FWB: 54

74 15 0
                                        

"Ayo kita pulang sekarang, memang mau terus-terusan tidur di ruangan ini?" Alvian mengingatkan Joy yang masih saja tenang di sofa. Padahal jam kerja Alvian sudah habis.

"Enggak-enggak ayo pulang," balas Joy menolak. Ia tidak mau ditinggal di sini meski ruangan ini begitu nyaman baginya.

Alvian memimpin perjalanan mereka hingga keluar rumah sakit. Seperti biasa Alvian tidak akan pernah luput dari perhatian para pekerja di sana, sosoknya yang masih muda, berwibawa, dan juga sangat cerdas membuat lelaki itu begitu banyak dikenal hingga seluruh kalangan karyawan di rumah sakit.

Sebab Alvian yang menjadi pusat perhatian, Joy juga tidak luput dari tatapan para penggemar sahabatnya itu. Setelah gadis itu perhatikan ada banyak bisik-bisik yang sedikit bisa ia dengar namun tidak begitu jelas bisik-bisikan apa yang mereka katakan. Akibatnya Joy jadi sedikit kurang nyaman dengan apa yang mereka lakukan.

Tanpa keduanya sadari berita tentang Alvian telah mendapatkan calon istri sudah menyebar hampir ke seluruh karyawan rumah sakit. Tentu saja siapa lagi kalau bukan suster yang menjaga Poli Anak itu yang menyebarkannya. Bisikan-bisikan itu merupakan sebuah kalimat yang berisikan tentang ketidakpercayaan mereka jika Joy merupakan calon istri dari Dokter kebanggaan mereka mengingat keduanya dulu hanyalah sebatas teman.

"Lo terkenal banget sih di rumah sakit," protes Joy kepada sahabatnya yang terlihat cuek dengan tatapan orang-orang yang mereka lewati.

"Biasa, lo kayak pertama kali kesini aja. Biasanya juga lo diem."

"Tapi ini mereka udah mulai bisik-bisik, gue jadi nggak enak," Joy menyampaikan kekhawatirannya.

"Udah deh nggak usah dipikirin, lebih baik fokus kita pulang."

"Iya iya jangan ngomel dong," ejek Joy karena tanggapan Alvian. Ternyata diam-diam lelaki itu jengah juga karena menjadi pusat perhatian.

Karena Alvian tadi juga membawa mobil, mereka berdua pulang dengan kendaraan masing-masing. Joy berada di depan, sedangkan Alvian mengikutinya dari belakang.

Karena ini masih cukup sore jalanannya juga belum padat. Joy menjalankan mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi, Alvian hanya mengikuti gadis itu, tetapi lelaki itu selalu miris dengan bagaimana sahabatnya itu mengendarai mobil. Menurutnya Joy sangat ugal-ugalan dengan kecepatan setinggi itu, rasanya Alvian ingin terus mengklakson mobil yang ada di depannya.

Perjalanan begitu lancar hingga keduanya sampai di depan komplek perumahan mereka. Alvian berbelok ke rumahnya begitu pula Joy. Gadis itu memarkirkan mobilnya di garasi rumah, lalu ia melangkah pelan memasuki rumah. Ia berharap tidak bertemu dengan kedua orang tuanya, sebab ia masih trauma dengan kejadian semalam.

"Udah pulang kamu Joy?" tanya Bunda yang kebetulan lewat di dekat pintu masuk rumah.

"Eh, Bunda. Iya nih," jawab Joy canggung.

Memang tidak biasanya Joy pulang se sore ini. Sebab jam pulang kerja gadis itu adalah tepat pukul lima nanti, namun sekarang masih pukul empat sore gadis itu sudah sampai rumah. Tentu saja itu merupakan hal yang mencurigakan.

"Joy mau ke kamar dulu ya Bun," izin gadis itu berniat kabur.

"Ya udah sana," Bunda membiarkan anak gadisnya itu pergi tanpa bertanya hal lain.

Gadis itu meninggalkan sang Bunda yang masih berada di ruang depan, Joy berlari kecil menuju kamarnya. Ia segera membersihkan diri juga berganti baju, kemudian ia merebahkan tubuhnya di kasur empuk miliknya. Joy jadi kepikiran lagi kata-kata dari Alvian. Lelaki itu bilang kalau akan bicara dengan ayahnya hari ini, setelah pulang kerja. Tapi ini tadi Alvian langsung berbelok ke rumahnya tanpa menjelaskan apa-apa lagi padanya. Joy kan jadi semakin deg-degan menunggu Alvian untuk ke rumah.

Panjang umur, gumam Joy. Baru saja ia memikirkan lelaki itu sekarang ponselnya sudah berdering menampilkan panggilan suara dari Alvian.

"Halo Joy," kata Alvian di dalam panggilan itu.

"Iya? Lo mau ke rumah gue ya Vi?" tanya Joy tidak sabar.

"Hm, lo cepet siap-siap sana, karena gue bakal ke rumah lo buat bicarain hal yang tadi."

"Tunggu, ini serius kan Lo nanti mau nikah sama gue? Jadi lo mau ngomong sama Ayah kan habis ini?"

"Iya, masih aja nggak yakin lo sama jawaban gue. Udah yang jelas sebentar lagi gue mau ke rumah lo, sebaiknya lo bilangin dulu ke ayah bunda."

Joy tersenyum canggung, meski Alvian tidak melihatnya. "O-oke tapi gue harus bilang apa ke mereka?"

"Bilang kalau Alvian mau ke rumah, melamar anak sulung mereka."

"Lamar? Yakin lo Vi secepat ini? Gue pikir lo cuma mau bilang ke ayah aja, bukan ngelamar. Gila lo gue nggak ada persiapan sama sekali," omel Joy ketika Alvian mengutarakan tujuan yang sebenarnya.

"Lo tadi nggak yakin, sekarang gue gerak cepat juga diomelin, serba salah. Udah deh nurut aja, gue juga nggak perlu persiapan. Ini juga bukan acara formal, gue cuma mau ngelamar lo buat ngeyakinin ayah kalau kita memang benar serius akan menikah. Kalau nggak gini, lo mau masih di teror sama perjodohan?" 

"Nggak mau, ya udah gue bakal bilang ke bunda sama ayah tentang ini."

"Nah, bagus. Gue bakal ke rumah lo sebentar lagi sama mama."

"Eh, Vi. Emang mama enggak kaget lu tiba-tiba bilang mau ngelamar gue?" 

"Kaget sih, tapi mama kayak udah menduga gitu kalau kita bakal kayak gini."

"Mama udah kayak cenayang aja," gurau Joy.

"Udah deh lo cepet buruan bilang ke ayah bunda, gue duga mereka juga bakalan kaget."

"Pasti lah, siapa yang bisa duga kalau kita bakal nikah. Baiklah, gue ngomong ke ayah bunda, dan gue mau dandan dulu yang cantik."

"Iya terserah," Alvian menanggapi dengan datar, lalu langsung menutup panggilan suara itu.

Setelah mendapat telepon dari Avian tadi, tiba-tiba saja hati Joy merasa hangat. Ia masih belum percaya sepenuhnya dengan keputusan mereka. Tapi ia sangat bahagia, ini antara perasaan lega dan senang di saat yang bersamaan.

Jadi sekarang Joy harus segera bersiap. Dia perlu mandi dan berdandan. Tetapi, sebaiknya dia bicara dulu dengan ayah dan bunda, bisa-bisa mereka nanti kaget melihat Alvian tiba-tiba kesini ingin melamarnya. Bayangkan saja Joy kemarin masih memiliki pacar yang notabene bukan Alvian, lalu dua hari setelahnya Joy memutuskan untuk menikah dengan Alvian yang merupakan sahabatnya sejak dua puluh tahun yang lalu.

Ini mungkin akan menjadi berita besar bagi keluarganya, dan juga keluarga Alvian. Bahkan mungkin teman-teman mereka akan ikut kaget karena mereka mengambil keputusan yang begitu besar ini secara tiba-tiba. 

Joy segera keluar dari kamarnya, ia berjalan menuju ke dapur mencari bundanya. Biasanya jika jam segini bunda pasti sedang memasak dan ayah mungkin sedang membaca koran sambil meminum teh di taman depan.

TBC

Help! [Ongoing]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang