"Vi, liat deh," ujar Joy seraya menunjukkan gambar yang ada di ponselnya pada Alvian.
"Ini Dokter Jinan kan? kok bisa sama lo," tanya Alvian yang kaget, Dokter Jinan adalah seniornya di rumah sakit tempatnya bekerja.
Dokter Jinan merupakan salah satu dokter yang Alvian segani. Selain senior di rumah sakit, Dokter Jinan juga kakak tingkatnya di Universitas dulu. Mereka cukup dekat, bahkan dirinya dan Dokter Jinan punya grup WhatsApp dengan teman-teman dokter yang lainnya.
"Kemarin nggak sengaja ketemu di restoran. Gue kebetulan lagi makan sama temen satu kantor. Eh, pas pulang ada cowok yang nyapa gue, ganteng lagi. Rejeki nomplok kan buat Joy."
"Nggak usah terlalu berharap, dia udah punya gebetan," jelas Alvian. Sebagai teman ia tahu bagaimana kehidupan Jinan, dia bahkan hafal dengan sifat Jinan yang kelewat akrab kalau bertemu perempuan. Sudah ia duga bahwa Joy terlalu bawa perasaan pada Jinan.
"Kok gitu sih Vi. Waktu gue tanya kemarin dia bilang masih available."
"Terserah ya, gua udah kasih peringatan. Kalau sakit hati jangan salahin gua," balas Alvian cuek. Apakah Joy terlalu lama Jomblo sehingga semua lelaki ia samber. Alvian sendiri pusing dengan tingkah Joy yang kelewat terbuka dengan lelaki manapun.
"Yang udah punya tunangan itu jadi gimana?" lanjut Alvian bertanya.
"Ya udah nyerah lah gue. Gila aja, kemarin gue lihat Cristian sama tunangannya lagi adegan plus-plus di mobil. Udah gak bisa ditikung itu mah."
Alvian jelas sangat lega saat Joy bilang akan menyerah. Yang masih mengusiknya adalah Jinan, bagaimana caranya ia harus memisahkan Joy dengan Jinan sebelum Joy patah hati (lagi).
"Udah sampai, turun gih."
Sedari tadi mereka berbincang di dalam mobil, karena hari ini jadwalnya Joy donor darah Alvian dengan terpaksa harus mau memberikan tebengan kepada Joy. Padahal Joy punya kendaraan sendiri, kenapa malah ikut Alvian yang mau berangkat kerja.
Biasanya kan donor darah di PMI kenapa juga Joy harus repot kerumah sakit? Alvian sangat curiga dengan sahabatnya itu. Namun akhirnya dengan perdebatan alot sebelum berangkat tadi, Joy berhasil membuatnya mau mengangkut gadis itu ke rumah sakit.
Sebenarnya selain ingin donor darah, Joy juga mau tebar pesona pada dokter Jinan. Kejadian kemarin masih membekas pada pikiran Joy. Dimana Dokter Jinan menyapanya, bahkan dokter itu tahu namanya. Joy beruntung bisa bertemu dan mengobrol banyak dengan Dokter Jinan kemarin, semoga mereka jodoh itu harapan Joy sekarang.
"Kalau udah selesai donor, gue boleh main keruangan kerja lo nggak? Pingin lihat dedek kecil nih."
"Boleh, tapi jangan ganggu. Nanti kalau mau masuk ruangan gua, bilang ke susternya lo temennya dokter Alvian," saran Alvian kepada sahabatnya, "ya udah gua duluan, mau finger print," lanjutnya.
"Sip deh dokter Alvian, doakan Joy bisa donor hari ini."
***
"Permisi," Joy membuka ruangan dokter, yang katanya akan menanganinya saat donor.
"Iya, silahkan masuk," ujar sang punya ruangan.
"Loh, Dokter Jinan?"
"Wah Joy ya? Katemu lagi kita. Kata orang kalau orang asing nggak sengaja ketemu 3 kali biasanya Jodoh."
"Aku Aminin ya dok, hehe."
Ternyata Dokternya adalah Jinan, nikmat mana lagi yang kau dustakan Joy. Pagi-pagi dapat rejeki nomplok ketemu dokter gebetan. Ternyata tidak sia-sia ia makan hati berdebat dengan Alvian tadi pagi, akhirnya sekarang ia bisa ketemu juga dengan calon jodoh.
"Aku cek tekanan darah kamu dulu ya," ujar dokter Jinan seraya menggunakan alat pengukur tekanan darah pada Joy.
Lalu pemeriksaan dilanjut dengan cek hemoglobin yang mengharuskan jari Joy di tusuk jarum. Joy sempat kaget, karena tiba-tiba jarum menusuk ujung jarinya. Namun rasanya cuma seperti digigit semut, tidak sakit kok.
"Gimana dokter? bisa donor kan?"
"Selama 24 ini kamu minum obat tidak?"
"Aku nggak minum obat apapun dok."
"Tekanan darah kamu normal dan memenuhi persyaratan. Kamu bisa donor, kalau begitu silahkan baringan dulu. Aku ambil peralatannya dulu."
"Oke dok."
***
Sekarang sudah hampir jam makan siang, sehabis donor darah tadi Joy diajak sarapan dulu oleh dokter Jinan. Namun, setelah sarapan Dokter Jinan pamit kalau ada pasien yang harus ditangani. Jadi karena hari ini Joy izin sehari penuh dari Kantor, maka ia bisa menghabiskan waktu berkeliling rumah sakit sambil menunggu jam makan siang tiba.
Karena tadi ia sudah bilang pada Alvian kalau akan berkunjung, jadi saat ini Joy sedang on the way menuju ruangan Spesialis Dokter Anak, Alvian Jacka Swara. Sering kali Joy merasa iri dengan profesi sahabatnya itu, sudah ganteng, dokter pula. Sahabatnya memang cocok jadi cowok keren idaman wanita seperti di novel romantis yang sering ia baca.
Meskipun profesi Joy sebagai Manager disalah satu perusahaan besar juga bukan pekerjaan remeh, tapi kadang kala ia merasa levelnya sangat jauh dari Alvian. Sudahlah, Joy sudah sangat bersyukur dengan keadaannya sekarang, yang penting ia bisa cari uang dengan keringatnya sendiri.
"Permisi suster?" Sesampainya di depan ruangan Alvian, Joy menyapa seorang suster cantik yang sedang berjaga di depan pintu.
"Iya Mbak? Ada yang bisa saya bantu?" tanya suster itu.
"Saya mau bertemu dengan Dokter Alvian," jawab Joy semanis mungkin, ia berusaha membuat image wanita innocent di depan suster cantik itu.
Entah kenapa, setelah Joy menjawab ingin bertemu Alvian. Air wajah suster itu sedikit berubah menjadi muram.
'Ada apa ya? Gue ada salah?' pikir Joy.
"Maaf Mbak, Dokter Vian sedang sibuk. Kalau belum ada janji nggak bisa bertemu," ujar suster itu sedikit ketus.
"Oh, tadi saya sudah bilang kok suster. Sampaikan saja ke Dokter Alvian kalau Joy ingin bertemu begitu."
"Sekali lagi maaf mbak, Dokter Alvian itu sibuk. Banyak pasien yang harus ditangani. Mbaknya kok ngeyel sih, saya panggil security ya kalau mbak tetep maksa."
"Aduh suster bukan maksud saya maksa. Tapi 10 menit lagi kan udah makan siang, masa saya nggak boleh ketemu. Apalagi saya tadi juga udah bilang kok ke dokter Alvian kalau mau berkunjung."
Meskipun sudah menjelaskan sedemikian rupa, suster itu malah bungkam dan melengos menghindari tatapan Joy.
Sialan si suster, cantik-cantik tapi galak banget. Pasti ini suster naksir Vian kampret, Joy berujar dalam hati.
Dengan berat hati, Joy akhirnya mengalah dan menunggu sahabatnya di luar dengan duduk di kursi antri yang berisi dua anak kecil dan Ibunya. Meskipun hatinya gondok, ia berusaha senyum dan menyapa Ibu yang menunggu antrian itu.
"Selamat siang Bu. Lagi nunggu giliran ya?" tanya Joy kalem, sedikit berbasa-basi.
"Iya," jawab Ibu itu singkat sambil menatap tajam Joy. Kalau dilihat-lihat wajah Ibu itu masih muda. Mungkin 27/28 tahunan.
"Eh, maaf seperti anda masih muda ya. Saya panggil Mbak aja kali ya. Hehe, maaf ya mbak. Adiknya sakit apa?" Joy merasa bersalah telah memanggil wanita itu 'Bu', sepertinya wanita itu sedikit tersinggung karena usianya belum terlalu tua untuk dipanggil Ibu. Tapi apa salahnya memanggil Bu, dia kan juga seorang Ibu. Joy tidak habis pikir, pikiran orang jaman sekarang kekanakan sekali.
"Aku sakit batuk Kak, kalau adik aku sakit pilek," jawab Adik kecil yang ia tanyai tadi. Lucunya, batin Joy. Kapan bisa punya adik kecil begini lagi. Sekarang adiknya, Chandra, sudah besar. Ia jadi tidak bisa dusel-dusel atau peluk-peluk adiknya itu. Semakin dewasa Chandra malah bikin Joy sakit kepala karena ulah nakal adik kandungnya itu.
Ngomong-ngomong, menunggu itu benar-benar menyebalkan.
TBC
KAMU SEDANG MEMBACA
Help! [Ongoing]
RomancePunya sahabat kalo nggak dimanfaatin ya buat apa? - Camila Joy Sahara Untung kenal dari orok, kalo nggak udah gua buang ke Afrika tuh sahabat sinting. - Alvian Jacka Swara
![Help! [Ongoing]](https://img.wattpad.com/cover/212909092-64-k543712.jpg)