DI tengah desa, desa yang lain, Rindang makin gelisah. Sudah beberapa hari dia di sana, tapi lebih sering menyendiri. Ini rumah pamannya, kakak ibunya. Lepas membantu pekerjaan Bibi, dia mencari-cari kesibukan di halaman rumah. Semalam tidurnya tak lelap, kepalanya sedikit pening. Di halaman, dia memilih sudut yang dilindungi tajuk pohon berkayu. Di sudut itu dia melamun sambil membersihkan rumput liar dan merapikan perdu.
"Rindang, apa yang kau lakukan di sana, Nak?" Suara bibinya mengganggu lamunannya.
"Tidak ada, Bi." Dia segera berdiri.
"Bisa kau mengantar makan siang pamanmu?"
"Tentu." Meski tubuhnya sedikit limbung, langkahnya ringan dengan senyum berjalan ke dalam rumah. Bibinya tersenyum. Sangat senang dengan kehadiran Rindang di rumahnya.
"Makanlah dulu sebelum pergi. Bibi lihat kau agak pucat, Nak."
"Baik, Bi."
Tak lama dia sudah berjalan sambil tangannya memeluk wadah makan siang pamannya. Siang yang terik terabaikan untuk mengalihkan perhatian. Dia berjalan santai. Sedikit makan pagi yang terlambat yang dia santap cukup membuat tubuhnya bugar. Sampai di ladang, dia melihat pamannya sedang duduk di dangau sambil mengipas wajah dengan caping. Melihat kemenakannya datang, lelaki itu tersenyum. Dia merapikan duduknya, bersiap makan. Ketika menyiapkan itulah dia melihat luka di kaki pamannya.
"Kenapa, Paman?" tanyanya sambil menyentuh bekas luka berdarah.
"Hanya tersandung, lalu terjatuh. Tidak masalah. Darahnya sudah tidak keluar lagi."
"Tapi ini ada memar dan bengkak. Lukanya pun masih terbuka."
"Tidak mengapa. Nanti juga sembuh."
"Aku akan buatkan obat untuk luka-luka itu."
Lelaki itu tersenyum. "Ah, iya. Kau pandai meracik obat. Kalau begitu, buatkanlah. Akan lebih baik jika diobati."
"Aku izin ke hutan, Paman."
"Hati-hati, Nak. Kau dititipkan di sini untuk Paman jaga."
"Sendiko, Paman. Aku akan berhati-hati."
"Jangan terlalu jauh masuk ke hutan. Obat itu tidak penting."
"Baik, Paman." Berpamit, Rindang langsung pergii.
Kali ini dia ke tepi hutan sisi yang lain yang memang lebih dekat dengan desa pamannya. Dia benar-benar hanya di tepi saja menuruti perintah pamannya. Tanaman yang dia butuhkan tersebar banyak di hutan sisi mana pun, apalagi dia memang menghindari sisi utama pencarian Airlangga.
Ah, nama itu lagi.
Rindang memang berusaha melupakan sosok itu, tapi rasa khawatir tetap tidak bisa hilang. Biar bagaimana pun mereka bersaudara. Sambil terus menekan rasa khawarirnya, dia berkali-kali melirik ke dalam hutan.
"Ehm."
Suara deham membuatnya tesentak. Tanpa sadar dia menoleh ke sumber suara. Wajahnya memucat mendapati satu sosok yang sangat tidak dia harapkan.
Robert.
Apa yang Tuan Muda ini lakukan di sini? Mencari Airlangga? Ini bukan sisi pencarian mereka. Ya Tuham, aku harus segera memberitahu Kakanda Udayana. Dan ... aku takut berdekatan berdua saja seperti ini.
Apa yang ada di kepalanya membuat wajahnya langsung pias. Terpaku mencari jalan melarikan diri.
"Apa yang kau lakukan di sini, Gadis Cantik?" Dia turun dari tunggangannya. "Tak elok seorang gadis sendirian di hutan? Apa kau bermaksud bertemu dengan tunanganmu?"
KAMU SEDANG MEMBACA
3, Kala Cinta Menyapa
Romance[Lereng Gunung Bromo, Hindia Belanda, 1831] . "Lalu untuk apa kau menculikku? Membawaku begitu jauh ke tengah hutan?" Diam. Senyap. Ells menunggu jawaban penculiknya. DIa benar-benar butuh jawaban itu untuk kemerdekaannya. "Ayahmu membunuh kakekku."...
