ELLS terbangun terisak. Dia merasa sedih yang tak tertahankan. Menangis sampai bahunya terguncang hebat. Benar-benar menangis terisak tersedu seperti anak kecil. Dia tidak bisa membiarkan van Loen bertindak seperti ini. Tubuhnya mungkin baik-baik saja. Tapi hatinya sudah tak berbentuk.
Mati.
Hancur lebur, remuk redam, luka parah, babak belur.
Jika beberapa hari kemarin dia sudah tidak bisa menangis, pagi ini, dia tidak bisa menghentikan tangisnya.
Aku akan memohon pada Papa. Jika Papa tetap pada pilihannya, jangan salahkan aku jika aku memilih pergi. Jika bumi tak menyatukan kita, kutunggu kau di langit sana. Maafkan aku jika aku pergi lebih dulu. Aku tak bisa membiarkan tubuhku dijamah lelaki lain, Angga.
Sakit, Angga. Sakit sekali.
Lebih sakit daripada sakit di tubuhnya yang semakin mendera. Sakit di sekujur tubuhnya semakin terasa. Sakit itu bahkan melemahkannya.
Terisak, dia teringat kebisuan Airlangga ketika mereka akan berpisah. Termasuk ketika Airlangga meragukan cintanya sebelum mereka memutuskan bersatu atas nama kasih.
Angga, buatkan aku jembatan pelangi itu. Aku siap menapakinya.
***
Hari masih pagi, bahkan matahari masih sangat di timur. Dengan muka sembab dan wajah basah air mata, Ells bergegas berdiri. Dia hanya menyambar jubah tidur untuk melapisi gaun tidurnya lalu setengah berlari ke kamar van Loen. Pintu kamar yang terbanting membuat pelayan-pelayan yang sudah sibuk terperanjat. Lebih terperanjat lagi ketika melihat penampakan Ells yang sangat kacau.
Dia menerobos kamar van Loen tanpa mengetuk. Kembali, suara bantingan pintu yang terdengar, kali ini membangunkan van Loen.
"Ells, ada apa, Nak?" van Loen terduduk di tengah ranjang. Jantungnya berderap melihat anaknya sekacau itu.
"Papa, aku mohon, Papa. Izinkan aku pergi." Dia duduk bersimpuh di lantai. Memohon yang sesungguhnya. "Aku tidak bisa seperti ini. Aku sakit, Papa."
"Papa akan panggilkan Om Karel."
"Tidak, Papa. Tidak. Tidak ada yang bisa mengobati sakitku kecuali dia. Aku tidak bisa menikah dengan lelaki lain. Jika Papa tidak merestui pernikahan kami, izinkan saja aku pergi."
Van Loen kehilangan kata bahkan untuk sekadar mengucap kata gila. Ells sudah lebih gila dari gila.
"Kau sakit, Ells. Kembalilah ke kamarmu. Nanti akan Papa panggilkan Om Karel. Dia pasti memiliki obat untuk menenangkanmu."
"Tidak, Papa. Ells tidak butuh obat. Ells butuh dia. Izinkan Ells pergi, Papa. Tidak akan ada yang Ells bawa selain kain yang Ells pakai ketika kembali."
Yang van Loen rasa adalah perpaduan sakit dan marah.
Anak gadisnya rela melepaskan semua termasuk ayahnya hanya demi lelaki inlanders itu.
"Kembali ke kamarmu, Ells. Dan jangan berharap Papa akan membiarkanmu pergi. Berani kau mencoba melewati batas gerbang, Papa akan mengurungmu di kamar. Benar-benar mengurungmu kalau perlu memasungmu."
"Papa...." Merintih.
"Kau sudah seperti orang gila. Sebelum merusak dirimu sendiri, lebih baik Papa perlakukan kau seperti orang gila. Memasungmu."
"PAPA!"
"APA?""
"Kenapa Papa kejam sekali. Apa salahku?"
"Kau masih tidak menyadari salahmu?" van Loen sudah berdiri berkacak pinggang di atas Ells.
"Aku hanya jatuh cinta, Papa. Apa itu salah?"
KAMU SEDANG MEMBACA
3, Kala Cinta Menyapa
Romance[Lereng Gunung Bromo, Hindia Belanda, 1831] . "Lalu untuk apa kau menculikku? Membawaku begitu jauh ke tengah hutan?" Diam. Senyap. Ells menunggu jawaban penculiknya. DIa benar-benar butuh jawaban itu untuk kemerdekaannya. "Ayahmu membunuh kakekku."...
