Joy dan Alvian sangat bersenang-senang selama car free day. Joy hampir mencicipi semua makanan yang ada di sana. Alvian pun juga tak mau kalah dengan Joy. Sepertinya kalori yang mereka kurangi selama jogging tadi sia-sia, karena kini perut mereka sudah penuh dengan makanan.
Joy masih membawa corndog yang baru saja ia beli. Mereka suduk disalah satu bangku di trotoar. Menikmati makanan sambil melihat orang wara-wiri di depan mereka.
"Kenyang banget hari ini," Joy memegang perutnya yang kini terlihat buncit karena terus diisi makanan.
"Jelas lah, gimana nggak kenyang orang semua makanan di sini udah lo cobain semua. Itu mulut apa vaccum cleaner!" ejek Alvian yang melihat sahabatnya itu masih kekeuh memasukkan makanan ke mulutnya meski sudah kenyang gila.
Joy merengut lucu, ia sebal dikatai oleh Alvian terus. Padahal lelaki itu juga tidak kalah rakus darinya. Buktinya Alvian juga mencoba satu-satu makanan yang ada di sini.
Semakin siang mereka di sana, orang-orang pun juga mulai kembali pulang ke rumah masing masing. Gerbang penutup jalan juga sepertinya akan di buka kembali. Sepertinya ini sudah waktunya bagi mereka untuk pulang.
"Pulang yuk," ajak Joy, yang habis melihat gerombolan ibu-ibu senam mulai bubar barisan.
"Ayo, udah mau selesai juga ini car free day," Alvian menyetujui ajakan Joy.
Mereka berdua langsung bangkit dari tempat duduk, dan berjalan beriringan. Jarak antara tempat mereka duduk tadi hingga ke parkiran motor cukup jauh. Mungkin sekitar tiga ratus meter. Joy berjalan cukup pelan, karena perutnya mulai keram karena kekenyangan. Alvian juga ikut memelankan langkah, lelaki itu sepertinya paham jika perut Joy nyeri.
"Kita pelan-pelan aja, nggak usah buru-buru biar perutnya nggak sakit. Coba lo tarik napas sama buang napas pelan, sampai rilex," ujar dokter muda itu.
"O-okay," Joy menerapkan saran dari Alvian. Ia mulai nemelankan langakahnya, lalu mulai mengatur napasnya agar stabil. Hal yang ia lakukan lumayan membuat nyeri di bagain perut kanan bagian bawah tidak begitu sakit lagi.
Awalnya perjalanan mereka cukup tenang, tidak ada gangguan. Mungkin mereka hanya tidak sengaja saling meyenggol orang karena jalanan yang ramai. Jika hanya masalah itu, Joy dan Alvian bisa memaklumi.
Namun saat perjalanan mereka kurang dari seratus meter lagi. Tiba-tiba banyak gerombolan penjual menyerbu keduanya. Seperti ini contontohnya, "Halo Kakak, aduh kakak berdua ini serasi sekali sebagai pasangan. Yang perempuan cantik yang laki-laki juga ganteng. Kalau boleh tahu Kakak berdua ini sudah pacaran berapa lama?"
Joy dan Alvian diam ternganga karena pintarnya penjual itu bicara. Bahkan sampai berspekulasi bahwa mereka adalah sepasang kekasih. "... aduh mbak, maaf ya kita ini buka pasangan," Joy meyangkal.
Mbak penjual itu cukup terkejut akan jawaban Joy. Pasti penjual itu malu, dan jadi canggung ternyata salah tebak.
"Eh bukan toh, tapi kalian ini cocok sekali. Ini kakak, saya mau habiskan stok kalung kesehatan couple. Kalau kakak bersedia bisa dicoba dulu beli satu pasang. Tenang aja kak, ini cocok juga untuk pasangan sahabat, orang tua, atau pacar. Khasiatnya juga banyak kak, bisa melancarkan peredaran darah, mencegah dqri hipertensi—" jelas penjual itu panjang lebar yang sayangnya tidak begitu diperhatikan oleh kedua insan Joy dan Alvian itu.
Jujur Joy tidak tertarik dengan perhiasan kesehatan apapun itu. Mau couple, atau triple, sama sekali tidak mencuri perhatian Joy.
"Kita pergi aja Vi, gue nggak mau beli," Joy sedikit berbisik kepada Alvian.
"Tapi kasihan, kita beli satu nggak masalah kali."
Duh, Alvian ini sepertinya jiwa empatinya tinggi. Mungkin sebab profesinya sebagai dokter juga berpengaruh. Perasaannya ingin menolong orang terus. Beda lagi dengan Joy, mungkin ia adalah penggambaran dari emak-emak super pelit. Mereka memang tidak butuh barang itu, daripada habis percuma mending uangnya untuk beli makanan buat orang di rumah.
"Ya udah terserah lo deh," Joy hanya bisa pasrah dengan keinginan Alvian. Itu uang juga punya Alvian, biarlah lelaki itu mau beli apa.
Melihat respon positif dari Joy, Alvian segera mengeluarkan dompetnya. "Mbak kami beli satu, pilihin yang bagus."
Penjual itu kepalang senang karena berhasil menggaet pembeli. Meski awalnya canggung karena sudah salah tebak mereka ternyata bukan sepasang kekasih. "Wah, makasih kak. Ini aku pilih yang paling bagus warannya blue shapphire. Cocok banget buat kakak berdua yang auranya misterius."
Alvian menerima kotak perhiasan berisi sepasang kalung kesehatan berbentul love. Jika dipakai nanti satu orang akan memakai bentuk setengah hati, jika disatukan bisa menjadi bentuk love utuh. Meski warna dan bentuknya cukup lucu, tapi tetap saja Joy merasa jika itu sedikit norak.
Joy terus menyenggol lengan Alvian agar mereka segera beranjak dari sana dan meneruska perjalanan ke parkiran. "Udah ya mbak, makasih," Joy meminta izin untuk undur diri dari hadapan Mbak penjual kalung tadi, sambil menggandeng Alvian yang masih penasaran dengan kalung kesehatannya.
"Vi udah, jangan fokus ke kalung terus. Ini kita udah di parkiran, mana motormu sih."
Joy memprotes Alvian yang masih sibuk dengan melihat detail kalung. Pasalnya ini mereka sudah di parkiran, sialnya Joy tidak tahu di mana letak motor sahabatnya itu. Bagaimana bisa ingat, orang sekarang parkiran itu masih sangat penuh sesak. Ia kira menjelang siang orang-orang sudah pulang, tetapi sekarang bukannya sepi malah tetap ramai oleh pengunjung.
"Iya iya sabar." Alvian kasihan dengan Joy yang merengek minta segera pulang, segera mengeluarkan kunci motornya.
Sekali 'klik' Alvain memencet salah satu tombol yang ada di kunci motor. Dan Voila, sebuah alarm berbunyi pada sebuah motor besar yang Joy ingat adalah milik Alvian.
"Woah keren."
"Iya dong, motor canggih."
Alvian meminta Joy untuk menunggu di depan gerbang parkiran agar lebih cepat menjemputnya. Joy menunggu sebentar tidak sampai lima menit motor besar milik Alvian sampai di depannya.
"Sini buruan naik. Ada hal penting."
Melihat wajah khawatir hingga berkeringat milik Alvian membuat gadis itu tak kalah panik. Apa gerangan yang terjadi?
Joy menaiki motor itu dengan tergesa. Memposisikan tubuhnya nyaman di atas motor. Dan berusahan menenangkan Alvian yang hampir saja kehilangan kendali motornya.
"Ada apa Vi?!" sentak Joy meninta penjelasan.
"Ada pasien, butuh untuk segera di operasi. Karena masih proses mutasi dokter, jadi nggak banyak dokter yang jaga. Aku harus ke rumah sakit sekarang. Maaf lo ikut gue ya, kita bakal langsung ke rumah sakit." Alvian menjelaskan dengan nada penuh kepanikan, hingga Joy pun ikut panik juga.
"Astaga, iya cepet Vi. Kasihan adiknya keburu kesakitan."
Alvian melajukan motornya hingga kecepatan di atas rata-rata. Mungkin kalau tidak pegangang, Joy bisa ikut terbang bersama angin.
To Be Continue
KAMU SEDANG MEMBACA
Help! [Ongoing]
RomancePunya sahabat kalo nggak dimanfaatin ya buat apa? - Camila Joy Sahara Untung kenal dari orok, kalo nggak udah gua buang ke Afrika tuh sahabat sinting. - Alvian Jacka Swara
![Help! [Ongoing]](https://img.wattpad.com/cover/212909092-64-k543712.jpg)