28, Rumah Pohon yang Lain

24 2 0
                                        

AKHIRNYA Airlangga berhenti. Malam telah datang, bulan sabit semakin menipis.

"Kita sampai," ujar Airlangga pada tawanannya. Baru kali ini dia berkata seperti itu. Ells, yang sudah terbiasa dengan diamnya, sedikit terkejut, tapi akhirnya mengangguk. Matanya menatap ke pohon trembesi dengan pokok yang besar dan daun yang rimbun. Di atas sana, di cabang utama pohon trembesi itu, berdiri sebuah rumah pohon, terlindung lebatnya daun.

Ini rumah pohon yang lain lagi. Entah ada berapa banyak rumah pohon di hutan. Ells tidak peduli.

"Aku akan mengantarmu naik. Lalu akan mencari makan malam kita."

Terbelalak, Ells berkata, "Mencari makan?"

"Kenapa? Apa kau tidak lapar?"

Bukankah tadi dia memetik buah tak begitu lama sehabis menghabiskan makan siangnya dengan lahap? Wajahnya pun sangat kuyu, wajah orang kelaparan..

"Kenapa tidak tadi di perjalanan kau mencari makan?" Suaranya seperti tercekik, Ells begitu panik dan ketakutan.

Bibir Airlangga membentuk senyum miring. "Kau lupa, tadi kau yang meminta segera ke rumah dan melarangku berburu."

"Tidak. Maksudku, kau seharusnya bisa berburu sambil berjalan pulang tanpa harus mengkhususkan diri berburu. Toh buruanmu ada di hutan yang sama."

Malas menjawab dengan apa yang tadi terlintas di pikirannya, Airlangga mencari alasan lain.

"Kita harus segera sampai di rumah sebelum terlalu gelap untukmu melangkah. Kau berjalan begitu lama, membuang waktu. Di sini pohon terlalu rapat, tak ada cahaya yang bisa menembus rimbunnya. Aku bergegas ke sini mengantarmu lalu aku bisa berburu."

"Tapi aku tidak mau sendirian selama kau mencari makan. Aku takut, ..."

Aku bahkan tidak tahu siapa nama penculiknya.

"Aku tidak akan mencari terlalu jauh. Kita sudah sampai di rumah. Kau tunggulah di rumah. Sebentar saja. Di sini aman." Suara Airlangga semakin lembut, berusaha menenangkan tawanannya.

"Mencari, membersihkan, menyiapkan, lalu membakar. Itu tidak mungkin sebentar." Entah menggerutu atau mencurahkan isi hati, membayangkannya saja membuat Ells bergidik. Itu terlalu lama.

Apakah untuk melakukan itu membutuhkan waktu yang lama? Menurutku tidak, pikir Airlangga dengan tatapan menerawang membayangkan dan kening berkeryit berkerut dalam.

"Tidak. Aku tidak begitu lapar."

Airlangga menyerah pada ketakutan seorang gadis yang kemarin bertemu ular dan harimau lalu tadi diserbu sekawanan kera. Baiklah, lebih baik gadis itu segera beristirahat di rumah. Sebenarnya dia tidak bermaksud berburu. Sudah terlalu gelap. Dia hanya akan mencari buah saja.

Airlangga bersiap naik ke rumah pohon, tangannya mulai menarik sulur. Tapi gerakannya terhenti.

Dia akan menunggu atau akan naik bersama? Aku harus diam atau bertanya atau menawarkan?

Dan terjawab ketika tawanannya melangkah maju, memeluk lehernya, kemudian melingkarkan kakinya di sekeliling pinggangnya.

Menahan napas, bahkan sepertinya Airlangga lupa bernapas. Membayangkan, jika saja gadis itu melingkari tubuh bagian depannya.

Oh Tuhan....

Tolong enyahkan bayangan apa pun tentang gadis itu dari kepalanya. Tubuhnya yang lelah ternyata masih bisa bereaksi dengan kedekatan mereka.

Dia mulai memanjat, mengabaikan kej*nt*nannya yang menggeliat. Dan ketika tumit gadis itu menyentuh kej*nt*nannya—yang sedang berusaha dia tidurkan, desahan lemah keluar tanpa bisa dia cegah.

3, Kala Cinta MenyapaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang