8.9 🌼

12 2 0
                                        

Wonwoo baru saja pulang dari rumah sakit, ia masuk ke kamar dan menemukan Caibing yang sudah terlelap dengan Minwoo di sampingnya.

Ia tersenyum dan mengusap pelan kepala istrinya.

Beberapa hari sebelum berangkat ke Beijing,
Caibing terlihat gusar dan hanya berjalan ke kanan dan ke kiri di ruang dapur, entah kenapa malam ini dia terbangun dan tidak bisa tidur lagi, padahal suaminya sudah terlelap 3 jam yang lalu.

Beijing.. dia merasa takut untuk kembali.. bagaimana dia bisa kabur dari dunia lamanya.. tapi untuk kembali lagi kesana? mana mungkin dia membiarkan Wonwoo pergi sendirian.. bagaimanapun juga dia istrinya dan harus ikut kemanapun suaminya pergi.

Trauma akan dirinya yang selalu di siksa dan dipukuli, bahkan hampir di jual kepada pria hidung belang, lalu melihat ibunya di siksa di depan matanya sendiri.

Dia juga tidak lagi mendengar kabar soal ibunya.. apakah ibunya masih hidup atau..

Yang terlintas di kepalanya hanyalah berharap bahwa ibunya masih hidup.

Namun, kenyataanya ibunya sudah meninggal. Semua yang ada di pikiran Caibing hanyalah halusinasi.

Dan kembali pada kenyataanya, Caibing tidak pernah kembali ke rumah lamanya, dia juga tidak bertemu dengan petugas kebersihan itu, dia juga tidak bertemu seseorang yang terlihat seperti ayahnya.

Itu semua hanyalah scenario dalam pikiranya.

Wonwoo membuka hasil pemeriksaan Caibing hari ini, dia tau bahwa istrinya bohong.. calon bayinya tidak baik-baik saja.. Skizofrenia, Caibing belum menyadari bahwa sesuatu terjadi pada dirinya.

"kau sudah pulang..?" lirih Caibing saat melihat Wonwoo duduk di sampingnya.

Wonwoo mengangguk,
"maaf, aku membuatmu terbangun,"

Caibing menggeleng,
"ah.. kau sudah makan malam? mau aku siapkan?,"

"tidak perlu.. aku sudah makan dengan Jun.."

"ya.. ini sudah malam kau pasti sudah makan malam,"

"kembalilah tidur.. aku akan mandi," ucap Wonwoo yang mengambil handuk lalu pergi untuk mandi.

Bukanya mandi, tapi ayah satu anak itu membiarkan shower menyala dan membasahi tubuhnya begitu saja, dia hanya diam dan melamun..

Ia membawa Caibing pada dokter psikiater kenalanya saat ia merasa Caibing terus saja terbangun tengah malam, dan saat ia pulang dari rumah sakit dia bilang bahwa dia pergi ke rumah lamanya, padahal ia juga gau bahwa rumah itu sudah di bongkar, saat dia pingsan di jalan, pria itu bilang bahwa Caibing berjalan seperti orang yang ketakutan. Dia memang salah.. membuat Caibing mengingat semua masa lalunya yang menyayat hati.

"apa kau akan membiarkan saudaramu menderita disana sendirian?" ucap Yujin sambil menggendong putri kecilnya, Soojin.

"aku tidak di tugaskan disana.. lagipula Wonwoo bilang dia bisa mengurusnya.." jawab Mingyu menghindari tatapan Yujin.

"bagaimana ini.. Caibing yang malang.. di saat seperti ini aku tidak ada di sampingnya.."

"jangan salahkan dirimu.. sesekali kau bisa menelpon ke panggilan rumah jika ponselnya selalu sibuk," Mingyu mengusap kepala Yujin, ibu satu anak itu terlalu sensitif jika mendengar kabar tidak baik dari sahabatnya.

Whisper Wind Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang