5.4

30 9 0
                                        

"jadi.. Wonwoo berencana menikah denganmu..?" tanya Yujin sambil menatap Caibing yang sedang merapikan meja di caffe.

Caibing mengangguk, Yujin tentu orang pertama yang tau bagaimana kehidupan Caibing di Beijing.. dan Yujin tau itu tidaklah mudah.

"apa yang harus aku jawab.. aku belum siap.." jawab Caibing dengan nada sedih.

"kalian saling mencintai.. jangan berpikiran buruk.. Wonwoo juga tidak akan melakukan hal buruk padamu," Yujin tersenyum.
"kau ingat kan bagaimana aku menampar Wonwoo di tempat umum? itu terjadi karena dia memperlakukanmu dengan buruk," Yujin merasa sangat kesal saat itu hingga menamparnya.

Caibing terdiam cukup lama, pernikahan itu tidaklah mudah.. ya dia tau, tapi jika hidup dengan orang yang di cintai itu akan mudah kan?

"Caibing, aku mendukungmu," Yujin tersenyum.
"aku ingin kau bahagia bersama pria yang kau cintai,"

"Yujin..." Caibing menatap Yujin seperti anak kucing yang terlantar.

"hei.. jangan memasang ekspresi itu," Yujin memeluk Caibing.

Jika Caibing menerima Wonwoo itu artinya tugas Yujin akan berakhir, yang akan membahagiakan Caibing adalah Wonwoo, bukan dirinya lagi.

©

Wonwoo memasuki sebuah toko perhiasan yang dia lewati.

Melihat beberapa cincin cantik yang ada di sana.

"ada yang bisa saya bantu tuan?" ucap seorang pegawai yang melihat Wonwoo.

"ah, aku mencari sebuah cincin," jawabnya.

"untuk kekasih anda?"

"ya,"

"kalau begitu saya akan tunjukan beberapa model yang belakangan ini sangat populer," ucap pegawai itu dengan ramah, menunjukan beberapa kotak dengan cincin cantik di dalamnya.

Tekad Wonwoo untuk menikahi Caibing sudah bulat.. dia akan berusaha menyakinkan Caibing bahwa dia benar-benar mencintai gadis itu.

Wonwoo melihat beberapa cincin yang cantik dan sepertinya cocok untuk Caibing.

"berikan aku yang ini," ia menunjuk pilihanya dan tersenyum.

"baik tuan,"

Tinggal.. bagaimana dia menyiapkan ini dengan kejutan manis?

Wonwoo terlihat gelisah dan memikirkan bagaimana dia menyerahkan benda kecil itu pada Caibing, dia ingin membuat kenangan manis dengan gadis itu saat melamarnya, beberapa kali dia berlatih namun beberapa kali juga dia malu sendiri.

Saat ia sedang berlatih seolah menyerahkan cincin itu, pintu terbuka dan munculah si tinggi besar Mingyu, dan teman jeniusnya Jihoon. Seketika Wonwoo langsung pura-pura olahraga.

"kenapa dia?" ucap Jihoon,

"aku tau kami yang melakukan operasi itu, kau tidak perlu memuja kami," Mingyu menepuk bahu Wonwoo.

"siapa yang memujamu? aku sedang peregangan," jawab Wonwoo mengelak.

"ya.. peregangan bagus untukmu pasca operasi," jawab Jihoon yang mengambil air dari dispenser.

Mereka sedang berada di ruang loker, dan hari ini adalah hari pertama Wonwoo bekerja setelah pemulihan.

Apa mereka melihatku dengan jelas tadi? aish.. mereka pasti akan menganggap itu sebagai lelucon dalam waktu lama..

Wonwoo memukul-mukul pipinya karena malu, dan itu disadari oleh Mingyu,
"kau ini kenapa?"

"hah? oh.. ah tidak apa-apa rahangku kram," jawab Wonwoo sambil keluar meninggalkan Jihoon dan Mingyu.

Setelah keluar dari ruangan tadi, kini dia berada di lorong vip, ia tersenyum kecil saat menatap kotak cincin yang kini ia pegang, bahkan dia memasukan cincin itu ke dalam saku jas dokternya.

Wonwoo terlihat mengetikan sesuatu di ponselnya,

To : Im Caibing

Mari kita bertemu setelah bekerja, aku menunggu dimana kita pertama bertemu.

Caibing yang sedang bekerja membaca pesan itu,
"Namsan?" ia tersenyum, namun hatinya juga berdebar..

Apakah.. Wonwoo akan mengatakanya hari ini? secepat ini?

Whisper Wind Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang