HARI masih pagi ketika Tirta duduk gelisah di depan rumah. Sudah beberapa hari tidak ada kabar dari kemenakannya. Balai-balai tempatnya duduk berderak-derak setiap kali dia bergerak kasar dan gelisah. Berkali-kali kepalanua menoleh ke arah hutan. Dia yakin, kemenakannya itu akan memulai aksinya dari sana.
Dari mana lagi? Hutan adalah nyawanya. Dia akan mati jika jauh dari hutan. Dia mengenali hutan itu seperti hutan itu mengenali dirinya dan memberikan semua yang dia butuhkan.
Airlangga, kemenakannya tersayang. Anak tunggal kakaknya yang sudah tidak ada. Hanya tersisa Airlangga dari trahnya. Dan sekarang, ayahnya pun sudah tidak ada. Siapa yang akan meneruskan tugasnya setelah dia tiada? Hanya ada Rindang, anak gadisnya yang Airlangga tolak. Mengingat itu, dia semakin masygul.
Suara langkah kaki memang tidak mengganggu gelisahnya, tapi suara langkah itu membuatnya berhenti melamun. Tak lama, suara itu sampai di sampingnya. Rindang datang membawa penganan pagi yang sederhana. Hanya teh panas dan ketela rebus.
"Silakan, Ayah." Penuh hormat, gadis itu meletakkan isi tangannya ke hadapan ayahnya.
"Terima kasih."
"Aku lihat Ayah sangat gelisah. Ada apa?" tanyanya langsung sambil duduk menyamping di depan ayahnya.
"Ayah belum mendapat kabar sama sekali dari Airlangga."
Mendengar nama itu, hati Rindang tercubit.Tanpa sadar dia menahan napas. Rasanya pada Airlangga memang tidak kuat, tapi siapalah gadis yang menolak dijodohkan dengan pemuda setampan dan segagah Airlangga. Sedikit rasa tak percaya diri hadir, ada alasan lain Airlangga menolak perjodohan ini selain rasa bersaudara yang sudah sangat kuat. Mungkinkah ada gadis lain?
Tanpa sadar, Rindang melamun. Semilir angin pagi makin membuat lamunannya berbentuk. Sosok sepupunya hadir utuh di imajinya.
"Apa ada kabar kau dengar dari luar, Nak?" Suara ayahnya membuat Rindang tersentak. Lamunannya menghilang, dia kembali berhadap-hadapan dengan ayahnya.
"Tidak ada, Ayah. Dua hari lalu aku ke pasar. Tidak ada cerita selain persiapan pesta ulang tahun anak gadis Meneer van Loen."
"Apa yang anak itu rencanakan?" tanya Tirta tanpa bermaksud bertanya. Dia hanya menyuarakan isi hati gelisahnya saja.
Anaknya pun tidak bisa menjawab. Airlangga begitu tertutup tentang rencananya demi menjaga keamanan keluarganya. Semakin sedikit yang tahu, semakin sedikit pula rencananya bocor. Dan yang sedikit itu artinya hanya dia yang tahu rencananya.
Matahari masih malu-malu mengintip di ufuk timur, tapi cahayanya cukup membuat wajah-wajah cemas itu terlihat satu sama lain. Keberadaan dua orang itu terlihat pejalan kaki yang melintas di depan rumah. Membuatnya membelokkan langkah dan masuk mendekati mereka. Rindang yang pertama sadar. Dia berdiri memberi tempatnya pada sang tamu.
Udayana.
Datang langsung memberi hormat pada Tirta.
"Saya lihat wajah-wajah kalian sangat tegang. Apa ada kabar dari Airlangga?" tanyanya cepat juga dalam nada cemas.
Tirta menarik napas panjang. Membuat suasana makin diliputi kesunyian.
"Pertanyaan itu berarti kau pun tidak punya kabar tentang Angga. Sama seperti kami."
Udayana mengembuskan napas. Entah dia harus merasa lega atau sesak.
"Menurutmu, apa yang akan Angga lakukan, Dayana?" tanya Tirta. Rindang terus berdiri di tempat semula. Memeluk ambang pintu.
"Yang terburuk adalah dia membunuh salah satu petinggi Belanda."
"Siapa kira-kira yang dia incar?"
"Ada banyak nama, tapi saya rasa, dia akan mengambil yang tertinggi di sini."
KAMU SEDANG MEMBACA
3, Kala Cinta Menyapa
Romance[Lereng Gunung Bromo, Hindia Belanda, 1831] . "Lalu untuk apa kau menculikku? Membawaku begitu jauh ke tengah hutan?" Diam. Senyap. Ells menunggu jawaban penculiknya. DIa benar-benar butuh jawaban itu untuk kemerdekaannya. "Ayahmu membunuh kakekku."...
