BERBARING di kasur, mereka terengah setelah sebuah percintaan maraton.
"Aku suka di rumah ini, Angga. Ada kasurnya. Rumah pohon yang kedua hanya kulit saja. Rumah pohon yang pertama malah tidak ada apa pun."
Terbahak, Airlangga menjawab. "Untuk apa kasur jika kau tidur di atasku seperti ini." Ells memang masih berada di atas tubuh telentang Airlangga, asyik bermain dengan dada keras Airlangga.
Jawaban yang dibalas dengan cubitan, yang dibalas lagi dengan kekehan.
"Tanganmu nakal, Sayang. Tangan nakal harus dihukum."
"Apa hukuman untuk tangan nakal?" Tangan Ells bergerak makin jauh dan makin menggoda, membuat Airlangga mendesah gelisah.
"Nanti kupikirkan." Dia tidak bisa berpikir di saat bibir Ells ikut bergabung bersama jemari nakalnya.
"Seandainya kau tidak membuatkanku sepatu, aku akan memaksamu untuk mengambil sepatuku," ujar Ells sambil terus menggoda Airlangga.
"Ambil saja. Rumah pohon itu di barat sana. Dekat dari sini." Airlangga semakin gelisah.
"Hhmm... aku membuatmu mengigau. Kita berjalan dua hari untuk sampai ke rumah ini dari rumah pohon berular itu." Ular yang membuatnya lupa mengambil sepatu dan bajunya.
"Tidak, Ells." Airlangga mengambil sebelah tangan Ells untuk menghentikan kenakalan tangan itu. "Rumah itu sungguh dekat." Tapi sebelah tangan Ells yang lain masih bebas dan terus menggodanya.
"Maksudmu?" tanya Ells keheranan.
Apakah dia sedang tak sadar atas apa yang dia ucapkan? Rumah yang dekat? Ini lebih dekat jika berarti dia sudah kembali dekat dengan puncak kenikmatan itu? Dia sungguh sedang tak sadar.
"Sebentar kuambilkan bajumu ke sana. Sekarang puaskan aku dulu." Berbalik, Airlangga bergerak cepat. Kepalanya yang berkabut tidak bisa diajak berpikir sementara tubuhnya tidak bisa diajak bekerja yang lain. Dia hanya ingin berenang bersama gadisnya. Menyelami sudut-sudut keindahan yang lain yang baru dia rasakan bersama gadisnya. Mencari celah dan ceruk di kebersamaan mereka. Sampai akhirnya mereka tersesat tapi tetap tak ingin pulang.
***
"Kau mau ke mana?" tanya Ells ketika melihat Airlangga memakai kainnya sementara dia masih ingin bersantai. Masih ingin menjernihkan pikirannya yang sekarang hanya terisi kebersamaan dengan Airlangga saja. Tapi dia menikmati kebersamaan itu. Seharian ini, mereka makin dekat benar-benar tak ada batas. Semua sekat sudah terlepas. Bahkan tirai di kedalaman tubuhnya pun sudah terbuka. Tidak ada lagi jarak.
"Apa memakai kain berarti aku akan pergi?" Airlangga balik bertanya.
"Sejak kita masuk rumah, kita tak berbeda dengan primata liar itu. Tak pernah berkain."
Airlangga terbahak keras. "Kau tunggulah sebentar. Aku akan mengambilkan baju dan sepatumu."
"Apa?" Ells langsung terduduk. Terkejut.
"Aku takkan lama." Airlangga sudah memegang sulur.
"Heyy.... Tunggu. Apa maksudmu?"
"Sudah kukatakan tadi, rumah itu sangat dekat."
"Kupikir kau tadi mengigau. Kau sudah sangat dekat ke puncak kenikmatanmu karena jemari nakalku."
Kembali, Airlangga terbahak. Untuk jawaban itu, untuk ketidakpercayaan Ells pada ucapannya ketika dia mendaki kenikmatannya. Ternyata, ucapannya tadi bermakna ambigu. Dan Ells menangkap maksud lain dari kalimat itu. Gadis itu terlalu naif. Atau dia kemarin terlalu licik? Suara tawa culas terdengar.
KAMU SEDANG MEMBACA
3, Kala Cinta Menyapa
Romance[Lereng Gunung Bromo, Hindia Belanda, 1831] . "Lalu untuk apa kau menculikku? Membawaku begitu jauh ke tengah hutan?" Diam. Senyap. Ells menunggu jawaban penculiknya. DIa benar-benar butuh jawaban itu untuk kemerdekaannya. "Ayahmu membunuh kakekku."...
