FWB: 09

273 48 2
                                        

'Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif'

Sudah puluhan kali Joy mendengar suara operator ini, ia sedang menghubungi Alvian. Ia sudah chat WA, Line, mencoba telpon langsung namun tetap saja belum ada balasan. Sesuai perintah ayahnya tadi pagi, ia ingin minta tolong Alvian untuk menjemputnya. Sekarang memang masih jam empat sore, jam pulang kantor memang masih satu jam lagi. Tetapi untuk berjaga, siapa tahu lelaki itu tidak bisa menjemputnya ia akan memesan ojek online saja.

'Apa mungkin Vian ada operasi ya? Kalau tidak ada operasi biasanya Vian fast respon,' batin Joy.

Akhirnya Joy berhenti menghubungi Alvian sejenak, mungkin ia akan menunggu sampai jam pulang kerja baru menghubungi lelaki itu lagi. Mungkin saja memang Alvian sibuk, lelaki itu juga bilang tadi pagi ada operasi.

Satu jam berlalu, akhirnya selesai juga jam kerjanya. Joy sekali lagi mengecek ponselnya, siapa tahu Alvian sudah membalas chatnya. Dan ternyata benar, Alvian menjawab chat WA-nya.

[Iya, gue bisa jemput. Tungguin di depan kantor. Ini gue siap-siap pulang, jam lima lebih sedikit mungkin udah sampai.]
Seen 16.50

Untung saja Alvian bisa menjemputnya, sayang juga uangnya kalau dibuat pesan kendaraan dari aplikasi. Jiwa pelitnya memang sudah mendarah daging, selagi ada yang gratis kenapa harus buang-buang uang. Joy merapikan mejanya, memasukkan barang yang perlu dibawa pulang. Lalu ia langkahkan kakinya menuju lift untuk turun ke lantai dasar.

"Joy, pulang sendiri apa dijemput?" tiba-tiba seseorang bertanya padanya. Dan ternyata bang Romeo, yang juga akan menaiki lift.

"Dijemput bang, kenapa?" tanya Joy.

"Gapapa, tadi pagi abang lihat kamu diantar. Kalau nggak ada yang jemput mau abang antar pulang," jawab Romeo.

"Oh, tenang aja Bang. Aku udah dijemput."

Romeo memang kadang beberapa kali ia mintai tolong, untuk mengantar pulang kalau misalnya Alvian tidak bisa jemput. Tidak sering sih, orang tuanya saja tidak terlalu kenal dengan Romeo. Kadang Joy hanya minta diantar sampai gerbang perumahan saja, Joy sedikit khawatir jika ia diantar oleh laki-laki yang belum dikenal orang tuanya, malah membuat Sang Ayah berpikiran yang iya iya. Ah, Jadi kepikiran lagi kan soal calon suami yang harus dibawa lima hari lagi.

Setelah mencapai lantai dasar Joy segera keluar dari gedung dan mencari mobil Alvian. Ah ketemu! Mobil Pajero hitam terparkir manis di dekat gerbang masuk kantornya. Segera Joy menghampiri mobil itu.

Joy mengetuk jendela mobil dengan pelan untuk mendapatakan atensi Alvian. Lelaki itu langsung membuka pintu, lalu berdiri berhadapan dengan Joy. Tanpa basa-basi Alvian memberika kunci mobil kepada Joy.

"Tolong setirin ya Joy, capek banget gue tadi habis operasi langsung cepet-cepet jemput lo," pinta Vian.

Melihat tampang Alvian yang memang hampir sama melasnya seperti kemarin malam, tanpa protes Joy mengambil alih kursi kemudi.

"Kalau capek tidur aja Vi," ujar Joy sambil menyetir dengan hati-hati. Alvian hanya bergumam, lalu menutup matanya dan mencari posisi nyaman untuk tidur sesuai perintah Joy. Joy menjalankan mobilnya sedikit lebih pelan, sengaja agar Alvian bisa tidur lebih lama.

Sekitar tiga puluh menit mereka pun sampai di rumah Alvian. Joy memakirkan mobil itu di depan rumah lelaki itu, tidak Joy masukkan ke garasi. Biar Alvian saja yang masukkan, soalnya Joy masih takut kalau memarkirkan mobil besar seperti Pajero ini ke garasi.

"Vi, Vian bangun udah sampai," Joy memanggil dan menggoyangkan tubuh Alvian yang tertidur cukup pulas.

"Eungh, Hoam," Alvian menggeliat meregangkan badannya yang kaku. Melirik Joy yang memberikan kode agar segera turun dari mobil. Mereka pun turun, Joy memberikan kembali kunci mobil milik Alvian.

"Gue langsung pulang ke rumah ya. Lo istirahat sana," pamit Joy. Vian menganggukan kepala, lalu mempersilahkan Joy untuk pulang.

***

Saat sampai di rumah, ternyata Chandra dan kedua orang tuanya belun pulang. Tadi bundanya berpesan kunci rumah ditaruh di pot, langsung saja ia cari pot yang dimaksud sang bunda. Setelah sukses masuk ke dalam rumah, segera saja Joy menuju kamarnya, membersihkan diri, ganti baju, lalu membaringkan tubuhnya ke kasur. Capek sekali hari ini, besok hari jumat, hari terakhir masuk kerja. Sabtu dan minggu Joy bisa menikmati liburnya.

Joy belum mengantuk, iseng-iseng ia membuka instagramnya. Seperti biasa, setiap ia upload foto langsung mendapat puluhan ribu like. Ada beberapa komentar juga dari teman-temannya. Oh, dan ada DM, Joy lihat ternyata dari Seri.

[Kak Joy, aku udah cerita masalah kakak ke suami aku. Dan ada solusi, kalau kakak bersedia. Nanti Mas Jeka bantu kenalkan sama temannya.]

Syukurlah, sesi curhatnya dengan Seri membuahkan hasil. Semoga memang ini salah satu jalan menuju jodohnya. Rasanya beban di pundaknya mulai berkurang.

[Wah makasih Ser, Kakak mau coba, siapa tahu memang ini jalannya. Kita pindah ke WA aja yer.]

Balas Joy, meminta agar percakapan itu pindah ke WA. Setelah itu ia buka aplikasi WA, lalu mencari kontak Seri dan menelponnya.

(WhatsApp Call)

'Assalamualaikum Seri, Kakak tertarik buat kenalan. Tapi apakah bisa cepat Ser? Kakak cuma punya waktu lima hari lagi.'

'Waalaikumsalam kak. Nanti aku bilang suami aku kak, biar kakak dikasih nomornya sekalian siapa tau mau ketemuan.'

'Oke deh, makasih banget Ser.'

'Iya sama-sama kak.'

'Ya udah kakak matiin dulu telponnya. Aasalamualaikum.'

'Waalaikumsalam.'

Sekarang sudah cukup malam, Joy memutuskan untuk tidur agar tenaganya pulih kembali. Joy mulai memejamkan mata dan merilekskan tubuhnya. Badannya agak pegal-pegal gara-gara senam tadi pagi. Lama kelamaan kesadarannya mulai habis dan sampailah Joy ke dunia mimpi.

Joy bangun jam lima kurang seperempat pagi, alarm subuh terus berbunyi sampai hampir menulikan telinganya. Joy meregangkan tubuhnya, lalu bersiap mengambil wudhu dan salat subuh. Seperti kebiasaanya, setelah subuhan ia pasti sempatkan untuk membaca Al Quran sampai jam setengah enam pagi barulah ia keluar menyapa ayah dan bundanya yang rutin berkebun disetiap pagi. Hari ini Joy lebih santai, jam kerjanya nanti hanya sampai setengah hari.

"Selamat pagi ayah, bunda," sapa Joy menghampiri orang tuanya yang sedang berkebun di halaman depan.

"Pagi nak," jawab ayah.

"Pagi anaknya bunda," jawab bunda.

"Ada yang bisa Joy bantu?"

"Nggak usah, kamu bangunin adek kamu aja ya, sama bikin sarapan. Katanya Chandra ada les pagi di sekolahnya buat persiapan UN," ujar sang bunda. Yah, seperti yang ayah dan bundanya tahu, Joy memang tidak ada bakat berkebun. Daripada merusuh sebaiknya Joy melakukan pekerjaan di dalam rumah saja.

Setelah mendapat titah dari bunda, Joy langsung berlalu ke kamar Chandra yang tertutup rapat. Joy mengetuk pintu, awalnya pelan lama-lama semakin kencang, sampai lima kali baru terdengar sahutan dari kamar itu.

"Chandara udah bangun! ini mau mandi," teriak Chandra dari dalam kamar, tanpa membuka pintu. Joy memasang wajah cemberut, padahal ia ingin melihat wajah bantal Chandra, adik gembulnya selalu menggemaskan sehabis bangun tidur.

Selesai melakukan tugas pertama, Joy lanjut untuk memasak sarapan. Kali ini masak sederhana, yaitu nasi goreng spesial pakai telur salah satu makanan kesukaan Chandra. Karena Chandra sudah mulai sibuk persiapa ujian, Joy berbaik hati membuatkan makanan kesukaannya biar Chandra lebih semangat.

Akhirnya pada pukul delapan pagi, Joy sudah siap dengan mobilnya yang kemarin baru diservis ayahnya, lalu Joy melajukan mobilnya menuju tempat kerjanya.

Tbc

Help! [Ongoing]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang