FWB: 38

81 15 0
                                        

Pesta sudah berlangsung setengah jalan, dari awal acara pembukaan hingga selesai pidato dari beberapa petinggi rumah sakit. Dan itu kira-kira sudah menghabiskan satu jam acara. Joy mulai bosan, karena belum ada hiburan apa-apa sejak tadi.

Tanpa sengaja Joy menguap, dan disaksikan oleh Alvian. "Udah ngatuk?"

"Nggak sih, cuma bosen aja. Kapan ini makan-makannya? Dari tadi pidato terus," protes Joy lirih.

"Bentar lagi kali," balas Alvian.

Lelaki itu sebenarnya juga sama bosannya dengan Joy. Ia bukan tipe orang yang suka berlama-lama dalam pesta. Keramaian cenderung membuatnya jenuh.

Suara MC lelaki itu kembali memenuhi ruangan, memandu ke acara selanjutnya,"Sebagai sambutan terakhir sebelum kesegmen selanjutnya, Presidir dari Rumah Sakit Kasih Ibu akan memberikan sebuah kabar baik. Kepada Bapak Presidir dipersilahkan."

Satu ruangan kembali riuh dikala seorang pria paruh baya dengan rambut cenderung beruban putih, menaiki panggung dengan setelan jas hitam rapi. "Untuk kabar terakhir yang akan saya sampaikan, Rumah Sakit Kasih Ibu akan mendapatkan dokter spesialis anak baru sebagai penambah tenaga medis. Mari kita sambut dokter Karina untuk naik ke atas panggung."

Joy dan Alvian langsung menatap satu sama lain saat mendengar jika nama Karina di panggil ke atas panggung. Alvian cukup terkejut karena presidir langsung yang memperkenalkan dokter baru itu. Setahu dirinya, mau ada penambahan karyawan dalam posisi apapun tidak perlu perkenalan secara formal seperti ini. Apalagi di dalam acara ini ada tamu yang isinya para investor dan pemegang saham.

Benar saja, diakhir pidato presidir memperkenalkan Karina sebagai anaknya. Pantas saja wanita itu dikenalkan kepada seluruh anggota pegawai rumah sakit hingga petinggi juga.

Joy menghadap ke arah Alvian lagi dan berkomentar, "Vi, sayang banget cewek tadi ternyata anaknya yang punya rumah sakit."

"Sayang kenapa?" tanya Alvian bingung.

"Ya harusnya tadi lo deketin."

"Ogah, lo mah muka dua. Tadi dijelekin sekarang dibaikin gara-gara dia anak petinggi."

"Ini namanya kesempatan Vian, kalau lo bisa jadi sama dia. Jelas banget rumah sakit itu bakal jatuh ke tangan lo. Enak nggak tuh, lumayan juga gue punya temen kaya raya," nasihat Joy panjang lebar.

"Sinting," olok Alvian.

Setelah perkenalan khusus dokter Karina. Akhinya segmen selanjutnya berjalan juga. Ini sudah termasuk segmen terakhir, sebab sudah ada penampilan dari beberapa bintang tamu undangan. Mulai dari penyanyi, sampai tarian modern dan tradisional ada.

Jika para performer tampil, kami para undangan dipersilahkan untuk mengambil makanan. Joy masih setia menggandeng Alvian kemana-mana. Selagi ada kesempatan Joy mengambil semua makanan yang akan ia cicipi nanti. Dan Alvian ia jadikan korban yang akan membantunya membawa semua makanan yang ia ambil. Makanan di pesta itu bertema prasamanan, dengan makanan yang ditata rapi di meja panjang yang berada di tengah ruangan.

"Banyak banget Joy," protes Alvian begitu melihat Joy kembali mengambil satu piring.

"Ya kan nyoba satu-satu Vi. Kita nggak boleh rugi harus nyicipi semuanya, apalagi nanti juga takut antre kalau nggak ambil sekarang."

"Iya-iya, udah gue ikut lo aja."

"Nah gitu dong bestie."

**

Semakin malam acara pesta ini semakin private saja. Beberapa pelayan mulai kelaur sambil membawa gelas tinggi dengan isi yang sedikit. Joy tidak akan pura-pura tidak tahu, jelas minuman itu adalah minuman beralkohol. Kenapa Joy jadi ingin mencobanya ya, mungkin satu gelas tidak masalah. Lagian yang akan menyetir mobil nanti juga Alvian.

"Makin malem, suasananya berubah ya?"

"Hm, mau pulang sekarang? Mumpung acara intinya udah kelar."

"Nggak, gue masih mau makan sebentar. Lo mau ngobrol sama temen lo? Gue merasa bersalah udah suruh lo di deket gue terus."

"Dih tumben, ada sih orang yang mau gue ajak ngobrol. Tapi lo gimana?"

"Santai aja, gue mau cari makanan lagi."

Mencari makanan hanya alasan saja. Sebenarnya Joy ingin mencoba minuman yang baru keluar itu, ia penasaran. Jika ia masih bersama Alvian, lelaki itu pasti akan melarang.

"Oke, kita ketemu di sini lagi aja ya. Gue mau cari temen gue," pesan Alvian sebelum lelaki itu beranjak dari hadapan Joy.

Joy bersorak dalam hati, dengan tergesa langkahnya menuju salah satu pelayan yang membawa nampan berisi minuman cocktail. Gadis itu tidak sabar ingin mencicipinya. Ia mengambil salah satu yang berwarna merah, berhiasakan daun mint dan strawberry.

Dalam sekali seruput, Joy bisa merasakan manis pahit minuman itu. Rasa enak, dalam sekali teguk Joy kembali meminumnya hingga tandas. Sebuah pencapaian bagus, meski ini masih pertama kali gadis itu mencoba minuman beralkohol.

Sepertinya satu tidak cukup baginya. Ia harus merasakan untuk yang kedua kalinya. Ia janji ini terakhir, soalnya dia juga takut kalau Alvian memergokinya.

Joy sudah lupa diri, memang rencananya hanya minum dua gelas. Namun rencana hanyalah rencana, pada kenyataanya ini sudah gelas ke lima Joy meminu cocktail itu.

Badannya jadi panas, kepalanya mulai berputar berputar-putar. Ia sudah mabuk, tapi jangan sampai dirinya kehilangan keseimbangan di sini dan mempermalukan dirinya. Dengan sempoyongan dia berusaha jalan lurus ke tempat perjanjian antara dirinya dan Alvian.

Lelaki itu sudah duduk tenang menunggu Joy yang belum kunjung kembali dari mencari makan. Alvian heran sahabatnya itu rela sekali mengeluarkan banyak effort hanya untuk mencicipi makanan yang ada di pesta ini.

Alvian mulai menoleh ke kanan dan ke kiri guna mencari keberadaan sahabatnya. Dan dia terkejut saat menengok ke arah belakang. Joy berjalan dengan aneh. Pipi gadis itu juga memerah, mirip dengan orang mabuk.

Alvian menghampiri Joy, membantu wanita itu duduk di kursi. "Lo mabok Joy?" selidik Alvian.

"Hm? Nggak kok Vi," gumam Joy yang sudah agak tidak sadar.

Alvian mendekatkan hidunya menuju mulut Joy, dan benar saja ia bisa mencium bau alkohol samar-samar.

"Lo minum apa sih?"

"Apa ya? Lupa pokoknya enak... hehe."

Astaga, Joy sudah separah ini. Ia sebaiknya segera membawa gadis itu pulang, sebelum ada kejadian yang tidak diinginkan.

"Bisa jalan sendiri?" tanya Alvian khawatir.

"Bisa!" balas Joy semangat 45.

Jika Joy menjawab begitu berarti ia sudah tidak sadar, tidak bisa membayangkan realita dengan benar. Sepertinya lelaki itu harus pakai cara lain.

Pertama-tama Alvian menggandengan Joy hingga sampai pintu keluar. Beberapa orang ada memanggil Alvian hanya untuk diajak mengobrol, lelaki itu cukup terkenal juga di antara karyawan. Sayangnya urusannya dengan Joy lebih penting dari sekadar mengobrol santai. Bisa ditampar ayah Joy jika Alvian ketahuan tidak melarang gadis itu minum alkohol.

"Vi, Alvian," panggil seseorang dari belakang Alvian yang berjalan ke arah pintu keluar.

TBC

Help! [Ongoing]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang