"Aku nggak suka kamu terlalu dekat sama Alvian," tegas Jefri.
Ini kencan kedua mereka. Setelah kemarin Alvian mengambil semua waktu Joy darinya, Jefri meminta gadisnya untuk bertemu lagi hari ini. Ia sudah merelakan waktunya untuk mengantar dan juga menjemput Joy. Ia tidak mau kecolongan lagi.
"Kenapa Jef?" tanya Joy penasaran. Pasalnya ia tidak merasa ada yang salah dengan hubungannya dengan Alvian. Mereka hanya sahabat.
"Aku nggak terlalu suka cara Alvian mengambil waktu kamu buat aku. Aku lebih butuh perhatian kamu daripada dia, aku kan yang sekarang pacar kamu. Prioritas kamu," jelas Jefri panjang. Ia ingin meluruskan permasalahan ini.
"Aku ngerti, maafin aku ya Jef. Aku bakal lebih perhatiin kamu."
"Makasih sayang," balas Jefri senang.
"Tapi Jef, kita ini mau ke mana? Dari tadi nggak sampai-sampai."
Jefri tersenyum misterius, "Rahasia, kalau aku kasih tau sekarang nggak jadi surprise dong," jawabnya misterius.
"Pelit," Joy berujar sebal.
Mereka sudah berkendara sejak Joy pulang kantor. Dan sekarang hampir setengah jam perjalanan mereka habiskan di mobil. Dan Joy sama sekali tidak punya clue ke mana Jefri akan membawanya.
Tak terasa Jefri mulai memelankan laju mobilnya. Bisa menebak mereka ada di mana? Tidak tahu? Sama Joy juga tidak tahu sedang di mana mereka. Yang jelas tempat itu seperti restoran yang bertema alam. Karena di sekelilingnya berhias banyak pohon dan berbagai macam tanaman hias.
"Ayo turun," ajak Jefri. Tak lupa lelaki itu membukakan pintu untuk Joy turun.
"Makasih," ucap Joy begitu dirinya turun dengan selamat.
Jefri membimbing Joy untuk memasuki tempat itu. Jefri memilihkan tempat privat, hanya ada satu tempat yang muat untuk dua orang. Begitu cantik karena terhiasi lampu-lampu. Di atas meja juga ada bunga sebagai hiasan. Apakah Jefri sendiri yang menyiapkan dinner romantis ini?
"Jef, ini kamu yang siapin?" Joy masih dalam keterkejutannya.
"Yes, karena kemarin aku nggak bisa kasih hal romantis kekamu. Hari ini aku udah siapin yang terbaik untuk date kita. Kamu suka?"
"Suka banget, ini pertama kalinya aku dinner romantis di tempat secantik ini. Makasih Jef."
"Anything for you princess."
Tak lama setelah mereka duduk, datanglah para pelayan membawakan berbagai macam makanan. Yang Joy yakin begitu mahal, karena tampilannya yang begitu mewah. Jefri benar-benar royal padanya, padahal mereka baru berpacaran dalam hitungan hari.
"Ayo kita makan, kamu pasti lapar habis pulang kerja."
"Makasih Jef, ini bener-bener bikin aku spechlees. Aku ngerasa belum pantas menerima ini."
Jefri tertawa pelan, dan mulai mengambil kesempatan untuk menggenggam tangan mungil Joy yang terasa halus di tangannya.
"Ini semua untuk kamu, jangan merasa tidak pantas. Karena aku sayang sama kamu."
Joy ikut tersenyum dan juga pipinya ikut bersemu. Jefri begitu memperlakukannya dengan manis, hatinya semakin luluh dengan sosok di depannya. Ia masih terus berdoa agar Jefri memanglah orang yang tepat.
Sepanjang malam itu mereka sangat asik bercerita, dan saling menceritakan masa kecil masing-masing. Jefri juga bercerita tentang orang tuanya. Tak disangka dahulu ternyata Jefri sempat tinggal di luar negeri sewaktu kecil. Tepatnya di Connecticut, USA. Hal itu cukup mengesankan bagi Joy yang belum pernah ke luar negeri sama sekali. Jika ia menikah nanti, gadis itu bercita-cita untuk bulan madu di luar negeri. Semoga saja tercapai, maka dari sekarang Joy juga selalu menyisihkan uang gajinya untuk ditabung.
Jefri ternyata juga begitu tertarik dengan masa kecil Joy yang begitu penuh warna. Meski ia agak sensitif saat Joy selalu menyebut Alvian disetiap kenangan masa kecilnya. Tapi mau bagaimana lagi, Alvian memang pemeran penting disetiap kisah milik Joy. Persahabatan mereka bukan ucapan semata, namun terbukti dari keduanya yang selalu saling menguatkan disetiap tanjakan hidup mereka.
Meski Jefri memberikan simpati kepada Alvian, bukan berarti ia menyetujui jika Joy masih dekat dengan sahabatnya itu. Dari mata Alvian, Jefri sendiri melihat ada keserakahan untuk memiliki Joy seorang diri. Dan ia tidak suka itu.
"Udah selesai?" Jefri bertanya. Ini sudah sangat malam baginya untuk membawa anak gadis orang keluar. Apalagi dia belum meminta izin kepada Ayah Joy tadi.
"Udah, mau pulang ya?"
"Iya, udah malem banget. Takut kamu dicari orang tua kamu."
"Oh, kalau begitu ayo deh."
***
"Makasih untuk hari ini Jef," kata Joy setelah ia turun dari mobil pacarnya itu. Kali ini Jefri memilih langsung pulang daripada mampir. Sepertinya akan mengganggu jika ia memaksa bertamu malam-malam.
Jefri terdiam sebentar, ia ingin menyampaikan sesuatu untuk Joy. Sejak tadi ia mau bicara, namun butuh waktu. Dan sekarang sepertinya waktu yang tepat.
"Sama-sama, sampai jumpa lagi. Sebelumnya aku mau minta maaf, untuk beberapa hari ke depan aku nggak bisa ketemuan dulu. Aku ada dinas ke luar kota. Aku bakal kasih kamu kabar, dari chat, telpon, atau video call. Jangan lupa diangkat dan dibalas, aku bakal marah kalau kamu cuek."
"Iya, hati-hati ya dinasnya. Semangat, biar bisa cepet pulang," balas Joy. Memang sedikit kecewa. Tapi ini soal pekerjaan, mana mungkin ia protes.
"Makasih. Kalau aku udah pulang nanti, aku bakal ajak kamu ke rumah. Mau kan?"
"Serius?"
"Iya, kamu belum siap?"
"Oh, nggak papa. Aku siap kok, aku tunggu kamu pulang."
"Bagus, siapin diri kamu buat ketemu orang tuaku."
Joy menggangguk mengerti. "Iya, udah sana pulang. Ini udah malem banget."
"Oke, bye."
"Bye."
Joy berbalik ke arah rumahnya. Lalu masuk lewat pintu samping yang belum dikunci. Rumah sudah sepi, tetapi ia sudah bilang kalau akan pulang malam. Jadi orang tuanya sengaja tidak mengunci pintunya.
Hari ini ia bahagia bisa kencan bersama Jefri dengan lancar. Ia juga bisa mendapat informasi baru tentang lelaki itu. Tetapi Joy juga jadi tahu kalau Jefri bukan orang sembarangan. Dari ceritanya, juga dari pekerjaanya. Lelaki itu pasti sangat kaya. Bahkan tanpa sadar juga, Joy selalu menaiki mobil mewah milik Jefri.
Joy awalnya tidak berpikir kalau lelaki itu kaya raya. Juga dari tampilannya Jefri cenderung sederhana, mirip dengan Jeka dan Alvian. Namun, ia terus dihantam fakta bahwa lelaki itu orang berada.
Kadang kala Joy berpikiran untuk tidak menikah dengan orang yang sangat kaya. Ia hanya mau lelaki yang biasa, namun memiliki pekerjaan tetap. Orang kaya kadang sombong dan terlalu menjaga image. Ia tidak bisa bergabung dengan kelompok sosialita.
Ia harap Jefri tidak sekaya itu. Tapi ia juga merasa bodoh, tidak mencari tahu dahulu siapa sosok yang dekat dengannya. Mentang-mentang ia dikenalkan oleh sahabatnya, Joy jadi terlalu percaya dan tidak memikirkan untuk mengorek informasinya. Kini ia hanya bisa merutuki kecerobohannya.
To Be Continue
KAMU SEDANG MEMBACA
Help! [Ongoing]
RomancePunya sahabat kalo nggak dimanfaatin ya buat apa? - Camila Joy Sahara Untung kenal dari orok, kalo nggak udah gua buang ke Afrika tuh sahabat sinting. - Alvian Jacka Swara
![Help! [Ongoing]](https://img.wattpad.com/cover/212909092-64-k543712.jpg)