HAL buruk apalagi yang akan kualami? Kemarin, aku dikurung, hari ini aku dijodohkan.
Sepeninggalan van Loen, Ells hanya bisa menangis dan melamun. Dia semakin patah hati dan patah arang. Bahkan melihat hutan tidak membuatnya merindu, kini hutan membuatnya semakin merana. Ada yang tertinggal di hutan itu. Sesuatu yang baru hadir tapi bergitu bermakna. Begitu dalam mengisi hidupnya. Bayangan kebersamaan mereka tidak pernah hilang dari benaknya. Bayangan itu menghibur menemaninya tapi sekaligus membuatnya merindu menyakitinya.
Hari menjelang sore. Matahari semakin rendah, sinarnya semakin redup. Satu hari lagi berlalu bersama rindu. Entah besok akan seperti apa. Entah kabar buruk apalagi yang akan dia terima. Ells tidak ingin membayangkan hari esok ketika hari ini pun habis bersama duka.
Dia sedang duduk di depan jendela, melamun dengan air mata berlerai dan pandangan menerawang kosong ketika sebuah sosok mengganggu lamunan itu.
Robert.
Berdiri di luar, terhalang jendela. Lelaki itu memang berniat mengganggu lamunan Ells. Gadis ini masih secantik ketika pertama kali mereka bertemu. Gadis ini tentu jauh lebih berharga dari gadis desa inlanders itu. Gadis ini yang akan dia perjuangkan. Ah, itu hal mudah ketika ayahnya sudah merestui. Tidak perlu berjuang. Sudah cukup aksinya ketika Ells menghilang. Seulas senyum tipis membentuk di wajahnya.
Sosok yang tetap berdiri diam tak bersuara itu semakin mengganggu lamunan Ells.
Apa yang dia lakukan di situ? Apa sejak pagi dia tidak pulang? Apa yang dia kerjakan seharian di sini? Menemani Papa?
Mengingat van Loen sudah menerima lamaran Robert, air mata Ells kembali meluncur deras.
"Ells?" Berkali-kali Robert menyebut nama itu, tapi dia hanya berbicara dengan tembok dan angin.
"Ells," panggilnya lagi, kali ini dengan sentuhan ringan. Sentuhan yang menyadarkan Ells, bahwa dia di rumah.
"Ya?" Tergagap, Ells berusaha memperbaiki wajah.
"Maukah kau berjalan-jalan denganku?"
"Aku tidak boleh keluar dari pintu depan."
"Om Fred pasti mengizinkan jika aku yang meminta."
Ucapan yang justru lebih membuat Ells menderita. Dia akan memohon bersujud di kaki ayahnya jika itu bisa membuat dia pergi dari sini, tapi itu tidak berguna, van Loen begitu ketat sekarang. Sementara, lelaki ini bisa begitu mudah meminta hal yang sama pada ayahnya. Ironi.
Setitik harapan sebenarnya sempat muncul. Keluar bersama Robert, lalu menyelinap melarikan diri. Tapi ke mana? Apa mungkin Airlangga masih menunggu di tempat itu? Dia bisa menunggu di sana, tapi sampai kapan? Sampai kapan Airlangga akan keluar hutan? Dia tidak bisa bertahan hidup di hutan tanpa Airlangga meski cuma sehari.
Apa baiknya dia ke desa Airlangga saja? Bersembunyi di sana menunggu Airlangga. Di sana ada sahabatnya kan? Sahabat yang bisa dimintai tolong memanggil Airlangga atau mengantarnya menemui Airlangga di rumah pohon. Itu lebih masuk akal. Pemikiran itu membuat ada sedikit nyala kehidupan di hatinya. Dia nyaris mengiyakan ajakan Robert ketika pikirannya berkelana lagi.
Tapi seberapa lincah dia bisa mengelabui Robert dan anak buahnya? Banyak anak buahnya yang inlanders dan warga desa sekitar. Artinya mereka mengenal medan. Sementara dia, bahkan rumah yang menjadi tujuan pun dia tidak tahu di mana. Bahkan siapa yang dia tuju pun belum pernah dia temui. Dan dia tentu tidak bisa sembarang bertanya. Semua serba gelap. Dia tidak bisa bersembunyi di hutan pun di desa. Dia begitu mudah tersesat lalu tertangkap. Jika tertangkap, bisa dipastikan van Loen akan semakin ketat mengawasinya sementara desa Airlangga akan dihancurkan. Itu akan lebih menyakitkan. Bahkan membunuhnya. Mengingat itu, mengingat bagaimana kedekatan Airlangga dengan keluarganya, Ells hanya bisa menggenggam erat kalung Airlangga yang dia sembunyikan di balik kerah gaunnya.
"Ells?" Walau wajahnya muram, dia terlihat tetap cantik dan memesona di mata Robert.
Menggairahkan.
Mengingat itu, otak Robert mendidih.
B*ngs*t! Berhati-hatilah kau, Inlanders! Begitu kita bertemu, aku pastikan akan menyiksamu dengan semua jenis siksaan yang aku tahu! Jangan pernah mengaduh apalagi meminta ampun, tidak ada maaf bagimu!
Dia sangat yakin ada yang sudah terjadi yang sangat intim antara Ells dan inlanders keparat itu. Membayangkan itu, kepalanya lebih mendidih lagi.
"Ells..." ulangnya ketika Ells tak menjawab.
"Terima kasih. Tapi tidak."
Sudah tidak mungkin melarikan diri, harus bersama Robert pula. Untuk apa?
"Kenapa, Ells? Kau sudah berhari-hari selalu di kamar. Tidakkah kau bosan?"
"Tidak. Sekali lagi terima kasih."
Menarik napas jengkel, Robert membalas, "Baiklah." Berbalik pergi, tapi segera berhenti melangkah, "Besok aku akan kembali menemui Om Fred. Aku akan mengajak Papa ke sini untuk melamarmu secara resmi dan membicarakan pertunangan kita."
"Apa?" Mendengar itu, Ells lebih terkejut dan ketakutan daripada mendengar halilintar.
"Aku dan Papa akan datang besok melamarmu," ulang Robert.
Ells mendelik makin sempurna.
"Tidak, Robert. Tidak bisa. Tolong batalkan niatmu."
"Kenapa?" tanyanya menantang.
"Aku sudah menikah. Percayalah. Aku tidak bisa menikah lagi dengan siapa pun."
"Apa buktinya kau sudah menikah?"
"Ak ... ak ... aku...." Tergagap. "Percayalah, Robert."
"Om Fred tidak mengakui pernikahan kalian."
"Karena dia inladers. Cuma itu kesalahannya."
"Dia menculikmu, Ells. Dia menyiksamu."
"Tidak, Robert. Dia tidak menyiksaku. Dia merawatku lebih baik dari Papa yang hanya menyuruh Bi Imah merawatku. Dia merawarku dengan tangannya sendiri."
Robert makin mendidih.
"Siapa dia ini, Ells?" Mendesis dengan gigi rapat.
"Dia suamiku. Cukup itu saja yang perlu kau tahu. Aku tidak bisa menikah dengammu."
"Aku bisa karena aku sudah mendapat izin Om Fred. Dia tidak."
"Apa yang kau harap dari pernikahan itu, Robert? Sedangkan aku sudah menyerahkan segalanya pada suamiku."
Mata Robert makin menyala, tangannya terkepal erat di kedua sisi tubuhnya, rahangnya menegang kaku. Ucapan Ells benar-benar membuatnya meradang.
"Kami tetap akan datang besok. Tidak akan ada penolakan. Karena kau tidak pernah menikah dengan siapa pun. Apa pun yang sudah kalian lakukan, itu ilegal. Tunggu kami besok." Selesai mengatakan semua, Robert langsung membalik badan dan berlalu pergi dengan langkah cepat. Terlalu marah.
Ells ingin berteriak protes. Tapi Robert sudah berlalu. Kembali, Ells hanya bisa tergugu dan terisak.
"Siapkan kudaku!" Teriakan marah Robert masih terdengar di telinga Ells. Perintah yang membuat pelayan di istal terbirit bergerak. Dan tanpa menunggu lebih lama, Robert menaiki kudanya lalu berderap pergi. Meninggalkan debu-debu halus yang mengepul di depan jendela kamar Ells.
Jika inlanders itu bisa membuatmu seperti ini, aku pun pasti bisa membuat hatimu berpaling darinya. Robert mencambuk kuda lebih kuat, membuat kuda itu melonjak dan berlari semakin cepat.
Apakah itu cinta yang membuatnya merana seperti itu?
Apakah ini cinta yang membuatku marah seperti ini?
Robert tidak tahu. Ells pergi hanya beberapa bulan, tapi sempat ada gadis inlanders mengganggu benaknya. Mungkin ini ego. Terutama ego bangsawannya tak terima dikalahkan pemuda dari kelas sosial ketiga.
Adakah yang lebih hina lagi dari itu?
Dia mencambuk kudanya lebih kuat lagi. Mengalirkan marah dan ego yang terinjak.
***
Bersambung
KAMU SEDANG MEMBACA
3, Kala Cinta Menyapa
Romance[Lereng Gunung Bromo, Hindia Belanda, 1831] . "Lalu untuk apa kau menculikku? Membawaku begitu jauh ke tengah hutan?" Diam. Senyap. Ells menunggu jawaban penculiknya. DIa benar-benar butuh jawaban itu untuk kemerdekaannya. "Ayahmu membunuh kakekku."...
