PILIHAN ada di tanganku. Aku tidak mungkin memasung Ells hanya agar dia tidak menjalankan niatnya.
Terima inlanders ini, atau kau kehilangan putri tersayangmu, van Loen. Kalau kau pisahkan mereka, kapan pun itu kau akan berpisah dengan anakmu.
Dalam keraguan yang menemaninya, tangannya mencengkeram erat gagang arit yang sedari tadi dia genggam.
Pilihan ada di tangan yang menggenggam arit itu.
Lalu...
.
Sret
.
Tangannya bergerak menebas tali yang mengikat tangan Airlangga dalam satu tebasan.
Ikatan terlepas ...
"Urus putriku baik-baik. Jika dia menderita, arit ini akan langsung menebas batang lehermu." Membuang arit ke tumpukan rumput, dia berbalik pergi. Meninggalkan Airlangga dan Ells yang terperangah tak percaya.
Dan Robert yang sadar, langsung berlari menyusulnya.
"Om, apa maksudnya?"
"Maaf, Robert. Om tak akan sanggup hidup tanpa Ells. Jika menerima dia berarti Ells tetap hidup, Om memilih itu."
"Bagaimana dengan pertunangan kami? Om sudah menerima lamaran aku."
"Maaf, Nak. Kita akan bicarakan itu lagi nanti bersama ayahmu. Maaf. Om tidak sanggup hidup tanpa Ells. Cukup kemarin Om kehilangan dia."
"Om ..." Robert tetep mencecar van Loen. Percakapan itu berlangsung sambil mereka berjalan menjauh dari istal. Sisa percakapan terdengar sayup lalu menghilang, meninggalkan Ells dan Airlangga di istal berdua saja ketika semua anak buah van Loen membubarkan diri.
Terperangah, Airlangga melihat tangannya yang sudah tidak terikat lagi.
Apa ini artinya...?
Ells sudah menjawab pertanyaan itu. Dia menjatuhkan tubuhnya ke dada Airlangga.
"Angga, Papa merestui kita, Sayang...." Terisak, kali ini karena bahagia. "Ayo kita pulang, Angga."
Airlangga masih bersama keterkejutannya.
"Pulang?"
"Ke rumah kita, rumah pohon di tengah hutan."
Benarkah? Atau aku sudah ada di surga?
Dia melirik lagi pergelangan tangannya. Tidak ada lagi tali yang mengingat di sana. Tadi van Loen menebas tali itu, bukan lehernya.
"Ayo, Angga. Ayo kita pulang." Ells menarik tangan Airlangga. Tarikan yang membuat sengatan sakit dan nyeri kembali terasa. Namun sengatan itu yang menyadarkannya bahwa dia masih hidup di bumi bersama Ells.
Mereka masih bersama dan akan selalu bersama.
Tersenyum, Airlangga sudah kembali ke istal. "Tidak sekarang, Ells. Kau terlalu lelah dengan semua ini. Tidak juga ke desaku. Nanti."
"Lalu? Kita akan ke mana?"
"Kau kembalilah ke kamarmu. Istirahatlah di sana."
"Kau?"
"Aku akan menunggumu pulih di sini."
"Di sini?"
"Di sini."
"Tapi ini istal, Angga. Kandang kuda."
"Tak mengapa. Di mana pun, asal ada kau."
"Kalau begitu, aku di sini. Bersamamu." Dia melepaskan pelukannya, lalu menyingkirkan rumput yang menutupi lantai.
KAMU SEDANG MEMBACA
3, Kala Cinta Menyapa
Romansa[Lereng Gunung Bromo, Hindia Belanda, 1831] . "Lalu untuk apa kau menculikku? Membawaku begitu jauh ke tengah hutan?" Diam. Senyap. Ells menunggu jawaban penculiknya. DIa benar-benar butuh jawaban itu untuk kemerdekaannya. "Ayahmu membunuh kakekku."...
