RUMAH pohon yang lain dari yang sebelumnya.
Itu kesimpulan Ells setelah turun dari punggung penculiknya dan matanya menyapu ruang kecil di depannya.
Rumah pohon kedua.
Rumah pohon ini sebesar rumah pohon yang kemarin.
Sebesar?
Lebih tepatnya sekecil.
Kembali, Ells duduk di sudut tanpa ada pilihan tempat lain.
Matahari sisa segaris di ufuk barat. Sinarnya sudah sangat tipis sampai ke bumi. Bahkan di ketinggian rumah pohon ini, cahayanya sisa redup temaram yang tidak bisa membuat mata jelas melihat.
Setelah memastikan di mana tawanannya duduk, Airlangga langsung bekerja. Dia harus menghadirkan cahaya di ruang mungil ini. Sepanjang Airlangga bekerja, Ells hanya duduk tanpa bentuk sambil memikirkan nasibnya. Dia cukup berbahagia ketika menyadari penculiknya sedang berusaha menyalakan pelita. Tidak bisa dia bayangkan nasibnya jika harus bergelap gulita di tengah hutan.
Malam pertama mungkin dia masih bisa bertahan. Dia dan kepolosannya hanya mengenal kata takut kerena dia diculik. Dia tidak menyadari potensi bahaya lain di hutan. Namun, setelah pertemuannya dengan ular dan harimau, dia sangat mencintai cahaya. Apa pun bentuknya. Dia harus melihat dan memindai sekelilingnya sebelum dia menutup mata dan dilarung mimpi.
Airlangga sudah berhasil menyalakan pelita. Cukup untuk Ells melihat kondisi rumah barunya. Dia duduk di atas kulit binatang. Terasa lembut dan nyaman. Ini lebih nyaman daripada duduk dan tidur di atas kayu yang diserut kasar. Ells bersandar nyaman. Tangannya mengelus lembut kulit yang dia duduki.
"Kulit apa ini?" tanyanya tanpa sadar.
"Rusa."
"Lembut sekali. Apa begini kelembuatan kulit asli rusa ketika dia hidup."
"Ya."
"Aku suka."
"Kau tidurlah. Aku turun sebentar."
Mendelik, dan langsung terduduk tegak, suaranya tercekat, "Kau mau ke mana?"
"Mengambil air. Apa kau tidak haus?" Airlangga memang selalu menyiapkan air di dekat mereka. Atau alam yang menyediakan air untuk mereka seperti malam pertama di hutan.
Kembali, Ells bimbang. Dia haus, tapi dia tidak berani sendirian.
"Kau aman di sini. Tidak ada harimau, tanpa ular. Aku hanya sebentar." Airlangga menunggu persetujuan tawanannya.
Ini bukan rumah yang kemarin. Artinya tidak ada ular di dahan pohon. Atau ada? Ular lain di pohon yang lain. Bagaimana dengan binatang lain? Kukuk burung hantu saja sudah menyeramkan jika terdengar tepat di samping dinding rumah. Ells bimbang dan ragu.
Tapi melihat dan mendengar suara penculiknya yang tidak lagi menjengkelkan, Ells merasa penculiknya berkata jujur bahwa rumah ini aman. Sambil menggigit bibir bawahnya, akhirnya Ells mengangguk. Memberanikan diri sendiri saja. Penculiknya benar, Ells lebih aman bersama penculiknya.
Ketika akhirnya Ells mengangguk lemah meski tetap meragu, Airlangga berdiri, mengambil tempat air yang tergantung di dinding di atas kepala tawanannya.
Ells hanya diam menatap punggung penculiknya yang menghilang di kegelapan malam. Kali ini, walau dia ditinggal sendiri, dia sama sekali tidak berpikir untuk melarikan diri. Oh, bukankah dia memang sudah menegaskan untuk pasrah saja? Saat ini makin tidak ada harapan Ells menjauh dari penculiknya. Dia akan tetap mengikuti penculiknya sampai penculiknya itu melepasnya dengan ikhlas. Entah kapan itu terjadi.
KAMU SEDANG MEMBACA
3, Kala Cinta Menyapa
Romantik[Lereng Gunung Bromo, Hindia Belanda, 1831] . "Lalu untuk apa kau menculikku? Membawaku begitu jauh ke tengah hutan?" Diam. Senyap. Ells menunggu jawaban penculiknya. DIa benar-benar butuh jawaban itu untuk kemerdekaannya. "Ayahmu membunuh kakekku."...
