FWB: 07

457 77 8
                                        

Joy terkejut dan heran, bisa-bisanya Alvian meminta Joy untuk tidur bersama. Memang bukan dalam artian buruk, tapi tetap saja. Mereka hanya sahabat, apalagi mereka lawan jenis. Mana mungkin Joy berani mengiyakan permintaan Alvian.

"Lo minta apa aja deh terserah, asal untuk malam ini lo gantiin mama,"  Alvian memelas lagi. Lelaki itu bukannya sengaja, tapi ada saat di mana ia sangat lelah dan butuh usapan lembut mamanya. Ini sudah menjadi kebiasaan bagi Alvian sejak SMP. Kalau malam ini ia tidur sendiri sudah bisa dipastikan ia tidak akan tidur nyenyak, yang mengakibatkan besok ia tidak bisa fokus. Kejadiaan ini pernah Alvian alami saat masa kuliahnya dulu, mamanya harus keluar kota sedangkan ia sangat lelah dan butuh sang mama. Pada akhirnya Alvian tidak bisa tidur sampai pagi, menyebabkan keesokan harinya ia tidak fokus dan mengalami kecelakaan saat mau berangkat kuliah. Dan itu adalah momen paling buruk seumur hidupnya, untung saja kecelakaan tunggal dan ia masih bisa selamat meski kakinya patah tulang.

"Udahlah Vi,  jangan kayak gini," Joy tetap menolak.

"Lo inget kejadian pas kita kuliah dulu? Gue kecelakaan tunggal. Itu gara-gara gak ada mama saat gue butuh. Persis kaya gini, gue cape gue butuh mama tapi mama nggak ada. Kalau bukan karena trauma yang dulu, gue ga maksa kaya gini," jelas Alvian lirih.

Joy jadi mengingat kejadian di mana ia hampir kehilangan sahabatnya ini. Kecelakaan tunggal Alvian, yang membuat dia harus cuti kuliah satu semester. Baiklah, karena ini memang masalah serius apalagi ini menyangkut trauma masa lalu lelaki itu. Joy terpaksa menuruti permintaan Alvian, kasihan juga kalau Joy tega menolaknya.

"Oke malam ini aja, tapi pintu harus tetep terbuka ya. Dan harus ada pemisah," pinta Joy, Alvian hanya mengangguk menyetujui. Ini sudah semakin malam, ia tidak ingin berlama-lama.

Joy memposisikan dirinya di samping Alvian, untung saja kasur lelaki itu berukuran king size. Jadi Joy tidak perlu berdempetan dengan Alvian. Joy juga menempatkan satu guling di antara mereka berdua.

Alvian yang sudah dalam posisi tidur, menuntun tangan Joy untuk mengusap-usap kepalanya. Joy hanya menuruti permintaan lelaki itu, tangannya mengusap lembut puncak kepala Alvian. Lama kelamaan, napas Alvian mulai teratur. Tangan Joy juga sudah mulai melemah gerakannya, menandakan jika Joy juga sudah menuju alam mimpi.

Dua jam berlalu, tubuh Alvian mulai bergerak tidak nyaman. Ia sudah tidak merasakan usapan lagi, tapi tangan Joy masib bertengger di rambutnya dalam keadaan diam. Alvian membuka matanya, dengan keadaan setengah sadar. Ia berjalan menuju lemarinya mecari baju yang nyaman untuk tidur. Karena ia tadi langsung tidur masih menggunalan hoodie hitam dan celana panjangnya. Ia berganti dengan bokser dan singlet longgar yang nyaman.

Alvian kembali ke tempat tidur, menyingkirkan guling pemisah antara Ia dan Joy. Dengan gerakan perlahan ia mendusel ke tubuh Joy, mencari tempat yang nyaman lalu menyelimuti tubuh keduanya dengan selimut.

***

Suara adzan subuh yang hampir berakhir itu berhasil membangunkan Alvian yang tertidur nyaman di pelukan Joy. Dengan semangat ia membangunkan tubuhnya untuk menunaikan ibadah sholat subuh. Melepaskan pelukan itu, lalu menuju kamar mandi untuk mandi dan bersiap memakai baju koko dan sarung. Tak lupa Alvian juga membangunkan Joy yang terlalu nyenyak tertidur. Seperti biasa Joy tidak akan mempan kalau dibangunkan dengan cara biasa. Jadi Alvian menutup hidung Joy sampai ia terbangun karena kehabisan nafas.

"Kenapa pakai cara kaya gitu sih, bisa meningoy nih gue kalau digituin terus," protes Joy karena paginya sudah dirusak Alvian dengan membuatnya sesak nafas.

"Lo kalau dibangunin pakai cara biasa udah nggak mempan sih. Sana deh ambil wudhu, kita jamaah di sini," perintah Alvian, Joy hanya mengangguk sebagai jawaban.

Sebelum keluar Joy bertanya kepada Vian, "Lo nggak macem-macem kan sama gue semalam? Lo tau kalau gue tidur itu mirip mayat, lo ngga ambil kesempatan dalam kesempitan kan?" tanya Joy dengan tatapan menyelidik.

"Jangan suudzon deh, suer gue nggak ngapa-ngapain. Lo kan udah kasih pemisah juga. Udah deh sana buruan wudhu," jawab Alvian berusaha terlihat tenang, semalam ia memang tidak ngapa-ngapain kok. Tapi ia akui kalau mengambil kesempatan untuk memeluk Joy, soal guling pemisah juga ia sengaja menyingkirkannya. Beruntunglah Alvian karena Joy punya kebiasaan tidur yang ajaib, ia tidak akan ketahuan.

Joy mengangguk, menerima jawaban lelaki itu. Ia percaya pada Alvian, apalagi Joy juga tidak merasakan hal aneh, tidurnya nyenyak, badannya juga normal. Akhirnya Ia keluar kamar Alvian, lalu menuju kamar tamu yang biasanya ia tempati. Di sana ia wudhu dan mengambil mukena, lalu kembali lagi ke kamar Alvian untuk Jamaah. Mereka melakukan ibadah sambil menunggu pagi, sampai jam 5:45 pagi mereka akhirnya selesai.

Alvian keluar kamar langsung menuju kamar sang mama. Di kamar itu, mamanya masih tidur lalu ia memeriksa suhu tubuh dan denyut nadi mamanya. Kalau mamanya belum sehat, mungkin ia akan membawanya ke rumah sakit. Alvian takut mamanya kenapa-kenapa.

Beda lagi dengan Joy, seperti rencana yang sudah ia susun kemarin, hari ini sebelum pulang ia akan memasakkan sup ayam jahe untuk Alvian dan Mamanya. Bahannya sudah ia siapkan dari kemarin, jadi sekarang tinggal dimasak. Apalagi hari ini ia harus berangkat ke kantor lebih pagi, karena ada agenda senam bersama. Kegiatan itu selalu dilakukan seminggu sekali yaitu hari kamis.

Setelah memeriksa sang mama, Alvian keluar menuju dapur untuk menemui Joy. Sukurlah mamanya membaik saat ia periksa tadi. Mungkin hanya perlu memulihkan tenaga. Alvian berjalan menuju belakang Joy yang sedang fokus mengaduk sup ayamnya.

"Joy," panggil Alvian dari belakang punggungnya. Mendengar panggilan itu, Joy yang fokus memasak hampir saja menjatuhkan sendok sayur yang ia pegang.

"Astaga Vi, bisa gak lo jangan ngagetin," bentak Joy.

"Gue bukan sengaja, emang lo yang terlalu fokus masak," balas Alvian sewot.

"Terserah, ini gue udah masak nasi sama sup ayam jahe. Gue harus pulang sekarang, ini hari kamis jadi gue harus berangkat lebih pagi."

Alvian yang mengerti maksud Joy langsung mempersilahkan Joy untuk pulang, namun sebelum itu, Joy menyempatkan diri untuk menjenguk mama. Joy pamit dan mendoakan kesembuhan mama tidak kandungnya itu.

Joy berjalan pelan menuju rumahnya, dan menemukan sang ayah yang sedang menyapu halaman depan rumahnya. Dengan sang bunda yang sibuk menyiram tanaman. Pemandangan yang indah dan juga terlihat romatis. Joy jadi membayangkan bagaimana kehidupan rumah tangganya kelak, ia ingin seperti orang tuanya yang kompak dan saling setia sampai diumur yang tidak lagi muda.

"Assalamualaikum bunda, ayah," sapa Joy saat memasuki halaman rumanhnya.

"Waalaikumsalam," jawaban kompak bunda dan ayahnya membuat Joy tersenyum.

Joy memasuki rumah diikuti bunda. Sang Bunda menyamakan langkah dengan putrinya itu. Ada hal yang ingin ia tanyakan kepada putrinya.

"Gimana keadaan mamanya Vian?" tanya bunda penasaran.

"Hari ini demamnya sudah turun kata Vian, tinggal memulihkan energinya aja. Bunda tenang aja, tadi Joy udah bikinin sup ayam jahe sesuai perintah bunda kemarin," jelas Joy.

To Be Continue

Help! [Ongoing]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang