"Joy, sabtu besok lo senggang nggak?" tanya Alvian.
"Iya sih, ada apa?" balas Joy.
"Ada pesta ulang tahunnya rumah sakit. Gue boleh ajak satu orang. Lo aja ya, masa gue ngajak mama."
"Ngajak mama gak papa kali."
"Yah, kasian mama. Lo aja deh, soalnya acaranya sampai malam."
"Ya udah, tapi gue gak ada baju bagus. Kita shoping lah."
"Ya udah, besok jumat jangan pakai mobil sendiri. Gue jemput sekalian cari baju di butik."
"Siap boss. Udah fokus lagi, ini bentar lagi menang kita!"
Malam ini Joy main ke rumah Alvian. Mabar game online bersama. Semenjak mereka sudah saling memaafkan, hubungan keduanya kembali erat. Mumpung Jefri tidak ada, Joy bisa leluasa bermain dengan sahabatnya ini.
Ia jadi berpikir kalau pacaran benar-benar membatasi pergerakannya. Namun, Joy harus terpaksa demi menggagalkan rencana perjodohan sang ayah. Apalagi Jefri juga orangnya baik dan peka.
Ia masih bimbang dengan perasaannya sendiri antara diteruskan atau tidak. Apalagi Jefri ingin mengenalkannya dengan orang tuanya. Apakah Joy siap ketahap itu, dia sendiri masih ragu dengan perasaannya untuk Jefri.
"Woy, fokus jangan ngelamun ogeb," ujar Alvian sambil menoyor kepala Joy agar lekas sadar. Gadis yang tadi menyuruhnya fokus, malah kini melamun.
"Ih, kebiasaan. Kalau gue jadi bego beneran gimana!" omel Joy. Lama-lama otaknya ini lemot untuk dibuat mikir karena sering ditoyor sama Alvian.
Sampai jam tujuh malam tiba, Joy dan Alvian masih asik menatap ponsel masing-masing. Sambil marah-marah sendiri. Sudah pasti itu karena game online.
Mama yang melihat dua anak itu adu mulut hanya bisa geleng-geleng. Adu mulut di sini secara harfiah ya. Mereka saling membentak satu sama lain, hingga suaranya terdengar sampai ruang depan.
"Joy," panggil mama dengan suara keras.
Dua orang itu langsung beralih menatap kedatangan mama. "Ada apa ma?" tanya Joy penasaran.
"Dipanggil bunda kamu. Katanya sepupumu main ke rumah," mama menyampaikan informasi dari Ibunda Joy yang barusan saja ke rumah.
"Eh, serius ma? Ya udah Joy pamit langsung deh."
"Loh loh, belum selesai ini," protes Alvian.
"Tapi gue harus pulang Vi," gantian Joy yang membentak lelaki itu.
Mama yang melihat Joy dan Alvian kembali ribut, terpaksa turun tangan. "Vian ikut aja Joy ke rumahnya. Kalian main di sana, ribut lagi di sana."
"Oh iya, mama bener juga. Gue ikut!"
"Ya udah ayo."
Saat kedua sahabat tadi sudah keluar dari rumah. Mama menghela napas lega. Sedari tadi dirinya mendengar dua anak muda itu saling berdebat membuatnya pusing. Apalagi mereka juga berteriak, semakin membuatnya tidak fokus menonton berita.
Joy jalan terlebih dahulu di depan Alvian. Tidak lupa sebelum menyebrang ke rumah gadis itu melihat kanan kiri, takutnya ada kendaraan yang kebetulan mau lewat. Kalau dia tidak melihat jalan, bisa nyawanya yang lewat.
Saat selesai menyebrang, Joy kembali fokus melihat permainannya di ponsel. Begitu juga yang dilakukan Alvian, tetapi lelaki itu sesekali melihat jalanan yang ia pijak. Sedangkan Joy bodo amat dengan apa yang akan ia pijak dan lebih fokus dengan ponselnya. Sampai sebuah kejadian terjadi.
"ASTAGA," pekik Joy begitu dirinya tersandung dan hampir jatuh kerena batu paving rumahnya yang sedikit mencuat. Untung saja Alvian memegang tangannya, untuk menahan agar tidak jatuh.
"Makannya kalau main ponsel itu sambil liat jalan. Dikira semua jalan itu halus," omel Alvian kepada Joy yang cuma cengengesan.
"Makasih Vi, lo penyelamat gue. Kalau gue sampai jatuh, bisa pesek ini hidung karena nyungsep."
"Sama-sama. Udahlah kita lanjut di dalem aja gamenya."
"Siap."
Karena Joy sudah tidak fokus dengan ponselnya. Ia berlari dan diikuti Alvian untuk masuk ke rumah. Dari dalam rumah arah dapur, Joy bisa mendengar suara-suara ramai. Itu seperti suara sepupunya yang berasal dari Jawa Tengah itu.
"Bang Rehan?" panggil Joy. Sedangkah yang dipanggil Rehan tadi menolehkan kepalannya menuju Joy. Ia kaget ternyata yang memanggilnya adalah adik sepupu perempuannya yang dulu begitu manja kepadanya.
"Joy?" sahut lelaki bernama Rehan itu.
"Iya ini aku, adeknya bang Rehan. Kangen," ujar Joy langsung memeluk lelaki alias sepupunya itu.
"Abang juga kangen. Lama nggak ketemu," Rehan melepas pelukannya, lalu menatap adik sepupunya.
"Iya, sendirian bang?"
"Nggak lah, sama Mbak Miya sama dek Risang."
"Loh di mana keponakanku?" tanya Joy penasaran. Karena ia hanya bertemu dengan sepupu lelakinya.
"Di kamar tamu."
"Ya udah kalau gitu Joy ke sana."
Buru-buru Joy lari ke kamar tamu yang tak jauh dari kamar orang tuanya demi mencari keponakan lucunya. Sudah hampir setahun ia tidak bertemu ponakan lelakinya. Semua karena kesibukan Bang Rehan, sehingga tahun kemarin mereka tidak bisa main ke rumahnya.
"Halo bang Re," sapa Alvian yang sejak tadi keberadaannya dilupakan.
"Wah, nggak nyangkan bakal ketemu Alvian," ujar Rehan terkejut karena sahabat dari sepupunya juga ikut menyambutnya di rumah ini.
"Iya nih bang, mumpung tadi shift pagi. Jadi malam ini bisa main ke sini. Kebetulan juga gue ikut Joy karena penasaran sama keadaan abang. Kita udah jarang kontakan sejak bang Re pindah ke Jateng."
"Sorry Vi, biasalah kerjaan pengacara di sana padet banget. Apalagi mertua juga sering banget pengen lihat cucunya. Jadi mau main ke sini ya perlu buat jadwal dulu."
"Nggak papa bang, santai aja."
"Lo sama Joy gimana nih? Ada progres?"
"Progres apa?" tanya Alvian. Ia tidak mengerti dengan maksud pertanyaan Rehan.
"Progres hubungan lo sama Joy lah. Nggak usah sok jaim," jelas Rehan.
"Ya masih sahabat sih. Itu sepupu lo udah punya pacar baru."
"Pacar baru? Elo maksudnya?"
"What? Gue sama Joy? Nggak mungkin lah. Dia sama kenalan barunya."
"Loh jadi Lo sama Joy masih stuck di persahabatan?"
"Emang mau ke mana lagi sih bang kalau bukan sahabat?" tanya Alvian bingung. Memang kakak sepupu dari Joy sedikit random.
"Gue pikir Lo suka sama Joy."
"Wah ngaco bang Re."
"Ada apaan nih?" sahut Joy yang tiba-tiba sudah berada di dekat Rehan dan Alvian. Tak lupa gadis itu juga menggendong keponakan gembulnya yang baru dua tahun itu.
"Oh, nggak ada apa-apa. Gue cuma lagi ngobrol sama sahabat lo ini."
"Oh Vian, eh iya. Gue tadi kan pulang sama lo ya Vi?"
"Udah biasa juga gue dilupain."
"Ye, ngambek. Malu tau sama dek Risang."
"Hm," balas Alvian malas menjawab.
Rehan yang melihat interaksi Joy dan Alvian hanya bisa teridam. Bagaimana bisa Alvian tidak berprogres dengan Joy. Padahal mereka berdua begitu dekat seperti nadi.
Rehan tahu waktu SMA dulu Alvian menyukai Joy. Dan ia menjadi tempat curhat dari seorang Alvian waktu itu. Ia pikir setelah lulus Alvian akan menyampaikan perasaannya kepada sepupunya, ternyata tidak. Bahkan sampai sekarang Alvian terlihat belum menyampaikan perasaan terpendamnya itu. Malah Joy yang sudah memiliki pacar sekarang, apakah Alvian tidak cemburu?
To Be Continue
KAMU SEDANG MEMBACA
Help! [Ongoing]
RomancePunya sahabat kalo nggak dimanfaatin ya buat apa? - Camila Joy Sahara Untung kenal dari orok, kalo nggak udah gua buang ke Afrika tuh sahabat sinting. - Alvian Jacka Swara
![Help! [Ongoing]](https://img.wattpad.com/cover/212909092-64-k543712.jpg)