3.6

30 10 0
                                        

Satu minggu kemudian.

Wonwoo baru saja bangun dari tidurnya, kaos putih dengan kemeja luar berwarna kuning muda, rambut yang berantakan, dan celana pendek yang sepertinya nyaman untuk dia pakai.

Ia berjalan menuju dapur untuk membuat secangkir kopi.

Hanya terdengar suara mesin kopi di apartemen sebesar itu.

Dia duduk di meja ruang makan itu sambil meminum kopinya.

Sunyi.

Setelah bersiap dia menggunakan mantel navy dan berjalan keluar untuk bekerja.

Tak ada sepatah kata yang keluar dari mulutnya.

Mingyu hari ini bertugas bersama Wonwoo, dan dia menatap Wonwoo dari kejauhan, saat memeriksa pasien dia tersenyum, namun setelah selesai memeriksa dia akan terdiam, seolah dia adalah robot.

Dia berubah setelah kembali dari Jeju, bahkan saat Sohee mengajaknya bertemu Wonwoo tidak menolak.

Dia seperti robot yang kehilangan pemiliknya.

Tak ada kalimat yang keluar dari bibirnya, bahkan hanya ada senyum yang di paksakan.

Mingyu mendesak Wonwoo untuk mengatakan sesuatu, namun berujung kalimat usiran dari Wonwoo.

'Pergi, aku sibuk.'

Mingyu mengetikan suatu pada seseorang.

©

Caibing berdiri melamun sambil memegang setumpuk bunga matahari yang seharusnya dia letakan pada vas bunga.

Sama hal nya dengan Wonwoo.. Caibing juga lebih banyak diam, dia juga tidak bicara pada Yujin setelah pulang dari Jeju.

"Yujin-ssi," Panggil seseorang yang masuk ke caffe itu.

Yujin mengangguk,
"Oh Kim Mingyu,"

Tunggu.. Sejak kapan mereka dekat? Bahkan mereka juga bertemu? Tidak. Mereka bertemu hanya untuk membahas robot mereka.

"Apa mereka benar-benar putus?" Tanya Yujin pada Mingyu,

"Aku rasa Caibing sudah tau soal Sohee.. Dia hamil."

Rasa ingin menghantam meja caffe itu sangat besar, beruntung Yujin bisa menahan kemarahanya itu.

Yujin mengusap keningnya.
"Aku sudah katakan dari awal, jangan dekati Caibing jika akan seperti ini jadinya."

"Wonwoo tidak salah, wanita gila itu yang terus mendekati Wonwoo."

Perbincangan berakhir dengan argumen.

"Perasaan Wonwoo pada Caibing itu tulus.. Percayalah,"

"Bagaimana aku bisa percaya?"

"Kau tidak melihat perjuanganya untuk mencari Caibing?"

"Tidak."

Mingyu merasa frustasi berbicara dengan Yujin, tapi dia berusaha menyakinkan Yujin jika Wonwoo orang yang baik.

"Wonwoo mengalami insomnia parah satu bulan terakhir ini, dia tidak masuk bekerja hampir satu minggu, dan saat aku bertanya dia ada di mana dia bilang dia ke Busan, dia mencari Caibing, dan kau tau? Dia tidak tidur selama satu minggu.. Dia bahkan mengalami gangguan kecemasan dan tidak merasakan kantuk sama sekali.. Sekarang dia harus menggunakan obat tidur agar tubuhnya bisa beristirahat."

Yujin tidak menjawab.

Dia bahkan mengelilingi sampai Busan?

"Dia merasa nyaman bersama Caibing, dia juga merasa bahagia, aku belum pernah melihatnya bahagia seperti itu dengan orang yang baru saja dia kenal.. Saat dia bilang jika dia menyukai Caibing aku juga tidak percaya.. Tapi itu memang kenyataanya." Jelas Mingyu.

"Jadi.. Apa yang harus kita lakukan? Kau bilang wanita itu hamil, Wonwoo juga tidak mungkin meninggalkan nya dan kembali bersama Caibing kan?"

Mingyu bungkam.

Apa yang harus mereka lakukan dengan Wonwoo dan Caibing yang berubah menjadi robot itu?

©

"Yeseo-ya, hari ini kau mau apa hm?" Tanya Sohee pada putrinya yang sekarang mereka duduk di dalam mobil Wonwoo.

"Vanilla milk shake.. Aku ingin itu ibu," Ucap Yeseo memainkan jari nya.

"Baiklah, ah Wonwoo-ya, kita mampir saja ke Flower Caffe ya,"

Itu adalah Caffe milik Caibing.

Wonwoo hanya fokus pada jalanan,
"Baiklah," Jawabnya singkat.

Mereka bertiga pun sampai di Flower Caffe, dan benar saja, Caibing sedang berada di meja kasir.

Sohee mendekat dengan menggandeng Yeseo di ikuti Wonwoo di belakangnya.

Caibing tau itu mereka, namun memilih berpura-pura tidak mengenal.

Setidaknya dia akan merasa mereka adalah orang asing.

"Ah, aku pesan vanilla milk shake,latte dan americano, benar kan Wonwoo?"

Wonwoo hanya mengangguk samar, matanya terus menatap ke arah Caibing.

"Totalnya-"

"Ah, biarkan calon suami ku yang membayarnya, aku akan cari tempat duduk," Ucap Sohee meninggalkan Wonwoo disana.

"Totalnya.. Sekian," Ucap Caibing tanpa melihat ke arah Wonwoo dan menyerahkan struk kopi nya.

Wonwoo menyerahkan kartu debitnya.

Bagaimana kabar mu? Kau terlihat baik-baik saja..

Caibing menyerahkan kembali kartu itu.

Wonwoo kembali duduk di depan Sohee, dan tak lama Caibing membawa pesanan mereka,
"Nikmati pesanan nya," Ia pun berbalik pergi, namun dia terus melangkah hingga berada di pintu tangga.

Caibing masuk ke tangga itu dan duduk disana, tanpa di minta, air matanya mengalir begitu saja..

Sakit? Ya sakit.. Tapi itu pilihan nya.. Dia yang meminta Wonwoo untuk pergi dan memilih wanita itu..
Dia juga yang merasakan sakit melihat mereka bersama..

Caibing menunduk, menyembunyikan wajahnya dan menangis..

Mungkinkah tidak ada orang yang tau?

Ada..

Ingin rasanya Wonwoo memeluk Caibing saat pria itu tau Caibing sedang menangis..

Wonwoo berdiri di pintu tangga itu, niatnya untuk menjawab panggilan Mingyu, namun dia melihat Caibing yang sedang terisak disana sendirian..

Wonwoo menutup pintu pelan dan pergi dari sana.

Maafkan aku..

Whisper Wind Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang