Mungkin makan malam ini akan menjadi pengalaman yang terburuk semenjak ia kenal dengan Jefri. Mungkin kejadian ini bukan yang pertama, tapi bisa saja akan menjadi yang paling terpatri dimemorinya. Ayolah, ini adalah pertemuan yang harusnya disetting hanya untuk Joy dan kedua orang tua Jefri sebagai pengenalan awal. Tetapi nyatanya hari ini ada sosok ketiga yang membuat Joy terlihat seperti bayangan. Joy harusnya yang menjadi paling bersinar di sana, sebagai kekasih Jefri.
Tetapi justru Rose yang bukan siapa-siapa yang menjadi titik perhatian dikeluarga itu. Joy tidak habis pikir kenapa di sekeliling lelaki itu banyak sekali orang yang suka mengabaikannya. Mulai dari Rose, lalu sekarang orang tua lelaki itu.
Yang bisa gadis itu lakukan sekarang hanya diam, dan menerima perlakuan apa saja yang mereka berikan. Ia sudah memasang topeng sopannya untuk menjaga imagenya. Ia tidak boleh menampakkan sisi buruknya. Sayang sekali keluarga itu hanya menerima senyum palsu darinya.
Makan malam sudah selesai, Joy makan lebih sedikit dari biasanya. Ia sudah tidak begitu nafsu makan sejak pertama kali melihat sosok Rose. Rasa semangatnya jadi hilang entah kemana.
"Makan malam sudah selesai, mari kita melanjutkan untuk mengobrol di ruang tamu," ajak ayah Jefri begitu memastikan semua sudah meletakkan alat makan masing-masing.
"Tapi, Aku mau ajak Rose sama Joy beresin ini dulu. Sekalian juga kami para perempuan saling mengobrol di dapur," pinta Hera kepada sang suami.
"Baiklah kalau begitu, kami akan menunggu di ruang tamu," Muji menyetujuin usulan istrinya.
Kemudian Jefri dan ayahnya berjalan pergi menjauh dari ruangan luas ini. Mungkin mereka menuju ke ruang tamu yang sudah di rencanakan. Sedangkan Joy harus stay di sini, di dapur untuk ikut berberes-beres. Di rumah ini sepertinya masih menerapkan wanita sebagai pengurus rumah tangga. Karena sejak tadi, Joy tidak begitu melihat ada pelayan di sini.
"Ayo, kita berberes sebentar," ajak Hera dengan semangat, "Maafin tente ya Joy, kamu harus ikut repot begini," lanjut wanita paruh baya itu.
Joy membantu membawa piring kotor ke tempat cuci piring otomatis. Sedangkan Rose membantu Tante Hera membersihkan beberapa makanan yang masih tersisa. Mereka langsung buang makanan itu tanpa pikir panjang. Bahkan Joy juga melihat makanan yang masih tersisa banyak, yang masih bisa disimpan dalam kulkas juga terbuang sia-sia.
Sebuah penghamburan yang tidak sepatutnya di lakukan. Dalam seumur hidup Joy, gadis itu selalu mendapat petuah agar selalu menyimpan makanan dan jangan membuang-buang makanan kecuali yang sudah basi. Bisa saja beberapa dari lauk hari ini yang bersisa banyak, disumbangkan kepada orang tidak mampu.
"Joy," panggil Tante Hera begitu tahu dirinya sudah menyelesaikan tugasnya.
"Iya tante?" jawab Joy.
"Tante cuma mau tanya sedikit. Bagaimana kamu bisa ketemu Jefri?"
"Kami dikenalkan oleh salah satu teman."
"Oh, jadi begitu kalian kenal. Pantas saja, beruntung sekali kamu bisa kenal dengan teman yang sama dengan Jefri."
Tunggu, kalimat yang diucapkan oleh Tante Hera bukan sebuah ejekan kan? Kenapa kesannya beliau melihatku begitu rendah, hingga bertemu Jefri saja termasuk sebuah keberuntungan, batin Joy.
Joy tersenyum tipis untuk menanggapi kalimat yang dilontarkan oleh ibu dari Jefri.
"Lalu, kapan kalian mulai berkencan?"
"Satu bulan yang lalu," jawabnya singkat.
"Baru satu bulan!" pekik beliau kaget.
"Memangnya kenapa tante?" Joy merasa aneh dengan keterkejutan Hera.
KAMU SEDANG MEMBACA
Help! [Ongoing]
RomansaPunya sahabat kalo nggak dimanfaatin ya buat apa? - Camila Joy Sahara Untung kenal dari orok, kalo nggak udah gua buang ke Afrika tuh sahabat sinting. - Alvian Jacka Swara
![Help! [Ongoing]](https://img.wattpad.com/cover/212909092-64-k543712.jpg)