[Jemput gue di sini sekarang. Urgent please]
[Live Location📍]
[Jangan telepon, langsung jemput.]
Tiga pesan beruntut dari Joy yang sedikit mencurigakan masuk ke ponsel Alvian, pada malam hari pukul tujuh malam kurang lebih. Serta ada live location yang dibagikan oleh Joy, ia khawatir ada apa-apa pada sahabatnya itu.
Hari ini mereka sama sekali belum saling bertatap muka atau hanya bertukar kabar melalui chat. Alvian pikir kalau Joy mungkin sibuk, karena ini hari libur. Bagi orang yang sudah memiliki pacar, Joy pasti lebih sibuk dengan Jefri. Sehingga lelaki itu tidak mau mengganggu mereka.
Namun, pesan aneh ini tiba-tiba membuat Alvian merasa harus segera menjemput Joy. Ia yakin gadis itu dalam kondisi yang kurang baik. Sebagai orang yang bisa gadis itu andalkan disaat seperti ini, Alvian harus siaga.
Alvian mengambil jaketnya, ia juga mengganti celana pendek rumahannya dengan celana jeans yang pantas digunakan untuk ke luar. Tidak lupa ia menghampiri ibunya yang sedang bersantai menonton televisi, untuk berpamitan.
"Ma, Alvian mau keluar dulu sebentar."
"Mau kemana Vi?" beliau bertanya penasaran.
"Jemput Joy, aku harus buru-buru nih ma," balas Alvian.
"Oke, hati-hati di jalan ya."
"Siap ma, Assalamualaikum," Alvian mengucap salam sebelum keluar rumah.
Lelaki itu memasuki mobilnya. Tak perlu basa-basi, kendaraan roda empat itu sudah mulai melaju menjauhi rumahnya. Alvian berkendara dengan kecepatan tinggi saat jalan sedang sepi, jika dalam keramaian ia hanya bisa memelankan laju mobilnya untuk keselamatan bersama.
Alvian cukup asing dengan lokasi yang diberikan oleh Joy. Sebab tempat itu adalah sebuah perumahan, yang terkenal karena ke-elitannya. Kawasan pemukiman yang biasanya dihuni oleh orang kaya, artis, sampai orang pemerintahan juga yang mampu tinggal di sana.
Alvian penasaran apa yang sedang dilakukan Joy di sana. Pasalnya Gadis itu tidak memiliki teman atau kenalan yang memiliki rumah di kawasan elit seperti itu. Teman Alvian dan Joy kurang lebih hampir sama, tidak mungkin kalau ia tidak mengetahui jika ada teman mereka yang tinggal di sini. Joy pernah cerita jika Gadis itu tidak begitu memiliki banyak teman di kantor, Alvian hanya tahu satu orang yang cukup dekat dengan Joy yaitu Romeo, sosok lelaki yang selalu diceritakan Joy. Soalnya Romeo suka mengganggu gadis itu dan menggodanya, sudah sering Alvian mendengar curhatan dari Joy tentang Romeo itu.
Tapi ada kemungkinan juga Joy sedang berada di rumah bosnya. Namun mana mungkin ada pekerjaan yang dilakukan pada hari libur seperti hari ini. Kalau ada sebuah acara baru masuk akal.
Alvian juga punya satu dugaan lagi. Ia ingat kalau Joy sudah memiliki pacar, mungkin saja itu rumah Jefri. Secara Joy bukan orang yang suka pergi ke rumah teman tanpa adanya alasan yang jelas.
Daripada rasa penasarannya semakin membesar Alvian segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi melewati jalan jalan sepi. Dalam beberapa menit lagi sesuai Maps yang ia lihat. Alvian akan segera sampai dalam waktu lima menit lagi. Lelaki itu semakin dibuat kaget karena melewati kompleks-kompleks perumahan dengan rumah yang begitu mewah di kanan kirinya.
Mobilnya telah sampai di depan rumah dengan gerbang yang tinggi menjulang. Alvian penasaran sebesar apa rumah yang ada di dalamnya. Namun, daripada itu ia lebih penasaran lagi dengan siapa pemilik rumahnya. Saat ini ia ingin menelpon Joy untuk memberi informasi jika dirinya telah sampai. Tetapi ia ingat kalau Joy memberikan pesan kepadanya untuk tidak menelepon, sehingga yang dilakukannya sekarang adalah mengirimkan sebuah pesan kepada Joy untuk segera keluar ke bahu jalan.
[Gue udah sampai, lo di mana?] - Alvian
[Oke, gue keluar sekarang.] - Joy
Di sisi lain Joy yang masih ditemani oleh Jefri dibalik gerbang rumah lelaki itu segera berpamitan. Untuk menjaga imagenya, sebelumnya Joy sudah sekalian pamit dengan orang tua Jefri. Mereka tidak terlihat khawatir dengan kepulangan Joy yang tiba-tiba. Hanya Jefri yang peduli, sampai ikut mengantar serta menemaninya hingga Alvian sampai.
"Jef, Alvian udah di luar. Aku pulang dulu, maaf nggak bisa lama di rumah kamu," pamit Joy dengan ekspresi menyesal.
"Nggak masalah Joy yang penting kamu bisa segera lihat Ayah kamu. Yang aku pentingkan sekarang, kamu bisa pulang dengan selamat. Maaf kalau aku nggak bisa ikut nemenin kamu menjenguk Ayah kamu, semoga beliau lekas sembuh. Oh iya, aku juga titip salam untuk Alvian, terima kasih telah mengantar kamu."
"Baiklah Jef, aku pulang dulu. Terima kasih atas sambutan kamu dan keluarga kamu yang begitu hangat di rumah ini," pamit Joy, seketika gerbang besar itu dibuka. Dan dengan jelas, Gadis itu bisa melihat mobil Alvian yang terparkir di depan sana.
Alvian yang melihat gerbang di depannya terbuka langsung menolehkan kepalanya, dengan perasaan terkejut lelaki itu melihat Joy keluar serta diantar oleh Jefri. Jadi rumah besar yang ada di hadapannya ini milik Jefri? Itulah sebabnya Alvian merasa asing dengan kawasan ini. Tapi cukup masuk akal, karena ia tahu kalau lelaki itu termasuk ke dalam keluarga kaya raya.
Pintu penumpang di sisinya terbuka, dan masuklah Joy ke dalam. Wajah gadis itu ditekuk masam, Alvian sering melihat ekspresi itu setiap kali Joy merasa kecewa marah atau bete. Wajah kesalnya akan terlihat seperti sekarang. Alvian memiliki dugaan jika saat ini Jefri dan Joy sedang dalam kondisi yang tidak bagus, apa mungkin mereka bertengkar? Atau juga ternyata keluarga Jefri tidak begitu menerima kedatangan Joy.
"Kenapa wajah lo masam kayak gitu? masa lo habis dari rumah calon mertua pulang-pulang langsung bete. Coba deh lu cerita apa yang terjadi di dalam sana," selidik Alvian begitu ia sudah mulai meninggalkan kawasan rumah Jefri.
"Seharusnya ini hari bahagia gue karena bakal dikenalin sama orang tua Jefri, ternyata malah berubah menjadi pengalaman buruk paling buruk yang pernah gue alamin selama kenal Jefri."
"Memangnya apa yang terjadi? Orang tua Jefri masih kolot kah dengan tidak menerima lo yang berasal dari kalangan biasa atau ternyata mereka sudah punya calon bagi Jefri tanpa memberitahu lo?"
"Dua-duanya, double kill nggak tuh. Gue udah sakit hati sedalam-dalamnya ke keluarga itu, hari ini diacara pertemuan gue sama orang tua Jefri ada sosok gadis lain yang datang ke rumah itu yang menjadi pusat perhatian orang tua Jefri. Sedangkan gue diabaikan dan nggak dihargai sebagai pacar Jefri yang sebenarnya."
"Ya itulah konsekuensi dari berpacaran sama orang yang bisa dibilang kaya raya, mereka pasti selalu ingin sang putra menjalin hubungan dengan wanita yang selevel dengan mereka."
"Apa mungkin ini petunjuk dari Tuhan supaya gue nyerah aja sama Jefri? Apa ini petunjuk buat gue mutusin hubungan gue sama Jefri? Menurut lo gimana Vi?"
"Menurut gue, selagi lo belum menyimpan rasa terlalu dalam sama Jefri mending lu putusin aja hubungan ini Joy. Tapi kalau lo masih tetep mau lanjut, konsekuensinya adalah lo harus terus menerima rasa sakit. Gue sebagai sahabat lo, nggak akan pernah merestui hubungan yang bakal membuat lo sengsara."
"Kalau gitu keputusan gue udah bulat, Gue bakal putusin Jefri secepatnya. Konsekuensi yang bakal gue dapat setelah ini adalah terpaksa harus menerima Perjodohan yang udah di atur sama ayah. Gue sendiri udah trauma buat nyari cowok lain yang bisa jadi imam gue di masa depan."
Keduanya saling terdiam Joy dengan pikirannya yang menjurus kepada perjodohan yang diatur oleh sang ayah. Ia sudah membayangkan hal buruk terjadi kepadanya, mungkin saja sosok yang akan dijodohkan kepadanya adalah Om-om botak, jelek, buncit yang tidak sesuai dengan seleranya. Rasanya Joy ingin kabur saja daripada harus menerima Perjodohan itu.
Sedangkan Alvian terdiam karena sedang memikirkan hal apa yang bisa ia lakukan untuk membantu sahabatnya. Ia tidak tega melihat Joy terus-terusan dihantui rasa takut akan Perjodohan dari sang ayah.
"Joy sebaiknya untuk sekarang, lo mikirin gimana caranya mutusin Jefri. Gue nanti bakal bantu lu putar otak buat menolak Perjodohan dari ayah."
"Makasih Vi, lo emang sahabat terbaik gue," ucap Joy lega. Setidaknya ia masih punya sahabat baik seperti Alvian.
TBC
KAMU SEDANG MEMBACA
Help! [Ongoing]
RomancePunya sahabat kalo nggak dimanfaatin ya buat apa? - Camila Joy Sahara Untung kenal dari orok, kalo nggak udah gua buang ke Afrika tuh sahabat sinting. - Alvian Jacka Swara
![Help! [Ongoing]](https://img.wattpad.com/cover/212909092-64-k543712.jpg)