FWB: 44

76 17 2
                                        

Sebelum menyalakan mobilnya, Joy tidak lupa membuak maps. Ia tudak tahu di mana letak kafe yang dimaksud Alvian. Jarinya segera mengetikkan Kafe xx, kemudian muncul lah gambar serta rute yang harus ia tempuh.

Benar yang ia duga tadi, perasaan familiar mendegar nama kafe itu. Kafe xx, adalah milik teman Jefri, Rose. Ia ingat penah menghadiri grand opening kafe itu bersama Jefri. 

Tiba-tiba Joy kembali teringat memori paling menyebalkan di hidupnya. Bagaimana bisa ia dicuekin lebih dari satu jam. Memang dasarnya Rose terlalu ingin menang banyak.

Mengabaikan ingatan itu, Joy segera menyalakan mobilnya dan menuruti rute maps menuju Kafe. Ia harap tidak akan bertemu Rose. Akan sangat canggung jika ia bicara dengan wanita itu lagi.

**

Alvian sudah hampir menunggu selama empat puluh lima menit di dalam kafe, apakah Joy lupa jika harus menghampirinya di kafe ini. Alvian harap sahabatnya tidak tiba-tiba lupa dan pulang duluan. Ia bahkan hampir memesan kopi lagi jika ia tidak melihat sosok  Jefri memasuki kafe.

Buru-buru Alvian segera menyembunyikan dirinya, ia sedikit duduk lebih ke pojok agar tidak kelihatan. Ia mengintip kegiatan yang dilakukan pacar sahabatnya itu. Saat ini tidak ada hal mencurigakan yang dilakukan oleh Jefri.

Ia bisa melihat jika Jefri ternyata hanya take away. Semua kegiatan itu memang bukan hal yang aneh. Namun, ia melihat Rose menghampiri Jefri dan bicara dengan santai. Alvian tidak tahu apa yang mereka bicarakan, yang jelas keduanya terlihat sangat dekat. Apalagi Rose sering melakukan skin ship dengan Jefri, dan Jefri tidak menolaknya.

Jika Alvian disuruh berpikiran positif, dua orang yang ia perhatikan itu pasti sahabat. Tapi, pikiran positif tidak membantunya sekarang. Ia lebih suka dengan praduganya sendiri. Jika Jefri dan Rose memiliki hubungan dekat namun bukan teman atau sahabat. Sebab, Alvian bisa melihat tatapan kagum dan mendamba dari Rose.

Untuk sekarang, ia hanya akan menyimpan kejadian itu sendiri. Ia tidak boleh membuat hubungan Joy dan Jefri rusak hanya karena dugaan yang tidak pasti darinya. Harapannya Joy tidak sampai melihat kejadian ini.

Pasti saat ini sahabatnya sudah di jalan, dan berjarak dekat dengan kafe. Sepertinya semesta mendukungnya, Jefri segera keluar setelah obrolan panjang dengan Rose. Alvian bisa bernapas lega sekarang.

Ponsel Alvian bergetar sekarang. Ia melihat dan terpampang nama Joy di sana. Tanpa basa-basi, lelaki itu segera mengangkat telepon dari sahabatnya.

"Halo, masih belum sampai Lo?" tanya Alvian langsung begitu dia mengangkat panggilan itu.

"Sorry, ini kejebak macet. Sepuluh menit lagi palingan sampainya," balas Joy merasa bersalah. Namun, ini sebenarnya bukan salah Joy. Hari ini cuma banyak orang yang ingin keluar menikmati malam, sehingga memenuhi jalan.

Alvian menunggu hingga seupuh menit terlewati, seharusnya Joy sudah sampai. Ia terus memperhatikan pintu masuk. Hingga ia melihat seseorang masuk. Itu Joy, syukurlah sahabatnya itu sampai dengan selamat.

Tanpa menunggu lagi, Alvian langsung berdiri dari tempat duduknya. Kemudian menghampiri di mana Joy berdiri.

"Joy," panggil Alvian.

"Vi, langsung pulang ini?" tanya gadis itu. 

"Lo nggak mau beli kopi atau camilan dari sini?"

"Nggak," balas Joy.

"Ya udah kalau gitu kita pulang aja. Tapi, apa nggak sebaiknya kita makan dulu. Lo pasti laper."

"Boleh deh, emang gue belum makan sore."

Alvian menyetir mobil dengan kecepatan sedang. Melewati jalan kota dengan lancar. Tidak ada halangan apapun termasuk kemacetan. Mungkin karena mereka tidak melewati jalan arteri.

Help! [Ongoing]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang