FWB: 16

97 15 1
                                        

"Gue pesenin sekarang ya, Chandra udah mau sampai sini," izin Joy kepada Alvian.

"Oh, kalau gitu  gue nasi goreng pattaya minumnya air mineral aja."

"Oke deh."

Setelah itu, Joy langsung beranjak dari tempat duduknya lalu berjalan menuju stand penjual nasi goreng yang cukup ramai. Ia harus sedikit mengantre, lalu baru bisa memesan. Ia memesan sesuai yang di inginkan Alvian, dan Chandra.

Setelah pesanannya dicatat dengan benar, barulah Joy mendapat nomor tunggu yang di letakkan pada mejanya nanti. Joy tidak langsung kembali ke tempat Alvian, ia sedikit melihat-lihat ada jajanan apa di sana. Dan dia menemukan stand penjual makanan manis, ada puding, cake, dan beberapa dessert lainnya. Mungkin ia akan memesan apple pie, dan puding untuk mereka bertiga. Ia memesan di sana, dan langsung dilayani. Barulah setelah membeli dessert, ia kembali lagi ke mejanya.

Dan, Joy bisa melihat kalau Chandra sudah berada di sana. Lalu asik sendiri bicara dengan Alvian. Keduanya benar-benar terlihat akrab bak kakak adik melebihi Joy dan Chandra sendiri yang memang saudara kandung.

"Hoi Chan. Udah selesai lesnya?" tanya Joy begitu dirinya telah sampai di meja mereka. Ia segera duduk di samping Chandra. Posisi mereka sekarang adalah Joy berhadapan dengan Alvian, lalu Chandra berada di samping kakaknya.

"Belum, aku tadi udah ikut yang jam biologi. Tapi karena diajak makan, ya aku izin lah. Kan jarang tuh makan di mall begini," jawab Chandra cukup panjang.

"Oh, sehari aja sih nggak papa," sahut Alvian.

Joy pikir juga demikian, Chandra boleh saja ambis kedokteran tapi alangkah baiknya dia juga ada rehat. Kasihan juga kalau belajar setiap hari. Sudah les persiapan ujian nasional di sekolah sejak pagi, lalu pulang sekolah langsung lanjut lagi bimbel untuk tes masuk kedokteran.

"Iya bener, rehat sehari nggak ada salahnya."

Chandra mengangguk-angguk setuju
dengan ucapan kedua kakaknya itu. Otaknya juga kadang muak melihat pelajaran IPA setiap hari. Ia butuh istirahat dari pelajaran sejenak.

***

Di sisi lain, tanpa Joy tahu. Seseorang melihat dirinya yang begitu bahagia bersama Alvian dan Chandra. Itu adalah Jefri, lelaki itu kebetulan sedang berada di mall. Ia terkejut melihat Joy bersama lelaki lain, apakah itu kekasihnya atau orang lain. Jefri hanya bisa menduga. Hatinya merasa tidak nyaman, mungkin cemburu.

Semenjak kenal dengan Joy, ia mulai membuka hati untuk gadis itu. Meski baru bertemu satu kali, Jefri sudah cukup merasa dekat. Lelaki itu hanya berharap jika orang yang sedang bersama dengan Joy bukanlah kekasih gadis itu. Daripada membiarkan perasaannya tidak enak, Jefri akan coba konfirmasi langsung dengan Joy.

Ia membuka ponselnya, dan mulai mengetikkan pesan untuk Joy.

[Jefri]
Joy, besok bisa kita ketemuan? Ada hal yang mau aku bicarakan.

Di tempat Joy, ia merasakan ponselnya bergetar. Pertanda bahwa ada sebuah pesan masuk. Ia membuka ponselnya dan menemukan bahwa Jefri yang mengiriminya pesan. Tak menunggu lama, Joy langsung menjawab pesan itu.

[Joy]
Aku bisa setelah pulang kerja, mau ketemu di mana?

Setelah mendapat jawaban dari Joy, Jefri juga segera membalasnya.

[Jefri]
Mall XX, kita sekalian makan malam aja di sana. Bisa kan?

[Joy]
Baiklah, kabarin lagi besok ya.

Setelah itu, Joy kembali fokus pada makanannya sedangkan Jefri sudah sedikit tenang karena Joy tidak menolak pertemuan kedua mereka. Meskipun hatinya masih merasa tidak nyaman saat melihat dua sejoli itu saling bercengrama.

"Siapa?" Alvian tiba-tiba bertanya. Lelaki itu sudah memperhatikan Joy yang begitu fokus pada ponselnya dan mengabaikan makanan yang hampir dingin itu. Alvian hanya heran, biasanya jika sudah urusan makan gadis itu bisa mengabaikan segalanya. Siapa gerangan yang membuat Joy menjadi sedikit berubah.

"Eh, oh temen, besok ngajak ketemuan."

"Jefri?" tebak Alvian tepat sasaran.

Joy sedikit gelagapan karena ia langsung ketahuan. Terpaksa ia harus menjawab jujur.

"Iya, emang kenapa?"

"Nggak, just curious. Udah jangan fokus ke hp, makan dulu tuh nasi gorengnya."

"Iya iya."

Chandra yang memperhatikan kedua orang dewasa itu hanya bisa diam. Sepertinya ada yang aneh dengan keduanya. Chandra yang selalu melihat keakraban antara Joy dan Alvian sedikit merasa bahwa mereka sedang dalam keadaan canggung sekarang. Hal itu adalah suatu kejanggalan, Chandra jadi penasaran apa yang membuat mereka canggung. Apakah seperti yang ia dengar tadi, bahwa sang kakak punya teman dekat laki-laki baru.

"Udah malam nih kak, kita pulang yuk." Chandra akhirnya bersuara setelah diam sepanjang waktu.

Alvian dan Joy juga setuju, mereka memang harus pulang sekarang karena ini sudah mulai larut malam. Chandra harus sekolah dan berangkat pagi, serta Joy dan Alvian juga harus kembali bekerja. Baik Joy ataupun Chandra sampai saat ini belum juga mendapat kabar kalau orang tua mereka akan pulang. Dugaan Joy mungkin besok atau lusa orang tuanya baru pulang.

Mereka bertiga menuju tempat parkir bersama. Hingga menyadari kalau ternyata Alvian dan Chadra parkir di tempat yang berdekatan. Seperti sebuah takdir saja.

"Kakak boncengan sama aku kan?" tanya Chandra. Dia dan Alvian sama-sama naik motor. Chandra pikir akan lebih baik kalau sang kakak pulang dengannya, nanti bisa langsung pulang hingga tidak merepotkan Alvian.

"Jangan Chan, si Joy biar sama kakak. Pasti kamu capek kalau harus bonceng juga." Alvian mencoba agar hal itu tidak terjadi. Entah kenapa lelaki itu ingin lebih lama lagi bersama Joy. Karena sebelum ini mereka berdua sempat lost contact karena Alvian sebal dengan teman barunya Joy, yaitu Jefri.

Chandra agak ragu, namun ia tidak punya pilihan selain mengiyakan ucapan Alvian. "Ya udah deh, emang aku agak capek juga sih."

Joy sebenarnya tidak masalah mau naik di motor siapa, yang jelas nanti mereka pulang dengan selamat. Jika dengan Alvian ia tinggal minta turun di jalan depan rumah, lalu Alvian bisa langsung belok dan pulang. Kemudian kalau dengan Chandra ia bisa langsung masuk rumah, namun konsekuensinya adalah sang adik yang kelelahan.

"Ya udah sama Vian aja. Kamu duluan aja Chan, kami ngikutin dari bekang," balas Joy.

"Loh jangan, aku di belangnya kakak aja."

"Oke, terserah senyaman kamu aja. Kalau gitu kakak bakal duluan." Alvian menengahi keduanya.

Alvian mengode Joy untuk segera naik ke motor setelah memakai helmnya. Lagi-lagi Joy harus bersusah payah menaiki motor sport itu. Setelah tubuhnya di posisi nyaman, gadis itu menyuruh Alvian agar segera melajukan kendaraannya. Lalu diikuti oleh sang adik di belakang.

Alvian melaju tidak begitu kencang, hingga Chandra dapat tetap melihatnya dari belakang. Sedangkan di sisi Chandra, ia bisa melihat begitu dekatnya sang kakak dengan tetangga mereka, Alvian. Mau bagaimanapun, jika memang Kakaknya berakhir dengan Alvian itu akan membuat Chandra bahagia.

To be continue

Help! [Ongoing]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang