Rehan tidak menduga jika suasana meja makan akan secanggung ini. Om dan tante yang cenderung diam, juga Joy serta Jefri yang khidmat menikmati makanan. Apalagi Alvian dan Chandra, dua orang itu sejak tadi seperti menyimpan unek-unek di dalam hati mereka.
Sebagai orang yang suka suasana ceria dan ramai. Rehan merasa sesak duduk di antara mereka. Kedatangan sosok Jefri lah yang membuat mereka menjadi lebih hening.
Tiba-tiba Alvian berdiri di tengah keheningan ini, dan pamit untuk pulang, "Ayah, bunda, Alvian sudah selesai makannya. Maaf Vian harus pamit pulang sekarang. Mama udah mau sampai rumah."
"Oh iya Vi, hati-hati," balas orang tua Joy serentak.
"Ayah, bunda, Chandra juga sudah selesai. Chandra pamit ke kamar mau lanjut belajar," kini putra bungsu di rumah itu juga ikut pergi dari meja makan.
Sekarang tinggal ayah, bunda, Rehan, dan juga pasangan love bird itu Joy dan Jefri. Sebagai penjaga suasana agar tidak canggung. Rehan ingin membuat om dan tantenya itu tidak terlalu banyak interaksi dengan Jefri. Dilihat bagaimana perlakuan om kepada Jefri, sangat jelas kalau beliau tidak memberi restu untuk keduanya. Sedangkan tante, beliau hanya ingin yang terbaik bagi anaknya. Asal Joy bahagian, ia pikir tante akan selalu mendukung pilihan anak perempuannya itu.
"Om, tante, ini udah malam. Akan lebih baik kalau istirahat. Biar Rehan yang nemenin Joy sama Jefri," ujar Rehan.
Kedua orang tua itu langsung saling bertatapan, seperti saling mengirip telepati satu sama lain. Memang suami istri itu unik.
"Ya udah, kami juga udah tua dan agak capek. Makasih Rehan, buat Jefri maaf om dan tante nggak bisa nemenin sampai malam lagi," ujar Ayah merasa tidak enak.
Tak hanya ayah dan bunda Joy yang merasa tidak enak. Jefri pun juga merasa bersalah sudah main ke rumah orang cukup malam seperti ini. "Saya minta maaf jika membuat om tante repot. Makasih atas makan malamnya, lain kali saya mainnya siang saja biar tidak mengganggu waktu tidur om dan tante."
"Nggak papa Jefri, kalian lanjutkan aja ngobrolnya. Kami ke kamar dahulu," Bunda mengambil alih menjawab permintaan maaf Jefri.
Beralih dari pasangan suami istri yang sudah berjalan ke kamar. Rehan sebagai yang tertua memiliki misi lain untuk dilakukan kepada Jefri. Ia sudah menganggap Joy sebagai adik kandungnya sendiri, jadi ia harus mengenal bagaimana sosok Jefri yang menjadi pacar sepupunya.
Melalui pengalamannya sebagai orang yang cukup dekat dengan Joy. Gadis itu tidak pandai mencari lelaki yang sempurna. Gadis itu cenderung hanya melihat tampang, apalagi Joy juga mudah sekali terpengaruh rayuan buaya.
"Jef ayo kita ngobrol berdua," ujar Rehan begitu tegas. Mirip seperti kakak yang akan menyidang calon pacar adiknya. Namun sekarang Jefri bukan cuma calon, tetapi sudah jadi pacar.
"Joy nggak boleh ikut? Emangnya ada apa sih kak Rehan?" Joy bertanya.
"Mau seleksi aja," jawab Rehan enteng. Dan tak terduga, Joy malah memampilkan ekspresi marah.
"Seleksi apa sih kak, kayak cpns aja. Nggak perlu," omel Joy.
"Apaan sih Joy, sebagai kakak gue mau tahu orang yang lagi deket sama lo siapa. Gue tahu banget, lo nggak bisa cari cowok yang bener," Rehan beralasan panjang.
"Kak, jangan ngomong gitu di depan Jefri."
"Joy diam, Jefri lo ikut gue."
Gadis itu hanya bisa menuruti kakak sepupunya. Entah apa yang akan mereka bicarakan, Rehan tidak membiarkan Joy untuk mengikuti pembicaraan itu. Apapun itu Joy cuma berharap, Rehan tidak bertanya hal aneh kepada Jefri.
**
"Ada apa bang Rehan ajak gue ke sini?" Alvian bertanya kepada kakak sepupu Joy.
Sebelum waktu jam makan siang, tiba-tiba lelaki itu dihubungi oleh Rehan yang meminta ketemuan. Jadilah mereka bertemu di sebuah kafe dekat rumah sakit. Rehan yang sudah datang lebih dulu, sudah sekalian memesankan minuman serta makanan untuk mereka berdua.
"Gue kemarin ngobrol berdua sama Jefri," ungkap Rehan.
"Iya, terus?"
"Kali ini gue yakin kalau dia emang nggak cocok sama Joy."
"Dia ngomong apa sama abang?"
"Gue kemarin nanya beberapa hal, awalnya semua cukup normal. Gue pikir cuma firasat gue yang buruk, ternyata waktu gue tanya tentang tanggapan dia sama persahabatan kalian. Dia mulai beda," jelas Rehan.
"Dia benci kedekatan gue sama Joy. Hampir semua cowok yang deket sama Joy juga nggak suka sama gue."
"Tapi dari jawaban dia, gue bisa lihat ada sifat obsesif. Juga gue udah tau ceritanya dari Joy, mereka bahkan baru kenal. Dan Jefri udah nembak Joy dalam kurun waktu sebulan, sus banget."
"Kalau yang itu memang aneh sih. Gue udah nasihatin Joy juga soal itu. Tapi pada akhirnya dia marah sama gue. Tapi dia ada alasan, ayah mau jodohin dia, dan Jefri dia pake buat ngundur perjodohan itu."
"Serius? Gue baru tahu kalau dia dijodohin. Jadi Jefri cuma alat kah?"
"Mungkin iya dan mungkin tidak. Gue juga nggak tahu rencana apa yang ada dipikiran Joy."
"Kenapa bulan lo aja yang bantu dia. Bukannya malah bagus kalau itu lo? Ayah nggak akan pernah nolak kalau Joy malah ngenalin lo sebagai pacarnya."
"Gue mau aja bantuan anak itu, tapi memang sejak awal gue bukan pilihan. Kalau bukan karena desak buat cerita, gue nggak mungkin tahu kalau dia dijodohin sama Ayah."
Rehan terdiam sejenak setelah mendengar fakta baru dari Alvian. Kenapa hubungan sepupunya itu begitu ribet seperti benang kusut. Rehan harus tanya kepada omnya tentang perjodohan itu. Mungkin dari sana, ia bisa membantu Joy agar bisa lepas dari Jefri.
Rehan lihat juga, Joy tidaklah memiliki rasa yang besar kepada Jefri. Gadis itu cenderung bersikap baik, dan menjaga imagenya karena Jefri adalah kekasihnya sekarang. Dan Joy tidak bisa jadi diri sendiri.
"Bang, lo kapan balik ke rumah lo sendiri?" Alvian mengalihkam pembicaraan.
"Ngusir lo ceritanya?"
"Ya enggak sih, kan tanya apa salahnya?"
"Minggu depan mungkin, mumpung kerjaan gue sama istri gue ada yang handle. Apalagi gue juga belum ke rumah nenek."
"Oh, gitu. Sering-sering main ke sini bang."
"Ya kalau libur. Eh, ngomong-ngomong lo belum ada gebetan sekarang?"
"Nggak ada, masih fokus karir sih."
"Masa? Bukan karena belum bisa move on dari Joy kan?"
Alvian mengerutkan dahinya bingung, Rehan kembali mengungkit tentang itu lagi. "Bang, gue mau tanya. Kenapa lo selalu beranggapan kalau gue suka Joy?"
"Ya karena lo emang suka kan? Dari SMA malah."
"Lo salah paham Bang, itu cuma perasaan anak baru gede yang dihantam pubertas."
"Lo bisa ngomomg gitu, tapi jauh didalam lubuk hati lo beda. Coba lo tanya diri lo sendiri, itu cuma perasaan abg labil atau emang perasaan cinta."
Alvian merasa tertohok, apa benar yang dikatakan oleh bang Rehan?
TBC
KAMU SEDANG MEMBACA
Help! [Ongoing]
Roman d'amourPunya sahabat kalo nggak dimanfaatin ya buat apa? - Camila Joy Sahara Untung kenal dari orok, kalo nggak udah gua buang ke Afrika tuh sahabat sinting. - Alvian Jacka Swara
![Help! [Ongoing]](https://img.wattpad.com/cover/212909092-64-k543712.jpg)