FWB: 11

119 18 0
                                        

"Jefri itu siapa Joy?" tanya Alvian tiba-tiba.

Joy yang awalnya santai, menengang seketika. Dia terkejut, bahwa sahabatnya mengetahui nama Jefri. Bagaimana bisa itu terjadi, sedangkan ia saja juga baru kenalan dengan Jefri hari ini.

Namun, demi mempertahankan ekspresinya Joy tetap menjawab dengan berhati-hati. "Teman," jawabnya singkat.

"Teman tapi ngajak ngedate?" sindir Alvian.

Joy yang terang-terangan disindir oleh Alvian hanya bisa mencoba tenang. Alvian sangat mengerikan jika sudah mulai mengulik daerah pribadi seorang Joy. Sahabatnya itu bisa seperti detektif yang tak akan pernah berhenti bertanya jika belum mendapatkan jawaban yang diinginkan.

"Apaan sih Vi, kepo deh," balas Joy sewot.

"Oh, gitu ya. Sekarang mainnya rahasia."

"Ya lo tanyanya aneh-aneh."

"Nggak aneh kok, gue cuma pengen tau aja. Yang namanya Jeffry kirim pesan ke lo tadi. Nggak sengaja gue buka," jelas Alvian.

What?! Ternyata Alvian tahu dari sana. Bodohnya Joy, membiarkan ponselnya tanpa sandi. Dengan begitu, siapapun bisa dengan mudah mengintip privasinya.

Joy menghela napas kasar, berusaha menormalkan degup jantungnya yang tiba-tiba berirama sangat cepat. Sepertinya jika sudah begini, Joy hanya bisa jujur kepada Alvian. Mengumpulkan keberanian, Joy mulai mengambil nafas dalam.

"Oke, sebenarnya Jefri itu kenalan baru gue. Temannya Juki."

"Oh, baru kenal udah ngajak ketemuan?"

"Iya, emang kenapa?"

"Nggak papa, terserah lo aja. Ternyata lo sampai hati main rahasia di belakang sahabat lo sendiri."

Sebenarnya Alvian bukannya ingin memojokkan Joy, namun gadis itu memang harus sedikit diberi sentilan sedikit. Alvian akan sangat protektif jika Joy sudah mulai berhubungan dengan laki-laki. Ia yang istilahnya sudah menjadi bodyguard dari Joy sejak kecil, merasa memiliki tanggung jawab untuk mengetahui siapa saja yang mendekati sahabatnya itu. Alvian tidak mau saja kalau Joy mendapat masalah saat mengenal laki-laki asing.

"Bukan gitu Vian, gue nggak bermaksud main rahasia. Cuma gue belum nemu momen yang tepat buat cerita."

"Ya, kalau gitu gue berusaha paham. Gue mau pamit pulang dulu, mama udah WA."

Joy baru merasa bersalah sekarang. Keputusannya merahasiakan masalahnya dari Alvian adalah salah. Namun, ia juga tidak mau jika Alvian mengetahui jika ia terjebak dalam masalah jodohnya sendiri. Joy tidak mau jika Alvian merasa terbebani dengan masalahnya, apalagi lelaki itu sudah sibuk dengan pekerjaan dan mengurus sang mama. Joy ingin menyelesaikan ini sendiri, meski saat ini masih meminta bantuan kepada Seri dan Juki.

"Kenapa buru-buru Vi?" tanya Joy, saat Alvian ingin pamit pulang.

"Kan udah dibilang, mama udah Wa."

"Oke, titip salam buat mama."

"Hm."

Alvian terlihat menahan amarahnya tadi, hal itu membuat Joy semakin takut jika Alvian mengetahui jika ia masih memiliki rahasia besar yang lain. Oke, Joy harus tenang dan bermain hati-hati. Selagi tidak ada yang membocorkan masalahnya, itu bukan hal yang menakutkan.

Sepeninggal Alvian dari rumahnya, Joy kembali berkutat dengan dirinya sendiri di kamar. Memikirkan kembali tentang pertemuannya dengan Jefri, apakah berjalan dengan baik, pikir Joy. Semoga langkah ini akan membawanya ke pemecahan masalah yang bagus.

Setidaknya, jika Joy bisa membawa Jefri sebagai pacarnya meski itu hanya pura-pura, sang ayah akan menangguhkan proses perjodohannya. Itulah tujuan Joy sekarang, ia merasa belum siap jika harus melangkah jauh menuju jenjang pernikahan.

Melihat orang lain yang sudah menikah, ia belajar jika pernikahan bukan hal yang mudah. Banyak hal baru yang akan ia temukan dalam diri suaminya kelak, mau itu positif atau negatif. Sebagai anak perempuan yang banyak dimanja oleh sang ayah, Joy jadi merasa sedikit tidak rela jika harus terikat oleh pernikahan.

Joy memang selalu ingin dekat dengan laki-laki, namun tujuannya bukan untuk menikah. Di antara banyaknya lelaki yang sudah gadis itu kenal, belum ada satupun yang membuatnya 'sreg' hingga ingin menikah. Ia ingin menunggu momen itu, ia akan bahagia jika bisa melewati proses berpacaran lama hingga menemukan rasa klik dengan pasangannya.

Sepertinya keinginan yang Joy sebutkan tadi harus pupus. Kini sang ayah sudah mengancamnya pasal perjodohan. Jadi ia harus bergerak cepat, hatinya ini harus segera disegarkan dengan banyak berkenalan dengan lelaki.

***
"Pulang-pulang udah cemberu aja, kenapa? Ada masalah sama Joy?" tanya sang mama begitu Alvian melewati beliau yang sedang menata makanan di meja.

"Nggak papa Ma, lagi capek aja. Mana ada sih Alvian punya masalah sama Joy," Alvian berusaha menampik dugaan sang Mama.

"Ya siapa tahu, mungkin saja kan selama 20 tahun kalian bersahabat bisa bertengkar."

Alvian hanya diam begitu mamanya menebak dengan benar jika ia sedang bermasalah dengan Joy. Mungkin ini bisa Alvian sebut sebagai perasaan kecewa? Ia tidak habis pikir, bisa-bisanya Joy menganggapnya orang lain yang tidak berhak mengetahui masalah wanita itu.

"Udah lah ma, jangan bahas hal kayak gini. Alvian mau ke kamar dulu kalau gitu."

"Iya iya, eh nanti jangan lupa ya makan malam. Mama udah masak nih."

"Oke," jawab Alvian lesu.

Langkah beratnya berusaha terus berjalan menaiki tangga rumahnya. Alvian memutuskan untuk sebentar mengistirahatkan diri. Memikirkan tentang Joy bukan hal yang mudah baginya. Sosoknya sudah Alvian anggap sebagai adik sendiri, apalagi Ayah sudah mewanti-wanti jika Alvian harus terus menjaga putrinya.

Tetapi ini, malah putrinya sendiri yang selalu membuat jarak dengan Alvian. Rasanya ingin marah dengan Joy, namun ia urungkan. Wanita itu tidak benar dan juga tidak salah. Memang haknya membuat privasi masalahnya, tetapi di sisi lain Alvian merasa jika Joy melupakan persahabatan mereka.

Kalau Joy bilang tadi Jefri adalah kenalan dari Juki, mungkin Alvian bisa mencari tahu tentang lelaki asing itu dari si Juki langsung. Ia mendapat ide bagus, sekarang yang Alvian lakukan adalah membuka ponselnya dan mencari kontak dari Juki.

Dengan sekali tekan, Alvian menghubungi Juki melalui panggilan suara. Hingga dering ketiga berbunyi, akhirnya Juki mengangkat telponnya juga.

"Halo Vi?" tanya Juki dari sebrang sana.

"Juk, gini gue cuma mau tanya."

"Tanya apa?"

"Kenal yang namanya Jefri?"

"Kenal sih, dia temen gue. Emang ada apa? Lo kok juga kenal Jeffry?"

"Cuma pengen kenal orangnya aja. Gue tahu Jefri dari Joy."

"Oh gitu, lo mau stalking ya."

Tahu saja jika Alvian memang ingin menelusuri jejak dari seorang Jefri. Setidaknya jika ia tahu bagaimana reputasi sosok lelaki yang mendekati Joy ini, dengan senang hati Alvian akan mendukung hubungan antara Joy dan lelaki baru itu.

"Lo emang sahabat gue, udah cepet kasih tau informasinya tentang Jefri ini dong."

"Oke sabar,  dia Jefri Anggara pengusaha property, kalau lo coba cari berita orang ini lewat internet juga dapet Vi. Ini orang cukup populer soalnya," jelas Juki singkat.

"Bagus, thanks."

Setelah mendapat jawaban yang di inginkan Alvian langsung menutup panggilan suara itu tanpa kalimat penutup. Hal itu sukses membuat Juki agak sebal dengan Dokter Anak yang satu ini.

To Be Continue

Help! [Ongoing]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang