Hari Senin kembali bergulir. Aktivitas rutin memanggil Yumna dan Satya kembali ke dunia masing-masing. Yumna kembali disibukkan dengan kegiatan mengajarnya di sekolah, sementara Satya harus mengurus berbagai urusan bisnis.
Namun, di sela kesibukan itu, sebuah agenda rahasia telah direncanakan Satya.
Saat ini dia berada di sebuah kafe privat berdesain klasik yang tenang, Satya duduk dengan postur tegap, mengenakan kemeja rapi bernuansa gelap.
Di depannya telah tiba manajer pribadi Sasmita yang tak lain adalah Chandra. Dia menarik kursi di hadapan Satya, menghembuskan nafas berat sebelum memesan secangkir espresso pahit.
"Jadi, lo sengaja ngajak gue ketemu di tempat ini untuk tujuan apa?" buka Chandra selagi menatap manik mata Satya yang tajam.
Satya menyeruput pelan kopi hitam di cangkirnya, lalu menatap Chandra dengan sorot mata yang tenang namun menusuk. "Gue tau lo kesel di malam pertunjukan teater. Ternyata, Sasmita belum juga liat lo lebih dari manajer, ya?"
Chandra hanya diam, begitu menerima secangkir kopi. Ibu jarinya meraba tepian cangkir yang hangat. "Lo ngajak gue ketemu cuma untuk ini?"
"Sasmita gangguin Yumna."
Chandra mengalihkan pandangan dari cangkir ke Satya dengan tatapan dingin dan senyum tipis. "Bukannya lo terpaksa nikahin dia tanpa melibatkan perasaan? Kenapa jadi peduli?"
Chandra sangat tahu masa lalu Satya dan Sasmita hingga keterlibatan Yumna yang jadi pengantin pengganti. Satya bergeming. Alih-alih tersinggung, sudut bibirnya justru terangkat membentuk senyum tipis yang misterius.
"Hm. Awalnya gue nikahin dia tanpa cinta. Tapi status Yumna adalah menantu Bagaskara. Harga diri dia menentukan posisi dan kapasitas gue. Jadi siapapun yang ganggu dia, itu jadi urusan gue."
"Wow. Gue gak nyangka lo sejauh ini. Jatuh cinta apa sekedar peduli soal ahli waris? Emang apa yang dilakuin Sasmita? Dia nampar istri lo, hm? Kalau cuma masalah antar cewek, kita gak perlu ngotorin tangan buat ikut campur."
Satya melipat kedua tangannya di dada dengan gestur gagah dan berwibawa. "Gue agak bersimpati sama lo, Chandra. Kalian sampai melakukan hubungan lebih dari artis dan manajer, tapi Sasmita masih keliatan gak peduli soal apapun yang udah terjadi. Dia bahkan gak pernah ngelirik lo dengan perasaan. Sampai, perasaan cinta yang lo pendam bakal jadi bom waktu."
Rahang Chandra mengeras. Kalimat Satya menohok. Selama ini, ego Sasmita yang terlalu tinggi membuat Chandra selalu menuruti segala kemauannya.
"Apapun yang diperbuat Sasmita di sini, bukan urusan gue. Tugas gue cuma menghandle kerjaan dia di Jakarta. Kalau lo masih sering lihat Sasmita berkeliaran dan gangguin kalian, bukannya itu sepenuhnya urusan lo?" Chandra tampak apatis.
Satya terdiam menatapnya datar. Lalu membuang muka sejenak.
"Besok Sasmita ngajak gue ke pantai. Katanya dia pengen deeptalk. Gue gak tau apa yang bakal dia omongin. Yang pasti itu lebih dari ungkapan perasaan dia ke gue selama ini. Kalau lo penasaran. Cukup angkat telfon gue, tanpa ngomong apapun."
Chandra mengepalkan tangan di atas meja. Rasa cemburu dan sakit hati kembali bergemuruh di dadanya mendengar betapa obsesifnya Sasmita pada Satya.
***
Hari beranjak sore ketika jam kerja Satya selesai lebih cepat dari biasanya. Sesuai dengan rencananya, Satya menjemput Sasmita dan menuruti permintaan perempuan itu untuk pergi ke pantai. Satya bersikap sangat tenang, mengikuti setiap alur yang diinginkan Sasmita tanpa menunjukkan penolakan sedikit pun.
KAMU SEDANG MEMBACA
SHORT STORIES || YoonHun
FanfictionBukan oneshoot, satu judul bisa berisi beberapa chapter, genre suka-suka yang nulis ^^ » Baku » Semi baku Baca aja, barangkali suka :))
