"Vi," panggil Joy lirih.
"Kenapa?" tanya Alvian dengan suara beritonnya.
"Kalau lo nikah sama gue, lo mau nggak?" akhirnya pertanyaan yang ia pendam semalaman bisa gadis itu keluarkan.
Alvian menatap Joy tidak percaya, "Ini pertanyaan serius atau cuma main-main?"
Hari ini Joy memberanikan diri untuk mengajak Alvian pergi keluar saat jam makan siang. Mereka mengunjungi salah satu Cafe yang terletak tidak jauh dari rumah sakit Alvian bekerja. Tepat jam makan siang Joy meminta izin untuk cuti setengah hari kepada atasannya, gadis itu tidak bisa lagi menahan pikirannya yang dipenuhi oleh Perjodohan, Perjodohan, dan Perjodohan yang telah dirancang oleh ayahnya.
Pagi ini sang ayah sudah mengancamnya jika dua hari lagi akan ada seseorang yang akan diperkenalkan kepada Joy. Kemungkinan besar itu adalah calon suaminya kelak. Waktu di kantor ancaman sang ayah itu tidak kunjung hilang dari otaknya. Sehingga apa yang dia kerjakan menjadi kacau. Untung saja sang Bos memberikannya kesempatan untuk cuti setengah hari khusus hari ini. Sehingga Ia memutuskan untuk langsung ke rumah sakit dimana Alvian bekerja, untuk menyampaikan unek-unek yang sudah gadis itu simpan dari semalam.
"Gue serius, Ayah bakal bawain gue calon suami dua hari lagi. Gue udah berpikir Vi, daripada gue hidup sama orang yang enggak gue kenali baik buruknya selama seumur hidup gue. Lebih baik gue nikah sama lo aja sih, sahabat gue yang gue tahu gimana bentukan lo gimana sifat lo dari kecil."
"Serius Ayah sudah tahu kalau lo putus dari Jefri?"
"Ayah tahu, Ayah tahu semuanya bahkan ancaman kita terhadap Jefri kemarin. Kata-kata lo yang bilang kalau gue calon istri lo Ayah juga tahu."
Alvian terdiam, dia tahu Ayah pasti berharap banyak kepadanya karena sudah sejak lama beliau menginginkan Alvian untuk menjadi calon pendamping Joy. Tetapi Avian tidak kunjung menyanggupinya, mungkin inilah saatnya. Alvian diberikan kesempatan untuk menjadikan Joy miliknya.
"Pemikiran gue juga sama kayak lo Joy, daripada gue nikah sama cewek yang baru kenal lebih baik gue juga nikah sama lo aja."
"Syukurlah dari kesamaan pemikiran ini, apa lo mau nikahin gue?"
"Tentu," jawab Alvian matang.
"Terus kapan lo mau ngomong ke ayah?"
"Habis pulang kerja ini, lo nggak usah terlalu terbebani. Sekarang bukannya lo harus kembali kerja?" tanya Alvian setelah ia melihat jam sudah melewati jam dua belas siang.
"Gue ambil cuti setengah hari, sejak pagi gue udah terlalu Stress mikirin Perjodohan yang bakal dirancang sama ayah. Gue takut kalau kehidupan pernikahan gue bakal nggak bahagia, yang gue pengen itu hidup sama orang yang gue sayang Vi."
"Ya udah, lo tenang aja. Apa Lo sekarang mau ikut gue aja di rumah sakit Lo tungguin gue deh di kantor?"
"Boleh?"
"Bolehlah siapa yang mau melarang. Karena sekarang lo udah jadi calon istri gue. Gue pikir lo perlu tahu bagaimana seluk beluk tempat kerja gue."
Joy Tertawa pelan, "Kita baru aja diskusi masalah ini dan lu udah anggap gue sebagai calon istri lo secara sungguh-sungguh. Baiklah kalau kayak gitu, gue juga bakal anggap lo calon suami gue yang sesungguhnya.
"Kalau gitu ayo balik ke rumah sakit. Jam makan siang gue udah mau habis."
Karena Alvian tadi hanya berjalan kaki, lelaki itu akhirnya menumpang kepada mobil Joy. Lelaki itu akan selalu menjadi supir jika bersama Joy. Daripada masalah persopiran, kini Joy sudah kembali lega, pikirannya sudah kembali tenang. Tidak semrawut seperti saat ia bekerja tadi, dan itu semua berkat Alvian yang menyetujui permintaannya.
Berkunjung ke rumah sakit memang hal biasa baginya, namun berkunjung dengan status calon istri Alvian merupakan hal yang baru bagi Joy. Dia tahu Alvian merupakan salah satu dokter yang paling banyak diidolakan di rumah sakit, bahkan banyak suster yang tidak menyukai Joy karena dia selalu menempel kepada dokter idola mereka.
Dan pada kenyataannya sekarang Alvian akan menjadi miliknya. Joy tertawa di dalam hati, merasa memenangkan pertandingan di antara para wanita yang berebut untuk menjadi kekasih Alvian.
"Sini Joy, lo kan udah tahu ruangan gue. So, silakan nikmati apa aja yang ada di dalam karena gue harus ke ruang praktik."
"Siap bos, gue bakal tungguin loh di sini. Tapi lo nanti pulangnya jam berapa?"
"Mungkin dua jam lagi, karena sekarang udah ada beberapa dokter anak yang pergantian shift sama gue."
"Oke lah selamat bekerja Pak dokter."
**
"Dokter Alvian, saya tadi melihat ada cewek yang tidur di ruangan dokter apa perlu saya usir?" lapor salah satu suster yang kebetulan bekerja satu shift dengan Alvian. Suster itu baru saja ke ruangan dokter muda itu, dan menemukan sosok perempuan yang tidur di sofa.
"Oh, jangan sus dia calon istri saya."
Mendengar ungkapa Alvian tentang calon istri suster itu terkejut setengah hidup, "Calon istri? sejak kapan dokter Alvian sudah punya calon istri?"
Alvian tertawa kecil menanggapi kekagetan salah satu suster yang menjadi bawahannya. Sejak hari ini, pasti suster familiar kan sama wajahnya. Dia sahabat saya yang biasanya mengunjungi saya di rumah sakit. Dan mulai hari ini dia merupakan calon istri saya."
Meskipun Suster itu patah hati atas pernyataan dokter idolanya. Apa boleh buat Suster itu hanya bisa tersenyum kecut, Dokter Alvian telah memilih calon istrinya sendiri jadi ia hanya bisa turut bahagia.
Sepertinya ini akan menjadi hari patah hati masal bagi fans dokter muda itu.
"Selamat ya Dok, Semoga lancar sampai pelaminan."
"Ya makasih Sus."
Perkiraan Alvian tentang jam kerjanya meleset, Ia akhirnya baru selesai praktik tiga jam kemudian, berarti sudah mengaret selama satu jam lamanya. Ia khawatir kalau Joy terlalu kebosanan menunggunya di dalam ruangan. Tapi mengingat perkataan dari suster, bahwa melihat gadis itu tidur sudah pasti Joy tidak terlalu sebosan itu karena waktunya dihabiskan untuk tidur.
"Berarti saya sebentar lagi sudah mau selesaikan sus?"
"Iya dok, sekarang sudah mau waktunya dokter Karina yang berjaga di Poli anak."
"Kalau begitu saya pamit pulang dulu, terima kasih kerja kerasnya hari ini."
"Sama-sama Dokter Alvian hati-hati di jalan."
Dokter muda itu akhirnya keluar dari ruangan poli anak dan menuju ke ruang kerjanya, menjemput seseorang yang sudah ia labeli sebagai calon istrinya.
Saat membuka ruangan dugaannya benar Alvian bisa melihat Joy tidur begitu nyenyak dengan posisi yang cukup aneh menurutnya. Mulut gadis itu sedikit terbuka dengan kepala yang mendongak ke atas. Joy tidur dengan posisi duduk, pasti leher gadis itu sakit karena terlalu lama mendongak Alvian memutuskan untuk segera membangunkan Joy supaya bisa melanjutkan tidurnya di rumah saja.
"Hei bangun, mau tidur sampai jam berapa?"
"Hah! Lo udah selesai Vi? Lama banget gue nunggunya lu bilang cuma dua jam."
"Maaf, maaf tadi memang ada beberapa pasien yang hanya gue yang tahu riwayat penyakitnya."
"Oke gue paham, kalau kerjaan lo emang butuh konsentrasi dan banyak waktu tersita."
"Makasih udah ngertiin. Kayaknya gue nggak salah pilih lo sebagai istri gue, karena cuma lo yang bisa ngertiin jam kerja gue yang begini hetic-nya.
"Ya karena gue udah kenal lo dari lama, kalau cewek lain diduain sama pekerjaan pasti dia gak suka. Dasarnya Lo emang workaholic sih."
Alvian membenarkan perkataan Joy lelaki itu memang workaholic sehingga jarang sekali ada wanita yang bisa menerima jam kerja yang tidak begitu terstruktur ini.
TBc
KAMU SEDANG MEMBACA
Help! [Ongoing]
RomancePunya sahabat kalo nggak dimanfaatin ya buat apa? - Camila Joy Sahara Untung kenal dari orok, kalo nggak udah gua buang ke Afrika tuh sahabat sinting. - Alvian Jacka Swara
![Help! [Ongoing]](https://img.wattpad.com/cover/212909092-64-k543712.jpg)