"Lho Joy, kok di luar? kan udah gua bilang masuk aja," ujar Alvian yang baru saja keluar dari ruangan praktiknya.
Hampir 30 menit Joy menunggu Alvian keluar, sudah bosan, lapar, ditambah pelototan dari suster galak membuat mood Joy jatuh sampai ke dasar. Kalau dilihat mungkin wajah Joy sudah seperti anak kecil yang sedang merajuk dan menahan tangis. Lucu tapi bikin dongkol.
"Ayo sini, kita cari makan. Jangan pasang muka jelek gitu lo gak ada imut-imutnya tau," ejek Alvian.
Sepertinya lelaki itu memang hobi suka megejek Joy, dasar menyebalkan. Akhirnya Joy menurut, dan mengikuti langkah Alvian yang berada di sampingnya. Mereka berjalan beriringan untuk mencari makan siang, dan tanpa mereka sadari keduanya sudah menjadi pusat perhatian para suster dan pegawai rumah sakit. Karena seorang dokter Alvian membawa perempuan ke rumah sakit itu langka, mereka sepertinya penasaran kepada hubungan Joy dan Alvian.
"Huft, kesel tau gak sama suster galak palang pintu tadi," sepanjang langkah mereka, Joy tidak ada hentinya mendumel.
"Suster galak? Ketemu dimana?" tanya Alvian penasaran, seingatnya di Rumah Sakit ini tidak ada suster yang galak, semua ramah. Khususnya di poli anak, mana ada suster yang galak. Bisa pada takut anak-anak nanti.
"Di depan ruang praktik lo lah, yang cantik banget tapi judes."
"Suka ngawur deh lo, mana ada suster yang jaga poli anak galak. Lo kali yang cari gara-gara," ujar Alvian tidak percaya. "Seorang suster itu pasti ramah, baik, apalagi di poli anak," Alvian membela suster tadi.
"Serah deh, pokoknya gue badmood parah. Lo harus traktir gue makan siang," ujar Joy sedikit merajuk.
"Iye, iye, tau gua gaya lo kalo mau minta traktir," gerutu Alvian, jadi keluhan joy tadi adalah sinya-sinyal minta traktir. Memang sahabat tidak ada akhlak Joy itu.
Joy hanya memeletkan lidah ke arah Alvian sebagai ejekan. Mereka sepakat akan makan di restoran padang dekat rumah sakit, karena Alvian masih punya jadwal praktik sehabis makan siang. Jadi mereka memilih tempat yang dekat agar Alvian bisa cepat kembali ke Rumah Sakit.
Mereka akhirnya sampai di restoran padang, cukup ramai tetapi untungnya masih bisa mendapat tempat duduk.
"Mas ada otak?!" tanya Joy gas poll, pada Mas pelayan di restoran padang itu.
"Ada Mbak, akan saya ambilkan tunggu sebentar," jawab mas pelayan santai.
"Woy, itu mulut bisa santai dikit? kalo bukan di restoran padang, udah diusir Lo. Masa minta lauk otak sambil ngegas, untung Mas-nya ngerti," komentar Alvian sebal. Dia gemas sekali dengan Joy, saat marah pasti sukanya ngegas sama orang lain.
"Terbawa esmosi, apalagi gue laper," elak Joy.
Mereka menghabiskan waktu 35 menit untuk makan sambil mengobrol, tidak terasa sudah tiba saatnya Alvian harus kembali ke Rumah Sakit. Sebenarnya Joy ingin sekali menemani Alvian sampai selesai praktik, apalagi dia sangat gabut tidak ada kerjaan setelah ini. Namun Alvian melarang, Dia menyuruhnya untuk pulang dan beristirahat karena Joy habis donor darah. Biasanya orang yang baru donor itu akan lemas, dan disarankan agak istirahat untuk memulihkan tenaga.
"Ya udah, gue udah harus balik ke ruangan. Lo udah gua pesenin taksi. Kita tunggu bentar sampai taksinya dateng," ujar Alvian ikut menunggu sampai taksi pesanannya untuk Joy datang.
Tak berapa lama menunggu, pesanan Alvian sudah sampai di depan restoran nasi padang. Ia mengantar Joy sampai masuk ke dalam mobil.
"Oke, gue pulang dulu Vi, makasih traktirannya. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, hati-hati, langsung istirahat di rumah nanti."
"Siap, Pak Dokter."
Taksi yang dinaiki Joy melaju dengan lancar menuju rumah. Meski ada beberapa kendala macet sedikit akhirnya Joy sampai di rumah dengan selamat. Sangat kebetulan sekali, ia bertemu sang Ayah setelah membuka pintu masuk. Joy mencium tangan Ayahnya sopan, lalu ia diberi isyarat untuk ikut duduk dan mengobrol.
"Ada apa yah?" tanya Joy penasaran, dalam rangka apa Ayahnya mengajaknya mengobrol. Biasanya Ayah itu lebih suka bicara atau diskusi dengan Alvian. Bahkan Joy sampai bingung, sebenarnya anaknya itu Joy atau Alvian saking seringnya sang Ayah mengobrol dengan sahabatnya diwaktu luang.
"Umur kamu sudah berapa Joy sekarang?" bukannya menjawab pertanyaannya, sang Ayah malah balik bertanya.
"Ih, Ayah masa lupa, baru aja Joy ulang tahun ke 29," jawab Joy agak sewot, pasalnya baru bulan kemarin ia merayakan ulang tahunnya, masa sang Ayah sudah lupa.
"Oh iya, maaf ayah lupa. Berarti kamu sudah tahu kan kalau kamu itu tidak muda lagi, diumur kamu yang ke-29 tahun ini Ayah berencana untuk menjodohkan kamu," nada Ayah Joy tiba-tiba berubah serius.
Deg, akhirnya pembahasan tentang pasangan muncul juga. Jika sebelumnya hanya berupa sindiran untuk mencari pacar, sekarang sudah lebih jauh yaitu dijodohkan. Sepertinya, memang udah waktunya Joy mengesampingkan karir dan mulai menata masa depan rumah tangganya. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, kali ini dia tidak bisa mengelak. Dijodohkan dengan orang yang tidak ia kenal, benar-benar membuatnya bergidik ngeri.
"Ayah, meskipun Joy belum ada pasangan. Joy mohon jangan ada perjodohan, aku nggak mau dijodohkan. Aku akan cari pendamping sendiri ayah," pinta Joy memelas kepada Sang Ayah.
"Kalau kamu tidak mau dijodohkan, maka bawa calon kamu ke hadapan Ayah secepatnya. Ayah kasih waktu satu minggu, kalau sampai tenggat waktu tidak bawa calon, kamu harus siap di jodohkan."
"Yah, jangan begitu dong, masa cuma seminggu. Ayah tau sendiri kalau Joy sedang tidak dekat dengan siapapun. Kenapa sih aku harus cepat-cepat menikah," protes Joy.
Bagaimana bisa satu minggu dia bisa menemukan jodoh. Boro-boro punya pacar, deket sama cowok aja nggak. Emang jodoh bisa gitu dipungut dari jalan. Huft.
"Ayah mau kamu menikah secepatnya itu gara-gara pengalaman hidup ayah sendiri. Kamu tahu, ayah dan ibumu menikah di umur yang sudah tidak muda, kami menikah umur diumur 28 tahun. Dan baru dikaruniai anak satu tahun kemudian. Lalu ibu kamu baru bisa hamil lagi 9 tahun kemudian, dimana itu usia rentan. Kamu tahu, gimana perasaan seorang suami yang khawatir dengan istri dan calon anaknya. Ayah itu sampai ketar-ketir menunggu persalinan ibu kamu. Dan ayah tidak mau kamu mengalami hal seperti itu."
"Ayah, maafkan Joy. Tapi bagaimana bisa Joy bawa orang yang akan menjadi pendamping seumur hidup Joy dalam satu minggu."
"Jodoh itu ada di sekitar kamu. Tinggal kamu cari lebih jeli, pasti ketemu. Pokoknya ayah mau secepatnya."
Aduh, ya begini nasib Jomblo. Cari di mana laki-laki yang mau sehidup semati sama Joy. Seingatnya tidak pernah ada lelaki yang serius dengannya. Seakan Joy cuma jadi tempat mampir saja. Bukan jadi tempat berlabuh. Setelah pembicaraan itu habis, Joy memutuskan untuk ke kamarnya. Ia pusing, gara-gara ayahnya ditambah lagi dengan donor darah yang membuatnya lemas.
Ia butuh teman curhat. Mungkin Joy akan menelpon sahabatnya nanti, memendam masalah bukan hal yang baik sepertinya.
TBC
KAMU SEDANG MEMBACA
Help! [Ongoing]
RomansaPunya sahabat kalo nggak dimanfaatin ya buat apa? - Camila Joy Sahara Untung kenal dari orok, kalo nggak udah gua buang ke Afrika tuh sahabat sinting. - Alvian Jacka Swara
![Help! [Ongoing]](https://img.wattpad.com/cover/212909092-64-k543712.jpg)