Keesokan paginya, secara ajaib Joy bangun sangat tepat waktu. Sstt, tadi ia dibangunkan oleh Bunda. Jangan salahkan Joy yang kebo ini, kemarin ia setrika baju hingga larut malam. Namun, sembilan pluh persennya disambi main ponsel dan menonton youtube horor untuk menemani malamnya.
Jangan langsung menduga kalau Joy adalah pembarani, dia sama sekali tidak. Cuma, dia iseng saja nonton horor, biar tidak mengantuk. Hampir saja ia kemarin ketiduran sebelum mencabut colokan setrikanya, bisa kebakaran kalau sampai lupa kemarin. Untung saja suara jumpscare video yang ia tonton berhasil membangunkannya.
Sebenarnya kemarin sebelum tidur, ia ingin menemui Chandra. Ia ingin tanya apa adiknya itu melihat Alvian sudah pulang. Ia khawatir dengan Mama kalau Alvian pulang terlalu larut malam. Kalau bisa juga, kemarin ia menginap untuk menemani Mama.
Dari pada itu, setelah dibangunkan Bunda, Joy langsung mandi dan berganti baju yang kemarin ia setrika. Setelah selesai make up dan membenarkan pakaiannya dengan sangat rapi. Barulah ia keluar kamar dengan menjinjing tas kerjanya.
"Pagi!" sapa Joy dengan ceria saat ia menemukan sang Ayah yang membaca koran sambil minum kopi di ruang keluarga.
"Pagi," jawab sang ayah tanpa mengalihkan tatapan dari koran yang ada digenggamannya. Kebiasaan, sang ayah kalau sudah fokus ya seperti itu.
Meninggalkan sang Ayah, Joy melanjutkan perjalanannya ke ruang makan. Ia butuh sarapan sebelum berangkat kerja. Sarapan pagi adalah kunci utamanya untuk mendapatkan energi positif.
"Pagi Bun, Pagi Chan—dra?" Joy cukup kaget sang adik masih bertengger manis di meja makan. Biasanya anak itu jam segini sudah berangkat sekolah, karena ada les pagi.
"Tumben belum berangkat Chan?" tanya Joy kepada Chandra, seraya mendudukkan diri dikursi sebelah adiknya.
"Lesnya libur, jadi ya berangkatnya gak perlu terlalu pagi," jawab Chandra, sebelum memasukkan sesendok nasi ke mulutnya.
"Oh."
Setelah bicara basa-basi dengan Chandra, Joy mulai untuk mengambil lauk dan nasi untuk sarapannya. Sepertinya ayah dan bundanya belum makan, jika dilihat dari masih banyaknya nasi. Kedua orang tuanya sehati sekali, mentang-mantang sang ayah masih minum kopi dan baca koran, bunda pun ikutan tidak sarapan.
"Bun, Chandra pamit berangkat sekolah," Chandra tiba-tiba langsung bangkit dari kursinya dan berpamitan. Adiknya itu berjalan menuju tempat Bunda sedang membuat sesuatu di dapur.
"Bunda doang nih yang dipamiti?" sindir Joy begitu sang adik berlalu dihadapannya.
"Ck, Chandra pamit sekolah dulu Kak Joy," ucap Chandra dengan terpaksa.
"Iya hati-hati, jangan lupa pamit ke ayah di ruang keluarga," peringat Joy.
"Iya."
***
Tidak tahu ya, entah kenapa Joy hari ini merasa kalau waktu berlalu begitu cepat. Kini ia sudah dalam perjalanan pulang dari kantornya. Padahal ia merasa baru saja pamitan dengan sang ayah, kini ia sudah sampai saja di rumah (lagi).
Saat memasuki rumah, keadaan cukup sepi. Banar-benar sepi, seperti tidak ada orang. Kemana bunda dan ayahnya? Jika pergi pun seharusnya pintu di kunci. Kalau begini bisa saja ada maling masuk.
Joy berkeliling rumah dari depan ke belakang, masih tidak menemukan jejak kedua orang tuanya. Sebenarnya tadi ia takut kalau ternyata ada rampok di rumah, ternyata tidak ada. Padahal ia sudah bawa wajan sebagi senjata.
Ia mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi ayahnya. Namun, sayup-sayup Joy bisa mendengar nada dering ponsel ayahnya dari luar. Ia segera lari ke luar, dan menemukan ayah dan bunda sedang berada di halaman depan rumah Alvian sedang mengobrol dengan mama.
Cepat-cepat Joy memakai sandalnya, lalu menghampiri para orang tua yang sedang asik mengobrol. "Ayah, bunda, aku kira pergi. Tapi rumahnya nggak dikunci tadi."
"Tadi cuma ngobrol sebentar sama mamanya Alvian," jawab Ayah.
"Iya kamu nih, kayak ditinggal kemana aja," bunda juga ikut menyahuti. Bibir Joy mengerucut lucu, ia merajuk dengan kedua orang tuanya. Ia tidak bisa membantah karena memang ia dari tadi sudah bereaksi berlebihan karena rumah sepi.
"Haha Joy pasti panik, takutnya ada apa-apa di rumah yang nggak dikunci," bela Mama. Mama adalah penyelamat Joy, beliau selalu membela gadis itu.
"Mama," Joy berucap manja, sambil berusaha memeluk mama tidak kandungnya itu dan dibalas tak kalah erat.
"Joy emang manja ya ke kamu," ujar bunda kepada mama.
"Udah aku anggap anak perempuanku dia, haha." Mama menanggapi.
"Joy kamu bilang mau ketemu Alvian. Dia udah di rumah tuh, tadi siang udah pulang. Sekarang lagi tidur, belum bangun tapi. Kamu mau nungguin?" mama menanyai Joy.
Memang kemarin Joy ingin sekali bertemu Alvian. Namun sekarang rasanya malas, lelaki itu seperti tidak ingin bertemu dirinya lagi. Dia jadi bimbang, kalau tidak menemui Alvian. Persahabatan mereka selama berpuluh-puluh tahun itu bisa hancur karena satu masalah sepele.
"Boleh deh ma, aku nungguin Alvian. Kebetulan ada hal penting yang pengen di omongin dari kemarin," Joy menjawab.
Melihat sang anak yang sepertinya ingin mampir di rumah sahabatnya. Ayah dan Bundanya Joy, tidak mengajak putrinya itu pulang. "Joy, kami pulang dulu. Kamu mau stay di rumah Alvian kan?"
"Iya bun, nanti habis ngomong sama Vian aku baru pulang."
"Oke, kami pulang dulu ya," pamit Bunda kepada dua orang di depannya, Joy dan Mama.
Joy menunggu di halaman rumah Alvian sampai kedua orang tuanya masuk rumah. Barulah ia sendiri masuk mengikuti Mama memasuki rumah Alvian. Mama menyuruhnya untuk duduk di ruang tamu, sedangkan beliau memanggil Alvian.
Joy ingin segera urusannya di sini selesai, ia baru ingat kalau ini tadi dirinya belum mandi. Ia khawatir kalau bau badannya tercium tidak sedap. Bisa malu tujuh turunan dia.
"Hoam," suara uapan keras mengagetkan Joy dari lamunannya.
Sudah pasti itu adalah suara Alvian. Bisa-bisanya lelaki itu menguap keras dengan santainya di depan Joy.
Alvian mengambil tempat duduk disofa di depan Joy. Jadi mereka sekarang berhadapan namun terhalang meja.
"Ada apa?" tanya Alvian dengan suara serak basah khas bangun tidurnya.
"Gue cuma mau tanya, kenapa dari dua hari yang lalu lo ngehindari gue," tembak Joy langsung. Ia tidak bisa basa-basi lagi dengan lelaki di hapannya itu.
"Nggak tuh, gue sibuk di rumah sakit aja kemarin," jawab Alvian beralasan.
"Bohong, kemarin mama bilang lo keluar beli makan. Bahkan gue tungguin sampai jam tujuh malam, lo belum pulang juga."
Ada spasi sejenak sebelum Alvian menjawab dengan helaan nafas kasar diawal kalimat. "Hah, okay gue emang sengaja. Lo pasti ngerti kan penyebabnya, gue sakit hati. Lo nggak anggap gue sahabat lagi sekarang."
"Maaf, gue nyesel nggak cerita ke lo Vi. Gue pikir, gue bisa ngatasi sendiri tanpa ngerepotin lo. Tapi akhirnya, masalah ini belum juga ada titik temunya." Joy diam, sebelum kembali berbicara. Ia bingung memilih kata yang tepat untuk diucapkan.
"… gue malu sama Lo, jujur itu alasan utamanya."
"See, lo masih anggap gue orang lain. Buat apa sih malu, gue nggak akan sekejam itu ngolok-ngolok masalah perjodohan itu."
To Be Continue
KAMU SEDANG MEMBACA
Help! [Ongoing]
RomancePunya sahabat kalo nggak dimanfaatin ya buat apa? - Camila Joy Sahara Untung kenal dari orok, kalo nggak udah gua buang ke Afrika tuh sahabat sinting. - Alvian Jacka Swara
![Help! [Ongoing]](https://img.wattpad.com/cover/212909092-64-k543712.jpg)