FWB: 18

99 14 0
                                        

Joy dan Jefri saat ini sudah berada disalah satu restoran sushi di Mall XX. Akhirnya pulang kantor tadi, Joy memberanikan diri untuk menghubungi Jefri bahwa ia tidak bawa kendaraan. Dan ternyata respon Jefri cukup baik, lelaki itu bersedia mengantarnya hingga ke rumah nanti.

Mereka duduk di kursi yang muat untuk dua orang. Setelah memesan beberapa makanan dan minuman, keduanya belum memulai percakapan apapun. Ini baru pertemuan ke dua, pasti rasa canggung masih melingkupi mereka.

"Jadi pertemuan kita hari ini dalam rangka apa Jef?" tanya Joy penasaran. Pasalnya ini adalah hari kerja, jika sebuah ajakan kencan seharusnya pada hari sabtu atau minggu. Mereka akan punya banyak waktu jika weekend. Kalau hari ini pasti pertemuannya cukup singkat, apalagi besok mereka harus kembali ke aktivitas kerja masing-masing.

"Kalau aku bilang, rindu. Percaya?" jawaban tidak terduga keluar dari mulut Jefri. 

"Gombal."

Bisa-bisanya Joy bersemu hanya karena gombalan receh dari Jefri. Sefrustasi itukan dirinya ingin segera punya kekasih. Rasanya aneh, mungkin karena ia jarang sekali mendapat kata-kata romantis dari laki-laki.

"Hahaha, meskipun bukan sepenuhnya karena rindu, aku ada satu hal yang ini ditanyakan ke kamu. Hanya untuk mempertegas hubungan di antara kita."

"Bertanya hal apa?"

"Sebelumnya maaf jika aku lancang, kemarin aku sempat melihatmu dengan laki-laki di mall ini. Aku hanya penasaran siapa lelaki itu, kalian terlihat sangat dekat."

Joy terperanjat, apakah Jefri melihatnya bersama Alvian kemarin. Ini jelas salah paham, Jefri pasti merasa aneh saat aku dekat dengannya, tetapi aku juga dekat dengan lelaki lain. Joy jadi terkesan mempermainkan hubungan ini.

"Oh, kemarin? Dia tetanggaku sekaligus sahabat baikku sejak sekolah dasar. Aku tidak bawa mobil sendiri kemarin, sehingga aku minta jemput dia yang kebetulan dinas di Rumah Sakit dekat kantorku. Lalu kami mampir untuk makan malam sebentar di sini, sama adikku juga." Joy menjelaskan semuanya dengan rinci, khawatir jika nanti masih ada kesalahpahaman.

Jefri mengangguk mengerti pada setiap kalimat yang diucapkan Joy. Kelihatannya lelaki itu memaklumi hal yang kemarin.
"Oh, anak yang pakai seragam SMA kamarin adik kamu?"

"Hehe iya, dia bimbingan belajar di dekat sini."

Selang beberapa saat setelah mereka mengobrol, seorang pelayan mengantarkan pesanan mereka. Sejenak, Joy dan Jefri memfokuskan diri pada makanan mereka.

"Kita makan dulu aja, nanti lanjut lagi ngobrolnya," ujar Jefri.

***

Setelah pertemuan dadakan tadi, kini mereka sedang dalam perjalanan menuju rumah Joy. Jujur saja kini Joy sedikit khawatir jika kedua orang tuanya sudah pulang. Ia tidak siap menjelaskan tentang Jefri. Bagaimana jika mereka bertemu, ia harus menjelaskan Jefri itu temannya? Calon kekasihnya? Huft.

Namun, sepertinya keberuntungan sedang tidak berpihak kepadanya. Mobil yang dipakai orang tuanya terlihat sudah terparkir di rumah. Astaga firasanya benar-benar terjadi.

"Jef, berhenti di sini aja," ujar Joy cepat, sebelum mobil milik Jefri berbelok memasuki halaman rumahnya.

"Kenapa? Sekalian aku mau minta maaf ke ayah kamu udah bawa pulang putrinya kemaleman." 

Joy jadi tidak enak dengan lelaki itu. Jefri memiliki niat baik, tetapi masalah terletak pada dirinya yang belum siap memperkenalkan Jefri dihadapan keluarganya. Ia terdiam sejenak, memikirkan langkah yang akan diambil. Mungkin tidak masalah jika membawa Jefri ke dalam. Tidak ada yang tahu masa depan, siapa tahu lelaki itu yang akan menjadi suaminya kelak.

"Ya udah, nggak papa. Cuma ayah sama bunda hari ini baru pulang dari luar kota. Takut kalau mereka masih kecapekan."

"Oh gitu, aku cuma sebentar aja kok."

"Okay."

Mobil yang awalnya diam, kini kembali jalan dan mulai berbelok memasuki halaman rumah milik Joy. Rasanya jantung milik Joy sudah berdetak hingga ingin keluar dari rongga dadanya. Ia seperti akan menghadapi sidang skripsi saja.

Dengan gentle, Jefri membukakan pintu untuk memudahkan Joy keluar dari mobil. Ini pertama kalinya ada lelaki yang memperlakukanya secara romantis. Entah ini sikap romantis atau cuma manner, yang jelas Joy meleleh saat Jefri melakukan untuknya.

"Makasih Jef," Joy berucap setelah keluar dari mobil.

"Sama-sama."

"Ayo masuk," ajak Joy.

Gadis itu memimpin jalan, dan diikuti Jefri di belakangnya. Saat sampai di depan pintu Joy mengetuk beberapa kali, hingga ada suara langkah kaki dari dalam. 

"Vian?" tanya Joy kaget. Kenapa sahabatnya itu bisa berada di rumahnya pada jam yang bisa di bilang cukup malam. Jefri yang berada di belakannya pun, juga ikut terkejut. Lelaki itu tidak menyangka akan bertemu orang yang dicemburuinya kemarin. Seperti sebuah takdir mereka bertiga bisa bertemu disatu tempat.

"Siapa Vi tamunya?" suara teriakan dari Bundanya Joy membuyarkan keheningan yang terjadi di depan pintu itu.

"Sini masuk," ujar Alvian.

Joy menuntun Jefri agar berjalan bersisian dengannya. Dengan Alvian yang berjalan di depan mereka berdua.

"Tamunya Joy, sama temanya Bun," jawab Alvian saat ia menghampiri sang Bunda. Sedangakn Joy, mengantarkan Jefri ke ruang tamu.

"Aku panggil ayah sama bunda dulu ya Jef. Kamu tunggu sebentar."

"Oke."

Joy segera berlalu meninggalkan Jefri di ruang tamu yang sepi. Kemudian ia berlari menuju ruang keluarga, tempat yang ia yakini di mana orang tuanya berada. Benar saja ada ayah, bunda, adiknya, dan Alvian. Mereka seperti dengan membongkar barang dalam koper.

"Kalian ngapain?" tanya Joy agak kaget.

"Bongkar oleh-oleh," itu jawaban dari Chandra. Mengabaikan jawaban itu, ada yang lebih penting untuk Joy sampaikan.

"Ayah, bunda, temen aku tadi ke sini mampir. Dia udah nganter aku pulang juga. Dia pengen ketemu katanya," jelas Joy kepada orang tuanya.

"Temen cowok?" tanya sang ayah. Pasti itu Alvian yang memberi tahu, sangat terlihat kalau ayahnya tidak begitu suka akan tamu yang dibawa oleh Joy.

"Iya yah." Joy menjawab dengan ragu.

"Bawa ke sini aja Joy. Kenalan sama kita semua," tawar bundanya.

Mungkin ide bagus jika Jefri dibawa ke sini. Akan terasa sangat canggung jika mereka bertemu formal di ruang tamu.

"Oke, Joy ajak ke sini aja."

Ia melangkahkan kakinya cepat menuju ruang tamu lagi. Ia khawatir jika kemalaman bagi Jefri untuk pulang. Semakin cepat bertemu dengan orang tuanya, semakin cepat pula Jefri akan pulang.

"Jef," panggil Joy kepada Jefri yang fokus pada ponselnya.

"Iya? Di mana orang tua kamu?"

"Sini, kamu disuruh ke dalam aja. Mereka kebetulan lagi bongkar oleh-oleh."

Mengikuti ajakan Joy, Jefri mengikuti gadis itu hingga ia memasuki ruangan yang cukup lebar. Ada sofa, karpet, tv, dan beberapa peralatan game, dan speaker. Jefri bisa menebak jika ini ruang keluarga atau ruang santai.

"Ayah, bunda, kenalin ini Jefri," Joy memperkenalkan lelaki itu terlebih dahulu. Kedua orang tuanya yang duduk di karpet sedikit mendongak untuk melihat wajah lelaki yang Joy bilang adalah temannya.

To be continue

Help! [Ongoing]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang