasa di sana. Tak lama keluarlah tangisan menggelegar dari mulut mungil bayi itu.

Joy panik, Alvian pun juga panik. Padahal lelaki itu kan dokter anak, batin Joy. Seharusnya lelaki itu sudah bisa tanggap menghadapi hal mendadak ini. Hampir semua pengunjung di lantai itu, menatap kearah mereka. Jujur, Joy mulai malu.

"Sepertinya, si adek minta susu. Kalau mau nyonya bisa saya antar ke ruang menyusui?" tawar peramuniaga itu dengan sopan.

Joy mau menolak, karena dia tidak menyusui. Namun kalah cepat dengan ucapan Alvian yang hampir membuatnya ingin memukul lelaki itu.

"Sayang, memang adek kayaknya haus. Kamu bawa aja ya, nanti urusan baju biar aku yang pilihin yang paling bagus," ucap Alvian cepat seraya menyerahkan gendongan Risang ke pelukan Joy.

Alvian memang mencari gara-gara dengan Joy. Namun, mau bagaimana lagi, semua orang mulai berbisik-bisik. Daripada malu, lebih baik dia mengikuti rencana dadakan dari Alvian. Ia akan memarahi lelaki itu sepulang dari Mall nanti.

"Ya sudah antarkan saya keruangan khusus menyusui," kata Joy dengan menahan malu.

Saat ia melewati depan Alvian, tak lupa ia lemparkan death glare pada sahabat laknatnya. Tetapi Alvian tak menggubrisnya. Dan malah mendorong Joy yang tengah menggendong Risang agar lebih cepat berjalan.

**

"Di sini ya Nyonya ruangan khusus menyusuinya, saya tinggal dulu. Permisi," pamit peramuniaga itu setelah mengantarkan Joy ke sebuah ruangan kotak, yang cukup private. Ada sofa nyaman, berwana pink. Dan juga ada sebuah tempat bermain anak. Tempat itu hampir mirip seperti penitipan anak.

Kebetulan tidak hanya Joy yang berada di dalam ruangan itu. Terlihat dua orang ibu menyusui, yang satu terlihat lebih muda darinya yang satunya lagi terlihat seumurannya. Joy sedikit mengiri, seharusnya jika ia sudah menikah mungkin saat ini ia sudah bisa menggendong anak.

Tapi kenyataan lebih pahit, dirinya masih jadi korban sang kakak sepupu untuk dijadikan babysitter dadakan. Ia yang sekarang masih menggendong anak orang. Bahkan ia belum menikah, miris.

Dengan telaten, Joy menaruh Risang duduk sebentar. Ia hendak membuatkan susu formula titipan Mbak Miya, untuk diberikan kepada keponakannya itu. Tak perlu lama, telah jadi satu botol kecil, susu formula. 

Saat Joy ingin memberika susu itu kepada Risang, seorang ibu yang seumuran dengannya menyahut. "Mbak, itu anaknya kok dikasih sufor sih?" 

Joy terlihat bingung, apa salahnya bayi yang sudah berumur dua tahun diberi susu formula? 

"Maaf Mbak, memang anaknya sudah bisa minum sufor," jawab Joy dengan sabar sambil memberikan botol susu kepada Risang. Dan benar saja, anak itu ternyata haus.

"Tapi kan kalau Mbak bisa, ya mending dikasih asi lah," orang itu tetap ngeyel dan berusaha memojokkan Joy.

Sebenarnya gadis itu malas menanggapi, orang itu tidak tahu bagaimana kondisinya. Namun, sudah banyak bicara dan mengatur apa yang perlu Joy lakukan. Seharusnya orang itu memikirkan urusannya sendiri.

"Ini anak saya, jadi terserah apa yang saya lakukan. Mbak nggak perlu ngatur," balas Joy dengan acuh.

Setelah jawaban sadis dari Joy, orang itu langsung terdiam. Sepertinya Joy mau keluar saja. Yang penting Risang sudah bisa diam. Di dalam ruangan itu terlalu toxic baginya. Ia takut kalau kelepasan mengamuk dengan orang itu.

Joy langsung membuka ponselnya dan menelpon Alvian agar segera menyusulnya ke sini. Ia tidak bisa jika harus menggendong anak sepupunya itu seorang diri, soalnya ada tas perlengkapan bayi yang juga harus ia bawa kemana-mana.

"Halo? Ada apa Joy?" sahut Alvian begitu ia mengangkat telpon dari sahabatnya.

"Lo jemput gue ke sini, kita mending pulang aja deh," ucap Joy.

"Oke, tapi kenapa buru-buru pulang? Kita makan dulu aja ya, soalnya dari sore kan lo belum makan."

"Ya udah, kita makan di food court aja. Cepet, tahu kan ruangannya?"

"Iya nanti gue minta antar pegawainya aja."

"Bagus, kalau udah di luar chat aja."

Sambungan telpon itu lalu terputus. Sedangkan tiga orang di dalam ruangan itu begitu canggung. Apalagi seorang ibu yang terlihat lebih muda dari Joy, yang sejak tadi diam.

Biarlah rencananya membeli dress baru gagal, ia masih punya baju lama. Ia sudah tidak berselera berada di sini. Menaikkan kembali moodnya itu lama, dan sulit. Jadi lebih baik ia segera pergi dan melupakan kejadian ini.

Sebuah pesan masuk ke ponselnya, dan itu dari Alvian. Lelaki itu sudah berada di depan ruangan khusus ibu dan anak ini. Dengan tergesa, Joy merapikan tasnya juga menggendong Risang di pelukannya. Meski sedikit kesusahan, ia berhasil membuka pintu itu.

"Ini tolong gendong Risang," kata Joy datar, sangat kentara kalau gadis itu sedang tidak dalam mood yang baik. Dengan hati-hati Alvian menerima Risang, tidak lupa ia juga memegang botol susu yang diminum bocah itu.

Mereka tidak langsung beranjak dari toko itu. Karena Alvian sudah memilihkan baju untuk Joy. Sehingga ia harus membayar dulu di kasir sebelum pulang.

"Kita ke kasir dulu ya," ujar Alvian lembut, takut  jika Joy kembali sensitif.

"Hm," jawab sahabatnya singkat.

"Kenapa sih cemberut?" tanya Alvian yang kurang nyaman dengan diamnya Joy. Joy dengan kemarahan adalah kombinasi paling menyebalkan menurut Alvian. Gadis itu akan lebih mudah terpancing, jadi suka memarahinya padahal ia tidak melakukan apapun.

"Kenapa sih orang suka mengurusi urusan orang lain. Dia bahkan nggak tau masalah gue, tapi dengan seenaknya dia komentar. Minta dicabein memang," Joy mendumal.

"Sabar ya, Lo nggak perlu dengerin omongan orang Joy. Ini hidup lo, dan lo berhak mengambil jalan apapun terhadap masalah yang lo hadapi," nasihat Alvian.

Tak terasa, mereka sudah di depan kasir. Alvian langsung memberitahukan tetang pesanannya. Peramuniaga di sana sudah langsung cekatan membantu Alvian melakukan prosedur pembayaran. Kini, di tangan Joy sudah ada dua papper bag hitam berlogo butik cascade.

"Lo beli apa?" tanya Joy, saat Alvian masih menggesek kartu debitnya.

"Setelan buat kita berdua. Sama satu baju baru buat Risang," jawab Alvian enteng.

"Loh, lo beliin buat kita?" tunjuk Joy pada tubuh Risang dan dirinya sendiri.

"Iya, kenapa?"

"Ih, kenapa gitu."

"Ya karena gue pengen lah. Udah lo itu cuma harus menerima, ngerti!" Alvian memberi paham Joy yang terus menolak pemberiannya.

"Iya, makasih kalau gitu," kata Joy pasrah. Mau gimana lagi, rezeki jangan ditolak. Sepertinya juga gaji Alvian tidak akan berkurang seberapa jika membelikannya pakaian baru.

Posisi Alvian dan Joy yang masih di depan kasir. Tak sengaja membuat Joy bertemu lagi dengan sosok yang mengomentari tentang dirinya di ruang menyusui tadi. Otomatis wajah ceria yang sempat Joy tampilkan, langsung hilang seketika.

To Be Continue

Help! [Ongoing]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang