23, Hari Keempat

19 3 0
                                        

MATA Ells berkedip-kedip tak nyaman. Cahaya itu mengganggu tidurnya. Tidurnya yang paling nyenyak. Berusaha menghilangkan cahaya itu, Ells menggeser kepalanya. Dia mendengar suara degup yang ketukannya semakin cepat.

Suara apa itu? Ells berusaha mengingat. Mengumpulkan kembali nyawanya yang tercerai-berai tidur lelapnya. Dia bisa merasakan hembusan udara hangat di lehernya yang tertunduk.

Hhmm ... hembusan angin dari sela-sela dinding kayu.

Hangat.

Hangat?

Seharusnya dingin....

Dia masih ingin tidur. Berhasil menghindar dari cahaya, tidak mengacuhkan suara degub yang terdengar jelas di telinganya, dan melupakan angin yang bertiup hangat dari celah dinding. Dia meringkuk semakin dalam. Tangannya bergerak melingkari tubuh hangat di pelukannya.

Tubuh hangat? Di pelukannya? Tubuh hangat di pelukannyaaaa...???

Kesadarannya datang menghampiri cepat seperti kilat, menggelegar seperti guruh.

Itu tubuh penculiknya!

Mendadak dia menarik diri, bergerak secepat kilat.

.

DUG

.

BRUGH

.

DUG

.

BRAKK

.

Lupa bahwa dia berada di ruangan yang sangat sempit, dia bergerak menjauh sejauh mungkin sangat cepat. Begitu Ells menarik diri, mundur, di belakang kepalanya langsung menghantam dinding.

DUG!

Lalu tubuhnya menyusul jatuh terduduk.

BRUGH!

Dua gerakan mendadak itu, menjatuhkan tempat minum yang tergantung di atasnya, menimpa kepalanya.

DUG!

Dan tempat minum itu jatuh ke lantai.

BRAKK!

Lalu isinya tumpah membasahi kainnya.

Ells meringis, ingin menangis.

Sudah jatuh, tertimpa tangga, terperosok ke saluran air, dan dikejar anjing. Mungkin malah lebih cocok dikejar harimau.

"Apa yang kau lakukan, Mesum?" Muka Ells memerah padam. Marah dan malu. "Kenapa kau memelukku?"

"Aku? Memelukmu?" Airlangga mencibir mencebik.

Ells hanya mengedikkan dagu.

Apa namanya jika bukan memeluk kalau tanganmu melingkar di tubuhku!

Huh!

"Seingatku, kau yang melempar tubuhmu ke tubuhku. Semalam. Ketika langit sedang berpesta-pora." Airlangga kembali mencibir.

"Aku ketakutan! Suara guntur dan halilintar menggangguku." Ells berusaha menjelaskan.

Itu aku tahu. Airlangga mengedikkan bahu.

"Aku takut!" Ells membentak.

"Ya, aku tahu. Dan kau meringkuk di pelukanku, baru kau bisa tidur." Airlangga menegaskan kata 'pelukanku'. "Itu artinya kau yang mendatangiku. Bukan aku! Yang mendatangimu. Kau tidur meringkuk di ketiakku dan hanya bisa lelap jika aku peluk. Apa itu salahku? Kalau waktu bisa diulang, ulanglah. Ketika langit begitu gaduh aku rela turun berhujan-hujan di bawah pohon. Kau sendirianlah di sini. Itu maumu?"

3, Kala Cinta MenyapaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang