89, Jaga Dirimu, Ells

21 3 0
                                        

"Astagaaa ..." sebuah suara terperangah mengejutkan Airlangga dan Ells.

Suara itu terkejut dengan pemandangan di depannya. Sesosok tubuh hancur penuh luka dengan punggung terkoyak sedang membungkuk melayani Ells yang rebah di ranjang. Dia baru saja mengganti baju Ells tanpa peduli dialah yang lebih perlu berganti pakaian. Kainnya sudah robek di sana sini.

Airlangga memang sedang mengurus Ells. Dia memaksa Ells untuk beristirahat. Tidak membiarkan Ells membersihkan tubuhnya, dia justru membantu Ells berganti pakaian. Total mengabaikan luka lebam dan menganga di tubuhnya.

"Om Karel." Ells menoleh ke arah suara.

"Inikah inlanders yang membuat gempar dunia?" Orang yang dipanggil Om Karel terperangah. "Apa yang terjadi dengan tubuhmu?" Dia bergidik ngeri.

"Om ... tolong obati Angga..." rengek Ells sambil berusaha bangun untuk duduk, tapi tangan Airlangga menahannya agar tetap berbaring.

"Saya baik-baik saja, tapi tolong periksa Ells sekarang. Dia sempat mengalami kontraksi tadi. Saya sangat mengkhawatirkan anak kami. Terima kasih."

Karel semakin terkejut. "Kau hamil, Ells?"

Matanya bercahaya bahagia, dia mengelus perutnya, di mana tangan Airlangga berada. "Ya, Om. Anak kami."

"Tuhan .... Kalian membuat Fred gila." Sambil menggeleng, Dokter Karel mendekati Ells, Airlangga bergerak memberi ruang pada sang dokter.

"Kalau begitu, nanti, setelah Om mengobati Angga, Om bisa mengobati Papa juga." Ells terbahak.

"Anak kalian baik-baik saja. Dan sekarang Om harus bekerja keras mengobati semua luka ini. Siapa yang melakukan ini padamu, Anak Muda?"

"Namanya Airlangga, Om." Ells merengut.

"Siapa, Airlangga?" Dokter Karel meralat. Menatap Airlangga tajam, menuntut jawaban.

"Bukan siapa-siapa. Ini hanya cara kami berkenalan saja."

Dokter Karel mendengus kesal. Sebagai dokter, dia sangat tidak terima ada tubuh hancur babak belur karena dipukuli, tapi mengingat apa yang pemuda ini—Airlangga—lakukan, dia bisa mengerti jika Fred marah besar.

Setelah bekerja keras dibantu oleh asistennya, dan ditemani oleh seringkali jeritan tertahan Ells, akhirnya tubuh Airlangga lebih layak disebut tubuh. Sepanjang dibersihkan, diobati, dijahit, diperban, Airlangga hanya diam. Tidak satu kali pun dia mengeluarkan suara kesakitan. Dia berusaha keras menahan itu semua.

Setelah semua anugrah yang aku terima, aku tak akan mengeluh untuk sakit seperti ini.

"Sudah." Dokter Karel menarik napas lega. "Kalian berdua beristirahatlah. Om akan kembali lusa untuk memeriksa kalian berdua."

"Bertiga," ralat Airlangga.

"Ya. Kalian bertiga." Dia tersenyum simpul.

Pemuda ini sangat protektif menjaga miliknya, bisik Karel dalam hati.

"Terima kasih, Dokter Karel," ujar Airlangga yang kembali dibalas senyum kecil oleh Dokter Karel.

Dokter dan asistennya pergi. Meninggalkan mereka berdua.

"Tidakkah kau sakit, Angga?" tanya Ells untuk ke-yang-tak-terhitung kalinya. Wajahnya masih sangat cemas.

"Aku baik-baik saja, Ells," jawab Airlangga sambil mengelus pipi Ells dengan punggung telunjuknya yang tak terbalut perban. "Tidurlah, Sayang."

"Kau sudah makan, Angga? Kau kurus sekali, Sayang." Ells membelai pipi Airlangga. Pipi itu tirus. Tulang pipinya menonjol tajam.

"Sudah."

3, Kala Cinta MenyapaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang