5, Pesan Terakhir

28 3 0
                                        

DIA tahu, seluruh penduduk desa adalah keluarganya, yang akan selalu melindungi sesamanya. Namun, dia tetap berhati-hati. Negeri ini juga memelihara begitu banyak pengkhianat. Berjalan dan memutar, ada satu urusan lagi yang harus dia selesaikan. Hari memang masih gelap, tapi kehidupan tentu sudah ada di balik pintu-pintu rumah. Dia berusaha berjalan biasa saja. Sampai di suatu jendela, dia mengetuk pelan daunnya. Tak lama, jendela itu terbuka mengantarkan sesosok pemuda lain yang tidak kalah gagah dari Airlangga.

Mengetahui Airlangga berdiri di luar, gesit, dia melompati ambang jendela. Tak lama keduanya sudah berlari menuju tujuan yang sama.

Di tepi hutan, mereka semakin gesit dan leluasa menyelinap di antara perdu dan pohon. Sampai di bawah pohon angsana, Airlangga yang memimpin di depan menghentikan langkahnya.

"Dayana." Dia tentu tidak bisa melihat dengan jelas sosok yang dia panggil. Matahari masih sangat jauh di timur bumi sementara bulan sudah nyaris tenggelam di cakrawala barat. Dan rindang dedaunan membuat cahaya matahari sulit menembus ke dasar hutan.

"Ya."

Mereka sudah sangat saling mengenal, tanpa perlu cahaya sebenderang siang mereka bisa saling melihat menelisik.

"Aku akan pergi."

"Apa sudah waktunya?" Dia bergerak duduk bersila di tanah. Berusaha lebih santai menyikapi Airlangga.

"Aku tidak bisa menunggu terlalu lama." Dia ikut duduk di dekat sahabatnya.

"Kalau terlalu cepat, mereka akan mudah menghubungkan ulahmu dengan kematian Kakek."

"Aku tidak ingin niatku berubah."

Udayana menghela napas. "Justru itu yang sedang aku lakukan, Angga. Sebaiknya kamu batalkan niatmu. Masih ada cara lain untuk membalas dendam."

"Apa? Selama ini kita hanya bisa diam. Semakin kita diam kita semakin diinjak."

"Angga, bahkan Kanjeng Pangeran Diponegoro pun gagal. Apalagi kau. Siapa kau ini? Kau cuma rakyat jelata tanpa gelar tanpa pengikut." Perang besar itu baru tahun lalu berakhir, tanah Jawa masih berduka kehilangan pemimpin yang dibuang ke seberang pulau. Berharap pesonanya tidak bisa membangunkan macan tidur di Jawa.

"Tapi Kanjeng Pangeran sudah berusaha. Dan dia tidak gagal, Dayana. Dia berhasil menunjukkan pada penjajah bahwa kita bisa melawan ketika mereka semena-mena. Dia berhasil membuat rakyat bergerak. Dia berhasil membuat kita percaya bahwa kita bisa. Apa yang kau sebut gagal tidak akan terjadi jika Belanda berlaku adil. Dia tidak akan gagal kalau mereka tidak licik. Dia berhasil mengacak-ngacak mereka. Mengobarkan perang besar selama lima tahun." Meski mendesis, tapi keyakinannya terdengar jelas.

"Sampai saat ini pendukungnya masih menunggu titah kembali bertempur. Sawo kecik ditanam di depan rumah-rumah mereka. Cukup satu berita, semua berkobar lagi."

"Tapi siapa kamu, Angga...." Udayana menarik napas lelah. Setiap bertemu sahabatnya selalu saja dia ingatkan soal ini. "Kamu hanya akan menyerahkan nyawamu saja."

"Aku tidak bermaksud mengacak-ngacak pertahanan mereka seperti yang Kanjeng Pangeran lakukan. Aku tahu diri. Siapa aku? Aku hanya ingin mereka tahu bahwa mereka tidak bisa semena-mena di tanah kita. Bahwa akan selalu ada anak negeri yang akan melawan."

Udayana menarik napas masygul. Dia kenal sahabatnya seperti dia kenal dirinya sendiri. Tapi haruskah dia menyerah? Dia menyayangi sahabatnya. Dia tidak ingin kehilangan yang terbaik yang alam berikan untuknya.

"Apa yang akan kamu lakukan itu terlalu berisiko, Angga. Sadarlah."

"Dayana, bahkan Paman Tirta tidak berhasil mengubah keputusanku. Apalagi kamu."

3, Kala Cinta MenyapaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang