71, Patah Hati

15 2 0
                                        

DI tepi hutan Arilangga menunggu. Setia bersama matahari yang semakin tinggi lalu perlahan bergerak turun. Seandainya bisa, dia ingin terus di sini menunggu bersama matahari untuk memenuhi janji mereka. Seandainya bisa, dia ingin menahan matahari agar hari tidak berganti.

Namun ternyata tidak bisa. Tidak ada yang bisa menghentikan matahari yang semakin kelelahan. Seperti tidak ada yang mampu menghibur Airlangga. Semakin mendekati sore, Airlangga semakin gelisah. Dan ketika matahari hilang dari langit, harapan pun hilang dari dirinya.

Putus asa.

Hidupnya sehitam malam, segelap hitam. Semua yang dia khawatirkan benar terjadi. Semua yang membuatnya gelisah semakin membuatnya gelisah. Saat yang dia takutkan benar terjadi, tidak ada lagi penghiburan yang bisa dia lakukan untuk dirinya sendiri. Sendiri. Dia benar-benar merasa sendirian sekarang. Saat semua terjadi, saat Ells tidak ada lagi, saat itulah mimpi buruknya keluar menjadi kenyataan.

Patah hati ...

Setengah mati dia bertahan, berusaha tetap tegar ketika hatinya runtuh. Namun tak bisa. Tubuhnya melunglai bersandar lemah di batang pohon. Tenaganya hilang terkuras duka. Tubuhnya sakit terbebat kehilangan.

Dia memilih bertahan sampai dia merasa yakin, Ells benar tidak akan datang. Ketika bulan semakin tinggi, angin semakin menggigit, matahari sudah jauh pergi membawa cahaya dan panas, saat itulah dia yakin, Ells tidak akan datang. Dia memang yakin Ells tidak akan datang, tapi satu sisinya yang lain selalu menentang itu.

Ells akan datang.

Ells akan pulang.

Ells akan kembali.

Bagai mantra dia terus mengulang-ulang kalimat itu sambil berjalan melayang seperti hantu. Malam benderang dengan langit cerah dan purnama tersenyum ceria. Tapi Airlangga terus berjalan bagai hantu menerobos hutan mengabaikan kecantikan malam. Malam yang cantik yang kemarin dia nikmati bersama Ells di ruang kecil. Apa arti semua keindahan itu? Tidak ada lagi arti. Semua tak bermakna manakala hatinya sekosong ini.

Sekarang apa?

Bagaimana?

Ells di sana dan aku di sini. Terpisah jarak tak jauh, tapi dinding begitu tinggi dan tebal yang dipenuhi duri dan batu tajam bercadas. Bagaimana aku melewati dinding itu? Kenapa Ells tidak datang? Apa Ells berubah pikiran? Rumah ayahna begitu indah, tak sebanding dengan rumah pohon atau rumahnya di desa. Atau ... ayahnya tidak memberinya izin?

Airlangga terus berbincang dengan isi kepala dan rasa hatinya sendiri. Menelaah semua yang sudah mereka lewati. Kebersamaan ini, memang sangat singkat, tapi, tidakkah itu bermakna? Sampai hadir buah pengikat hati.

Mengingat kebersamaan mereka, Airlangga memutuskan bahwa alasan kedualah yang membuat mereka terpisah. Ells tidak akan berubah pikiran. Dinding tebal dan tinggi penuh duri itu berwujud seorang ayah.

Lalu, apa yang harus aku lakukan sekarang? Menculiknya untuk yang kedua kalinya? Lalu, apalagi? Di mana kami akan tinggal? Kalau kami harus melarikan diri, sangat mudah ayahnya melacak kami. Kami begitu berbeda. Ke mana kami pergi agar tidak ada orang yang peduli atas perbedaan kami?

Kenapa kami harus berbeda jika kami ditakdirkan bersatu? Bukankah akan lebih mudah jika tanpa perbedaan.

Seperti aku dan Rindang.

Tapi aku tidak mencintai Rindang seperti aku mencintai Ells. Aku tidak bisa mencintai Rindang seperti aku mencintai Ells. Bisakan cinta diatur? Sedangkan cinta datang karena takdirNya.

Airlangga memilih duduk bertopang dagu bermandikan cahaya bulan. Bahkan bulan yang menggantung indah tak mampu menghibur hatinya.

Dia gundah.

Kalau aku harus menunggu, sampai kapan? Bagaimana caranya mendapat kepastian jika bertemu saja kami tak bisa? Aku akan menunggu. Tidak ada pilihan lain. Sampai kapan pun, aku akan menunggu.

Ells tidak akan pergi dariku. Kalau restu bumi tidak kami dapat, kami akan pergi bersama mencari restu Langit.

***

Mata Ells sudah sangat bengkak ulah menangis sejak pagi. Sejak pagi, dia mengurung diri di kamar, menangis, dan menangis. Jika dia tidak mengandung, bisa dipastikan dia tidak akan makan. Nafsu makannya tertinggal di rumah pohon bersama cintanya.

Menangis dan panik.

Duduk di depan meja riasnya, menatap kosong ke arah jendela yang menyajikan gelapnya malam. Tangannya tak lepas membelai bekas tancapan pisau ulah Airlangga di meja rias. Sangat berharap Airlangga datang menculiknya kembali. Tapi penjagaan sangat ketat sekarang. Dia bisa melihat penjaga tak putus berkeliling rumah. Suara anjing pun tidak hanya berasal dari Binggo. Dia melihat paling tidak ada dua rottweiler ikut berjaga.

Jengah melihat penjaga yang hilir mudik di depan jendela, Ells menutup jendela itu, lalu membanting tubuh duduk kembali di depan meja rias. Kembali dia bertopang dagu dan tanpa sadar dia berkaca. Dia melihat pantulan dirinya di cermin.

Perlahan bayangan wajahnya yang sembab memudar berganti bayangan wajahnya yang lain ketika dia teringat bagaimana pertama kali mereka saling bertatap melalui bayangan di cermin itu. Wajah terkejutnya bertemu wajah datar Airlangga yang tiba-tiba muncul seperti hantu. Semua terulang seperti baru kemarin terjadi. Membuat rindu makin membuncah menyiksanya.

Angga, aku ingin melihatmu memelukku melalui cermin itu.

Perlahan bayangan itu hadir. Airlangga memeluknya dari belakang, meletakkan dagu di bahunya dengan tangan membelit tubuhnya. Dia melihat Airlangga tersenyum di sana. Senyum lembut yang menenangkan. Lalu bayangan itu bergerak menciumi wajah dan terus bergerak lebih ke bawah. Ells merasa hasratnya terbentuk.

Perlahan, dia melepas baju seakan Airlangga yang melakukan itu. Dia membiarkan jatuh bertumpuk di kaki, sampai akhirnya dirinya berdiri polos, menggigil kedinginan dan mendamba kehangatan. Tangannya bergerak mengelus dan menggoda dirinya. Dan segera, dia merasa hasratnya terbangun utuh.

Tiba-tiba dia merasakan kebutuhan yang lain akan kehadiran Airlangga. Mendesah, menyebut nama itu, Ells membaringkan tubuh dan mulai membelai dirinya. Berusaha mengikuti apa yang biasa Airlangga lakukan terhadap tubuhnya. Gairahnya terbentuk, semakin tinggi, semakin ke tepian. Samakin tinggi dan siap melayang.

Berdiri di tepian, berusaha untuk meloncat melayang tapi dia tidak bisa terbang. Awan itu begitu menggoda, tapi tak bisa tergapai.

Tapi hanya sampai di situ. Tidak bisa lebih. Ada yang menahannya untuk tetap menginjak bumi.

Ells terus menggoda, tapi semakin lama semakin frustrasi. Dia sudah sangat dekat, kakinya sudah setengah melayang, tapi tetap tak sampai tak tegapai ketika batinnya meranggas.

Semakin frustrasi, Ells mulai terisak. Mengingat begitu mudahnya Airlangga mengajaknya ke awan. Begitu mudah dan cepat. Tapi sekarang, sekian lama dia menggoda tubuhnya, dia tidak berhasil. Jiwanya makin merana, batinnya makin meranggas. Ada kerinduan yang menggelegak, ada keinginan yang bergejolak yang tidak bisa dia sempurnakan. Semua membuatnya semakin hampa, kekosongan yang mengerikan membuatnya berantakan tak berbentuk.

Patah hati ...

Sampai akhirnya dia menangis, memutuskan berhenti menggoda tubuhnya. Bergelung tak berbaju, Ells jatuh tertidur. Membiarkan dirinya menggigil kedinginan.

Dia semakin merindukan kehangatan Airlangga. Peluknya yang menghangatkan dan melindunginya. Belainya yang memuja dan mencintanya. Suaranya yang menenangkan dan menjaganya. Semua, semua tentang Airlangga menyakitinya sekarang.

Angga, kumerindukanmu....

***

Bersambung


3, Kala Cinta MenyapaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang