FWB: 26

95 16 1
                                        

Acara grand opening kafe milik teman Jefri berakhir dengan Joy yang tertinggal sendiri dari percakapan seru mereka. Dia hanya seperti patung pajangan yang kebetulan dibawa oleh Jefri. Rose yang terlalu ekspresif itu selalu mengalihkan perhatian Jefri saat lelaki itu ingin berbicara dengan Joy.

"Rose, kayaknya aku sama Joy mau pulang duluan," ujar Jefri tiba-tiba. Bahkan Joy juga cukup kaget, padahal Rose dan Jefri sedang dalam pembahasan yang seru.

"Kenapa buru-buru? Ini masih belum jam sembilan Jef," kata Rose dengan nada kecewa.

"Iya Jef, kalau masih mau ngobrol. Pulangnya nanti aja juga nggak papa," Joy ikut menimpali.

"Nggak, kita pulang sekarang aja," balas Jefri kepada Joy. "Sorry Rose, we need to go," lanjut Jefri berpamitan.

"Oh, ya udah kalau begitu. Thanks udah mau mampir ya Jef, Joy. Kalau kalian ada waktu, sering-sering aja main ke sini," ujar Rose.

"Kami usahain. Kami pulang dulu, sukses untuk kafenya," kata terakhir Jefri sebelum ia menggiring Joy keluar menuju tempat parkir mobilnya.

Joy sungguh kebingungan, karena Jefri begitu tiba-tiba memutuskan untuk pulang. Ia kira mereka akan lebih lama di sana. Apa mungkin Jefri merasa bersalah padanya, karena sangat terlihat di wajahnya jika ia sama sekali tidak menikmati acara tadi.

"Kenapa buru-buru pulang?" tanya Joy penasaran begitu mereka sudah berada di dalam mobil. Jefri masih belum menjalankan kendaraan roda empat itu.

"Udah terlalu ramai aja, jadi kurang nyaman," jawab Jefri sekenanya.

"Oh, gitu," Joy memaklumi. Lalu keheningan mengisi mobil itu. Serasa tidak ada percakapan lagi, Jefri mulai menjalankan mobilnya. 

Joy tahu jika mereka akan pulang. Namun, jalan yang dilalui oleh Jefri bukan arah ke rumahnya. Ia jadi was-was sendiri.

"Jef, kita mau ke mana?" tanya Joy sedikit khawatir.

"Kita cari makan, biar bisa ngobrol berdua. Soalnya dari tadi, aku nggak bisa ngobrol tenang sama kamu. Rose terlalu banyak ngajak ngobrol aku," jelas Jefri secara gamblang.

Joy cukup terkejut dengan penjelasan Jefri, lelaki itu ternyata ingin banyak bicara dengannya. Apakah ini tanda jika Jefri lebih suka menghabiskan waktu dengan Joy? Entahlah, Joy hanya bisa menduga.

Tak terasa mobil mulai memelan, Jefri membelokkan mobil ke arah penjual kaki lima yang berjejer di pinggir jalan. Mirip seperti pasar malam, namun ini versi penjual makanan. Sepertinya Joy pernah ke sini dengan Alvian, tapi ia lupa kapan.

Ingatkan dia tidak terlalu suka makan di luar atau main di luar jika bukan di ajak terlebih dahulu. Sebelum ada Jefri yang mengajaknya keluar, hanya Alvian yang mengajaknya main keluar. Pada dasarnya Alvian juga bukan orang yang suka main, jadi berakhirlah mereka di rumah. Alvian yang berprofesi sebagai dokter pun tidak terlalu suka juga jajan di luar, lelaki itu lebih suka membuat masakan sendiri atau buatan sang mama. Jika sedang iseng, Alvian akan menyuruh Joy yang memasak.

"Joy, ayo turun," lamunan Joy buyar karena panggilan Jefri.

Astaga, Joy merutuki dirinya sendiri karena berani memikirkan Alvian saat ia bersama Jefri. Memang dasar Alvian, lelaki itu seperti tidak bisa lepas darinya. Bahkan saat Joy berkencan Alvian masih nyangkut di pikiranya.

Joy turun dari mobil dan mengikuti langkah Jefri menuju penjual lalapan. Iya tertulis jelas bannernya di depan. Joy cukup suka lalapan, Jefri membuat pilihan yang benar.

"Suka lalapan?" tanya Jefri seraya mengajak Joy duduk di salah satu kursi.

"Lumayan," jawab Joy.

"Bagus, mau lalapan apa? Ayam atau bebek?"

"Ayam aja, oh iya sambelnya jangan pedes."

"Oke, aku pesanin dulu. Aku tinggal sebentar."

Jefri pergi meninggalkannya sendirian untuk memesan makanan mereka. Sebenarnya Joy sekarang tidak terlalu lapar, makan pizza dan hot chocolat di kafe milik Rose sudah cukup mengenyangkan baginya. Tetapi, mau menolak ajakan Jefri membuatnya tidak enak hati.

"Ini, pesanan kamu lalapan ayam goreng," Jefri datang setelah ia menunggu sekitar sepuluh menit. Lelaki itu meletakkan pesanan Joy di meja.

"Makasih Jef," ucap Joy.

Mereka langsung memakan pesanan masing-masing. Jefri sangat lahap memakan lalapan bebek pesanannya. Sedangkan Joy, terlihat agak tidak terlalu berselera namun berusaha untuk tetap memakan lalapan itu sampai habis. Ia sayang dengan uang yang sudah dikeluarkan Jefri untuk membeli makanan ini. Tidak baik menyia-nyiakan makanan. Seandainya ia dengan Alvian, lelaki itu pasti mau memakan punya Joy jika gadis itu tidak habis. Ya, ampun. Joy memikirkan Alvian lagi. Ia jadi sebal sendiri.

"Gimana rasanya? Enak kan?" tanya Jefri setelah lelaki itu menghabiskan satu porsi.

"Enak kok," balas Joy. Memang enak ayam gorengnya, cuma sambalnya cukup pedas di lidahnya.

"Joy, kamu tuh beda ya cewek kebanyakan. Kamu mau aku ajak ke penjual kaki lima kayak gini," puji Jefri tiba-tiba.

'Eh, apakah ini ujian dari Jefri?' pikir Joy. Apa lelaki itu ingin memastikan jika Joy bukan termasuk wanita matre yang suka makan di restoran mahal?

"Beda gimana, biasa aja. Aku suka kok makan di mana aja, yang penting sesuai aja sama selera."

Jefri tertawa kecil, "Kamu tuh lucu ya. Bisanya cewek kalau udah dipuji beda tuh seneng."

"Gombal."

"Serius, kamu tuh beda dan aku suka."

"Hm? Maksudnya."

"Ya, aku suka kamu."

"Eh, tiba-tiba banget confess," ujar Joy terkejut.

"Kamu belum siap ya?" ujar Jefri sedikit kecewa.

"Loh, itu kamu serius confess ke aku?" 

"Serius," kata Jefri mantap.

"Secepat ini?"

"Iya, apa salah kalau aku suka kamu secepat ini?"

"Nggak, nggak salah. Cuma aku kaget."

Joy bingung, lelaki di hadapannya ini suka sekali mengejutkan dirinya. Ini belum genap sebulan mereka saling kenal, dan Jefri sudah menembaknya. Joy kaget sih, tapi ini kesempatan untuknya menjalin hubungan yang serius.

"Aku, Jefri, suka sama kamu Joy. Will you be my lover?"

"Yes," jawab Joy lirih.

"Akhirnya, terima kasih sudah mau menerimaku."

"Aku juga berterima kasih, kamu mau menjadikanku kekasih."

"Semoga kita bisa langgeng."

"Tentu saja."

**

"Wah, baru pulang udah senyum-senyum sendiri. Ada apa nih?" bunda yang memergoki Joy tersenyum sepanjang memasuki rumah.

"Ih, bunda ngagetin Joy. Nggak ada apa-apa kok, cuma acara tadi seru aja."

"Yakin cuma acaranya yang bikin seneng. Orang yang ngajak emangnya nggak bikin seneng?" goda bunda dengan senyuman jahil.

"Bun, udah deh jangan godain Joy lagi. Ngambek nih nanti," ancam Joy dengan wajah cemburunya.

"Iya deh, ya sudah sana tidur. Udah malem juga ini."

"Oke bun."

Meninggalkan sang bunda menuju kamar, Joy kembali tersenyum. Semua itu sebab Jefri yang mengajaknya berpacaran. Hatinya mau meledak saking senangnya. Semoga Jefri adalah orang yang tepat.

To Be Continue

Help! [Ongoing]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang